Ajak Revolusi, Politikus Senior Partai Gerindra Dipolisikan

Ajak Revolusi, Politikus Senior Partai Gerindra Dipolisikan

Politikus Partai Gerindra, Permadi, diadukan ke polisi gegara ucapan soal revolusi. Apa yang disampaikan Permadi?

Pernyataan Permadi soal revolusi terekam dalam bentuk video yang diunggah beberapa akun YouTube. Dilihat detikcom, Jumat (10/5/2019), Permadi berbicara tentang revolusi dalam satu ruangan yang dihadiri sejumlah orang.

Permadi awalnya mengutip pernyataan Presiden Soekarno soal perjuangan melawan penjajah. Permadi lantas berbicara soal masalah-masalah di Indonesia yang menurutnya tidak bisa diselesaikan lewat konstitusi.

"Sekarang ini saya katakan, Tuhan sedang menyaring manusia Indonesia seperti gabah den interi. Mana yang ikut angkara murka, mana yang ikut budi luhur. Sesudah terkristalisasi, pasti akan bertemu, bertempur, korbannya sangat-sangat banyak. Tadi saya katakan, apa yang dikemukakan oleh Bapak seluruhnya benar, tetapi tidak bisa diselesaikan dengan perundingan, dengan konstitusi, dengan apa pun, kecuali dengan revolusi," demikian ucapan Permadi dalam video itu. Di momen ini, hadirin yang bersama Permadi bertepuk tangan.

Permadi sendiri telah dilaporkan seorang pengacara, Fajri Safi'i, ke Polda Metro Jaya, setelah video tentang revolusi beredar di media sosial. Saat membuat laporan atas Permadi, Fajri melampirkan video yang tersebar di media sosial itu sebagai alat bukti. Namun Fajri mengatakan polisi ternyata sudah membuat laporan model A. Laporan model A adalah laporan polisi yang dibuat oleh anggota Polri yang mengalami, mengetahui, atau menemukan langsung peristiwa yang terjadi.

Pengurus Partai Gerindra meminta polisi memberikan keadilan dalam proses hukum Permadi. Anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra Andre Rosiade berharap laporan Permadi tak terindikasi sebagai upaya menciutkan nyali pro-Prabowo Subianto.

Terlepas dari harapan Andre, video Permadi berbicara revolusi kini tengah ditindaklanjuti polisi. Berikut ini video Permadi berdurasi 8 menit 13 detik soal revolusi yang bikin dia berurusan dengan polisi:

Bung Karno juga berpesan, perjuanganku lebih ringan dari perjuangan kalian kelak karena perjuanganku melawan nekolim yang jelas-jelas penjajah. Kulitnya putih, bahasanya Belanda dan lain sebagainya. Tapi yang akan kamu hadapi nanti adalah bangsamu yang akan menjajah sendiri dan akan lebih kejam dari nekolim, dan ternyata benar.

Saya ingin mengingatkan bahwa kita sudah siap, sebagian rakyat sudah siap. Tapi saya ingatkan, musuh kita juga sudah siap! Siap mati mereka. Karena apa? Karena jenderal-jenderal yang mendukung Jokowi, kalau sampai Jokowi kalah, semua akan masuk penjara atau dihukum mati. Jadi mereka dengan mengorbankan rakyat akan terus mengganggu kita. 

Sekarang ini saya katakan, Tuhan sedang menyaring manusia Indonesia seperti gabah den interi, mana yang ikut ankara murka, mana yang ikut budi luhur. Sesudah terkristalisasi, pasti akan bertemu, bertempur, korbannya sangat-sangat banyak. Tadi saya katakan, apa yang dikemukakan oleh Bapak seluruhnya benar, tetapi tidak bisa diselesaikan dengan perundingan, dengan konstitusi, dengan apa pun, kecuali dengan revolusi. Karena itu, korban pasti besar, kita harus satu pendapat. 

Ada pendapat yang ingin mengikuti konstitusi, tetapi saya ingin ubah pendapat itu. Sudah saya katakan, tanpa revolusi kita tidak akan menyelesaikan masalah di Indonesia ini. Masalah Indonesia ini bukan Jokowi, bukan Luhut, bukan Megawati, tetapi di belakangnya, China, dengan 2 miliar penduduk yang siap menyerbu Indonesia.

Kalau saja Undang-Undang Dasar yang dibuat oleh Megawati dan Amien Rais yang mengamandemen tidak diubah kembali ke Undang-Undang Dasar asli, sebentar lagi presiden kita China. Dan kalau presiden kita China, separuh menterinya China yang penting-penting, kita cuma kebagian menteri perempuan, menteri apa yang tidak penting-penting. Dan kita dalam 10 tahun akan menjadi bangsa terjajah seperti Aborigin di Australia, seperti Indian di Amerika.

Karena itu, tidak ada jalan lain kecuali revolusi dan jangan menghitung korban. Korban pasti besar. Joyoboyo mengatakan wong jowo kari separo, cino kari sejodo. Itu korbannya. Kalau kita tidak berani korban, mundur saja, jadi bangsa terjajah, menjadi Aborigin di negeri sendiri. Sangat-sangat parah, tetapi itu adalah kehendak Tuhan. Tuhan akan memenangkan budi luhur karena tentara Allah akan berada di pihak kita dan Tuhan akan membantu kita dengan bencana yang maha dahsyat yang belum pernah terjadi di dunia ini untuk menghancurkan ankara murka.

Sekarang Tuhan sedang memberikan peringatan-peringatan tetapi yang diperingati tidak menjadi sadar, malah menjadi beringas, malah menjadi pembunuh, malah menjadi segala macam kejahatan dan kezaliman. Dan kalau kita tidak mau berkorban, takut berkorban hanya karena mengikuti konstitusi, kita akan menjadi korban mereka yang tidak mau menaati konstitusi, mereka punya jalan sendiri. Dan minta maaf kepada Bapak pengacara, Anda bertindak sesuai dengan hukum, buat mereka tidak ada hukum kok, buat mereka kekuasaan yang berlaku. Mereka memang ada hukum yang mengatakan hak rakyat untuk mengemukakan pendapat dan pikiran baik lisan maupun (ucapan tidak terdengar jelas), mereka tidak peduli. Rakyat mau mengeluarkan, tangkap. Mau apa?

Mereka tidak (ucapan tidak terdengar jelas) pada hukum, percuma membela, percuma. Membela kayak apa pun Ahmad Dhani pasti dihukum, membela kayak apa pun Ratna Sarumpaet pasti dihukum, membela kayak apa pun pasti aktivis-aktivis yang ditangkap ada yang dihukum. Karena itu, tidak ada kata lain selain lawan mereka!

Kepada mahasiswa, saya anjurkan, namamu sudah buruk, beberapa tahun ini namamu hancur! Karena kakak kakakmu telah terbeli, telah diajak keliling Eropa, dikasih duit, dikasih (ucapan tidak terdengar jelas), menjadi sekretaris BUMN, BUMD, dan lain sebagainya. Mahasiswa diam, tidak ada suara, membiarkan rakyat tertindas, membiarkan rakyat miskin, membiarkan rakyat dizalimi. Kalau memang kalian mahsiswa-mahasiswa yang punya hati nurani, bangkit, bangkit kembali, ajak teman-temanmu, biarkan pengurus mahasiswa kaya raya dan menjadi zalim, tetapi masih banyak yang lain masih mempunyai hati nurani. Ajak mereka untuk bergerak, jangan takut karena Tuhan di belakang kita.

Oleh karena itu, tidak ada kata lain, kita tidak punya waktu lagi. Apa yang dikatakan ibu ini, bapak-bapak, tidak ada lagi, tidak ada waktu lagi. Begitu tanggal 22 diumumkan, pasti terjadi benturan, apakah memenangkan Jokowi atau memenangkan Prabowo, sama, pasti akan benturan, karena mereka juga siap, siap untuk mati, kita pun siap untuk mati.

Para ulama, para habib, sudah menyarankan kita jihad. Habib Rizieq saudara saya, sahabat saya, sudah menyuarakan kita jihad. Ketua MUI, ulama-ulama, banyak yang membela mereka, juga siap berjihad. Karena itu, pasti kita benturan, tidak ada konstitusi. Yang terjadi adalah hukum siapa kuat, siapa menang. Terima kasih.

Video:

Sumber: detik.com

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar