Subhanallah! Prasasti Harlah NU di Masjid Menara Kudus

Subhanallah! Prasasti Harlah NU di Masjid Menara Kudus

"Prasasti Harlah NU di Masjid Menara Kudus"

ماتت البدعة بقيام حجة لأهل السنية

Tulisan ini terpampang di masjid Menara Kudus, persis di depan gapura bagian dalam. Arti bebasnya, "pembida'ahan telah mati seiring dengan kokohnya hujjah bagi golongan ahlussunnah."

Ini bukan sekedar sebaris kalimat biasa. Ada cerita hingga kalimat ini begitu berarti sehingga perlu menjadi salah satu bagian utama masjid yang didirikan Sunan Kudus ini.

Satu riwayat menyebut, di Kudus dahulu datang seorang ahli islam beraliran wahabi. Dengan kepandaian berbicara dan berretorika, dia memutar balik dalil Quran dan Hadits. Membid'ahkan segala bentuk perilaku yang telah kadung jadi tradisi muslim lokal.

Yang menjadi fokus pembahasan, mereka menolak berbagai warisan keislaman nusantara yang diwariskan  para wali. Di antaranya, tentu saja tradisi ziarah, tahlil, selametan dan berbagai budaya lokal yang telah diislamisasi dengan susah payah oleh para panatagama Demak. Para panatagama itu ya mereka yang kita kenal sebagai wali sembilan.

KH Raden Asnawi, yang baru saja pulang dari pembelajarannya di Mekah merasa gerah dengan kegiatan kaum wahabi ini.

Dicarinya orang tersebut dan diajak berduel. Tentu, duel yang dimaksud adalah duel keilmuan. Sebuah tradisi keislaman yang telah turun temurun semenjak dahulu.

Singkat cerita, orang dimaksud bersedia meladeni debat terbuka. Tempat dilaksanakan di Masjid Menara dengan disaksikan banyak orang secara terbuka.

Tantangan diimbuhi imbalan penghalalan darah bagi yang kalah. Kiai Asnawi dengan gembira menerima tantangan tersebut.

Sidang debat dimulai. Kiai Asnawi mempersilahkan lawannya untuk berbicara dahulu. Kiai yang kemudian beristri janda KH Nawawi Banten ini kemudian menjawab dengan lancar apa yang menjadi titik tekan persoalan. Demikian seterusnya. Setiap dalil dengan mudah dipatahkan oleh Kiai Asnawi.

Setelah sekian lama berdebat dan saling bertukar dalil, sang lawan debat terlihat kewalahan. Hingga pada saat terakhir, sebelum sesi berakhir sang lawan lari tunggang langgang dari arena debat.

Orang ramai mengejar. Dikisahkan, pengejaran hingga ke pesisir pantai. Sementara itu, Kiai Asnawi masih tenang di tempatnya. Beliau berhasil memenangkan debat. Kemenangan ini disambut luar biasa oleh umat, khususnya masyarakat Kudus saat itu.

***

Memang, pada tahun-tahun itu, banyak sekali gerakan pembaruan Islam yang dengan keras menyuarakan pelarangan amaliah kaum Sunni lokal. Tidak saja di Kudus tapi menyebar di beberapa wilayah Nusantara.

Para Kiai, utamanya di Pulau Jawa, merasa gerah dengan gerakan ini. Hingga pada tahun tersebut terjadi rembugan yang melibatkan para Kiai Sepuh yang selama ini hanya terjalin lewat komunikasi silaturahmi pribadi saja. Rembugan itu menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan organisasi nasional berbasis umat yang hingga kini dikenal sebagai Nahdhatul Ulama.

Tepat pada 16 Rajab 1344, atau 31 Januari 1926, di kota Surabaya diresmikanlah organisasi itu. Kiai Asnawi Kudus termasuk salah satu Kiai yang diajak urun rembug oleh KH Hasyim Asy'ari.

Oleh KH Ahmad Kamal, ulama yang juga salah satu saudagar sukses asal Kudus, dua peristiwa besar di tahun tersebut (debat terbuka di Masjid Menara dan Berdirinya organisasi NU) diabadikan dalam bentuk kaligrafi indah di atas kayu yang berbunyi

ماتت البدعة بقيام حجة لأهل السنية

Ukiran itu masih bisa dilihat di masjid menara sampai sekarang.

Bila dihitung menggunakan hitungan 'abajadun', seluruhan kalimat kaligrafi di atas menyatakan jumlah yang sama dengan tahun dua peristiwa besar itu berlangsung, yakni 1344 Hijriah

***

Sisi masjid ini, di mana prasasti ini bertempat, hingga saat ini menjadi tempat arena bahtsul masail, sebuah arena debat dalil dalam menghasilkan sebuah keputusan untuk sebuah peristiwa atau permasalahan.

Saya dulu sering di situ saat bahsul masail berlangsung. Tentu saja bukan sebagai peserta, cuma penikmat debat para romo yai sepuh. Sambil bersender pada salah satu pilar masjid, batin ini bergumam "betapa dahsyatnya para kaum kampung ini berargumen, meski dalam kesehariannya tunduk tawadhu, tak banyak bicara."

Sembari sibuk mendengar, mata ini tak kalah sibuk mencari kue lemper yang tak kunjung mendekat, yang sedang dibagi panitia pada seluruh hadirin. "Duuuh, lempernya udah habis ya..."

Pamulang, 16 Rajab 1440 / 23 Maret 2019

Catatan : diceritakan secara lisan oleh KH Yasin Jalil saat saya masih duduk di bangku MTs.

Foto : Prasasti ada di sebelah kanan atas. Kotak menggantung di antara dua tiang. Berwarna Hijau, berkelir emas. Dalam gambar, selurusan di atas orang yang sedang berdiri

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar