Kebiasaan Nabi Muhammad saat Bulan Ramadhan

Kebiasaan Nabi Muhammad saat Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan merupakan bulan kesembilan dari kalender Hijriyah. Bulan ini menjadi bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Di bulan inilah, umat Islam diseluruh dunia diwajibkan untuk berpuasa selama satu bulan penuh. Di bulan ini pula mereka berlomba-lomba –pagi, siang, dan malam- mengerjakan ibadah dan amal kebaikan seperti shalat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, ngaji, umrah, memberikan santunan kepada fakir-miskin, dan lainnya.

Hal itu tidak mengherankan mengingat bulan Ramadhan adalah bulan dimana amal ibadah dilipatgandakan, pintu kebaikan dibuka seluas-luasnya, dosa-dosa diampuni, dan doa-doa diijabahi. Oleh karena itu umat Islam tidak rela kalau melewatkan bulan Ramadhan begitu saja, tanpa diisi dengan amal ibadah sebanyak-banyaknya.

Lantas bagaimana dengan kebiasaan Nabi Muhammad selama bulan Ramadhan? Apa saja yang dilakukan beliau saat bulan bulan Ramadhan?

Nabi Muhammad berpuasa sembilan kali Ramadhan sepanjang hayatnya: delapan kali berpuasa selama 29 hari dan sekali berpuasa selama 30 hari. Dalam sistem kalender Hijriyah –yang dipakai umat Islam- setiap bulannya itu 29 hari dan terkadang 30 hari, tidak sampai 31 hari sebagaimana sistem kalender Masehi.

Nabi Muhammad sangat memuliakan, merindukan, mengenang, dan mengistimewakan bulan Ramadhan. Beliau mengerjakan hal-hal positif dan amal ibadah saat bulan Ramadhan, baik sebelum ataupun setelah beliau diangkat menjadi Rasul. Merujuk buku Puasa pada Umat-umat Dulu dan Sekarang (Sismono, 2010), Nabi Muhammad berkhalwat (memencilkan diri) atau bertahannus (mengheningkan pikiran) di Gua Hira ketika bulan Ramadhan tiba. Dengan bekal roti kering, kurma, dan air yang disiapkan istrinya, Sayyidah Khadijah, beliau berada di Gua Hira sebulan penuh dan baru pulang ke rumah setelah bulan Ramadhan habis.

Beliau bermunajat, bertaqarrub, dan bermujahadah kepada Tuhan. Nabi Muhammad melakukan itu beberapa kali setiap bulan Ramadhan tiba sampai benar-benar dirasakan terbukanya hijab bagi hati dan pikirannya. Hingga suatu saat, Malaikat Jibril mendatangi dan memberinya wahyu dari Allah, Tuhan sekalian alam. Dan sejak saat itu, Nabi Muhammad dikukuhkan menjadi Rasul Allah.

Sementara ketika sudah menjadi nabi dan rasul, Nabi Muhammad lebih giat lagi mengerjakan ibadah, baik yang bersifat personal ataupun sosial. Diantaranya tadarus Al-Qur’an. Selama bulan Ramadhan, Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad setiap malamnya. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Beliau selalu mentadaruskan Al-Qur’an di hadapan Jibril setiap malam bulan Ramadhan.

Kegiatan tadarus bersama itu baru berhenti ketika Nabi Muhammad melaksanakan i’tikaf terakhir di Masjid Nabawi. Pada saat itu, Nabi Muhammad menyampaikan kepada putrinya bahwa Malaikat Jibril tidak akan datang lagi pada bulan Ramadhan berikutnya. Itu menjadi isyarat bahwa tahun depan Nabi Muhammad tidak akan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan. Dan benar, pada tahun itu Nabi Muhammad wafat setelah musim haji selesai.

Sebagaimana satu riwayat, puasa dan Al-Qur’an yang dibaca pada malam Ramadhan akan memberikan syafaat kepada orang yang mengerjakannya kelak pada hari kiamat.

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: “Ya Rabbi, aku mencegahnya dari makan dan minum di siang hari”, ِAl-Qur’an juga berkata: “Aku mencegahnya dari tidur dimalam hari, maka kami mohon syafaat buat dia.” Beliau bersabda: “Maka keduanya dibolehkan memberi syafaat.” (HR. Ahmad)

Ibadah lainnya yang digiatkan Nabi Muhammad selama bulan Ramadhan adalah bersedekah kepada sesama. Dalam satu hadits riwayat Tirmidzi, Nabi Muhammad menegaskan bahwa sedekah yang paling baik adalah sedekah pada bulan Ramadhan. Selain itu, Nabi Muhammad mengatakan kalau siapapun yang memberi makan orang yang sedang berpuasa maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa.

Di samping itu, Nabi Muhammad juga menggiatkan ibadah umrah pada bulan Ramadhan. Beliau menekankan bahwa pahala umrah pada bulan Ramadhan itu sama seperti pahala haji. (A Muchlishon Rochmat/NU Online)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar