Ketika Jadi Pemimpin, Rumah Sayidina Utsman di Demo Pemberontak Selama 40 Hari

Ketika Jadi Pemimpin, Rumah Sayidina Utsman di Demo Pemberontak Selama 40 Hari

Utsman ibn Affan meminta para gubernur segera menghadap. Sebagai khalifah, ia berkepentingan untuk melerai aneka gejolak akibat banyaknya kabar bohong yang beredar.

Menerima surat panggilan dari pimpinan, datanglah Gubernur Syam Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, Gubernur Mesir Amr ibn al ‘Ash, Amir Maroko Abdullah ibn Saad ibn Abi Sarh, Amir Kufah Sa’id ibn al ‘Ash, dan Gubernur Bashrah Abdullah ibn Amir.

Mereka memberikan laporan serta saran. Sebagian mengatakan, para penyebar fitnah perlu dibandingi dengan sepenuh kekuatan. Sementara yang lainnya, menganggap fenomena itu sebagai dinamika politik semata.

"Gerakan itu dikompori kelompok minoritas.Insyaallah, tidak akan berdampak apa-apa," kata Muawiyah.

Khalifah Utsman sependapat. Meski fitnah sudah berhasil menghasut rakyat dan melahirkan maraknya gelombang unjuk rasa, ia lebih memilih untuk tetap menghadapinya dengan kepala dingin, tanpa kekerasan. Utsman memerintahkan agar para gubernur mendengar dan berusaha memenuhi tuntutan demonstran yang masih dinilai wajar dan masuk akal.
Sayangnya, pendekatan penuh kesabaran ala Ustman itu tak mampu membendung cepatnya persebaran fitnah hingga berujung gerakan makar.

Di Mesir, pengunjuk rasa menuduh kepemimpinan Utsman sarat korupsi, nepotisme, dan menyalahi aturan kepemimpinan dalam Islam. Telusur demi telusur, ternyata isu miring itu bermula dari Abdullah ibn Saba. Pria yang berislam baru belakangan itu bahkan pernah mengatakan, Rasulullah Muhammad saw. sebenarnya mewasiatkan kepemimpinan Islam kepada Ali ibn Abi Thalib, bukan Utsman.

Berita-berita hoaks sarat adu domba itu akhirnya menembus ibu kota, Madinah. Gelombang demonstrasi pun berubah menjadi aksi pengepungan rumah Utsman hingga 40 hari lamanya. Oleh para pemberontak, Utsman diultimatum memilih dua perkara; melepaskan jabatan sebagai khalifah atau mati.

Ustman berusaha tetap tenang. Di dalam rumah, ia hanya mengisi kesehariannya dengan mendaras Alquran dan berpuasa di waktu siang. Tak ada yang diizinkan datang menemui, kecuali Abu Hurairah, itupun sekadar untuk membangunkan Utsman di kala waktu sahur tiba.

"Wahai Amir al Mukminin, semoga Allah merahmatimu. Bangun dan makan sahurlah," bisik Abu Hurairah, suatu pagi.

Khalifah Utsman terbangun, dengan sedikit murung ia berucap: "Subhanallah, wahai Abu Hurairah. Rupanya engkau telah memotong mimpiku. Di dalam mimpi aku bertemu Rasulullah saw."

Utsman menangis, ia menirukan ucapan Nabi dalam mimpi, "Besok, engkau akan berbuka puasa bersama kami."

Keesokan harinya, tersiar kabar khalifah Utsman terbunuh. Beberapa pemberontak memaksa masuk ke dalam rumah dan menusuknya dari belakang. Utsman syahid, komitmennya melawan makar tanpa kekerasan dan memakan banyak korban; berhasil dipertahankan.


Sumber: Disarikan dari Al Bidayah wan Nihayah karya Al Hafiz Ibn Katsir dan Tarikh ar Rusul wa al Muluk karangan Ibn Jarir ath-Thabari. via medcom.id

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar

close
Ardha Kids