Sowan Rais Aam PBNU, Ternyata NU tidak Seperti yang Difitnahkan Oleh Pengguna Medsos

Sowan Rais Aam PBNU, Ternyata NU tidak Seperti yang Difitnahkan Oleh Pengguna Medsos

Dishare dari Lora Muhammad Ismael Al Kholilie

Setelah shalat Jum'at, saya sebagai calon menantu versi Hoax berangkat dari Bangkalan menuju kediaman Ra'is 'Aam PBNU Kh. Miftahul Akhyar bersama calon menantu beliau yang haqiqi yaitu Muhammad Ismail Al-Ascholy. (En)

Setiap hari Jum'at Abuya (begitu Yai Miftah biasa dipanggil) memang mengadakan rutinan pengajian kitab Al-Hikam untuk Masyarakat umum, bertempat di Aula Pesantren yang beliau asuh, PP. Miftahussunnah Pacar Kembang Surabaya. Pengajian dimulai, sebelum menjelaskan kalam Ibnu 'Athaillah, beliau memberi komentar tentang masalah yang begitu viral akhir-akhir ini : Masalah Kafir dan Non-Muslim

" Hasil keputusan Munas : Kafir yang ada di Indonesia ya tetap Kafir, hanya saja dimasukkan kafir yang mana ? Harbi, Dzimmi, Musta'man apa Mu'ahad ? setelah dibahas ternyata Kafir yang ada di Indonesia tidak pas dimasukkan ke yang 4 itu, akhirnya ya kita namakan saja Muwathin(warga negara). Kalo secara aqidah dan fiqih ya tetap kafir, ini hanya dalam segi Mu'amalah. Bagaimana kita memahami Fiqhudda'wah. Bagaimana kita memakai bahasa yang bisa membuat orang lain tertarik kepada Islam.. "

Beliau lalu menyebutkan sebuah Maqolah :

" Al- Mu'min Waqqof "

Seorang Mu'min itu sudah seharusnya berhati-hati dan melihat-lihat dulu setiap berita yang ia terima, tidak langsung latah ikut-ikutan menyebarkan berita yang masih abu-abu kebenarannya. Beliau juga menjelaskan bahwa orang yang menyebarkan hoax akan menanggung dosa dusta itu sendiri, ia juga akan memikul dosa orang-orang yang termakan hoax yang ia sebarkan itu. Di akhir pengajian sekali lagi beliau menegaskan :

" jadi jangan sampai terpancing berita-berita yang viral itu. Jika ada sesuatu yang betul-betul salah di NU, saya yang merasa paling bertanggung jawab. Saya sudah panggil tim LBM-nya, dan ternyata keputusan mereka tidak seperti berita yang viral itu.. "

Pengajian usai, Saya, En, bersama Gus Jamaluddin Alawy dan Gus Nanal Ainal Fauz langsung menuju ke Ndalem Abuya. disana kami bertemu Kh. Tajul Mafakhir Putra Yai Utsman Al-Ishaqi yang kebetulan juga sowan di sore itu. Waktu itu saya hanya bisa diam dan menyimak perbincangan seru antara Abuya dan Gus Tajul, baru sebelum adzan Maghrib En Bangkit dari diamnya dan matur pada Abuya :

" ini Ismael yang paman saya itu.. "

" ooh iya.. " jawab Abuya.

" Baru datang dari Yaman 2 bulan yang lalu yai.." aku menimpali sambil nunduk-nunduk..

Abuya lalu mempersilahkan kami untuk masuk ke ruang makan untuk menyantap hidangan buka puasa (padahal gak semua dari kami sedang puasa.. Hehe ). Menu masakan arab yang dihidangkan membuat aku menyesal dan berkata dalam hati.. :

" ternyata enak banget, kenapa tadi nggak ngambil banyak.. ? Mau nambah lagi malu. Hiks.. "

Setelah berbuka, giliran kami mendengar banyak kisah dari Gus Tajul, ternyata beliau ini adalah salah satu murid dari Habib Zain Bin Smith. Beliau bercerita banyak tentang Abahnya, Yai Ustman Al-Ishaqi, Habib Sholeh Tanggul dan Syaikhona Kholil Bangkalan. Saya baru tahu kalo Yai Utsman pernah menimba ilmu di Pondok Mbah Kholil.

" Dulu waktu Abah pertama kali nyantri di Mbah Kholil Bangkalan.. " beliau memulai ceritanya.. " beliau sampai di Musholla pondok ketika Mbah Kholil sudah membaca Kitab Alfiah Bab terakhir. Abah tentu saja sedih dan berkata dalam hati :

" wah ternyata kiai sudah mau hatam ngaji Alfiahnya, apa kira-kira saya bisa menghatamkan Alfiah bersama beliau.. ? "

Ketika itu, tiba-tiba saja Mbah Kholil berdiri dari tempat mengajarnya dan langsung menuju Abah yang duduk di barisan paling belakang. Sambil menepuk-nepuk kepala abah, Mbah Kholil berkata :

" “Jek kebeter, Cong. Tang omor gik lanjeng. InsyaAllah hatam Alfiyah be’en...”

(Jangan khawatir nak.. Umurku masih panjang. Insyaallah kamu akan menghatamkan Alfiyah)

Terbukti selama mondok di Bangkalan, Yai Utsman bukan hanya berhasil menghatamkan Alfiyah, tapi juga kitab Uqudul Juman dan kitab-kitab lainnya.

" pernah juga ada dua santri baru.. " Gus Tajul melanjutkan ceritanya " Mbah Kholil itu kalo Shalat subuh agak akhir, bahkan matahari hampir terbit. Dua santri itu lalu mbisik-bisik satu sama lain : " iki paling kiai kerian.. " (ini kiai paling suka telat bangun..). Mbah Kholil keluar dari dalemnya menuju Musholla pondok, tapi beliau tidak langsung menuju mihrab, beliau justru mendatangi 2 orang santri itu, sambil memukul kepala mereka dengan tongkat beliau berkata : " Hadzaani Syaithonaani " (ini adalah dua orang setan).

Ada juga kisah Habib Sholeh Tanggul yang tak kalah unik dan menarik, Habib Sholeh ini ternyata adalah Sabahat Karib Yai Utsman Al-Ishaqi.

" pernah waktu itu di sebuah desa tersebar penyakit 'makdeblug', orang kalo kena penyakit ini siang, sorenya langsung mati. Kalo kena sore malamnya langsung mati. Akhirnya ada seorang penduduk desa yang datang ke Tanggul membawa sebotol air agar didoakan Habib Sholeh. Habib Sholeh mengambil air itu dan mendoakannya. Ajaib, setelah meminum air barokah dari Habib Sholeh itu, ia langsung sembuh total dari penyakitnya. Berita kesembuhannya pun tersebar ke seantero desa. Keesokan harinya Masyarakat desa sebanyak 3 truck datang ke kediaman Habib Sholeh untuk meminta air barokah. Habib Sholeh tentu kaget dan bingung, ada apa orang sebanyak itu datang ke rumahnya ? Setelah mengetahui maksud kedatangan mereka, Habib Sholeh memanggil perwakilan penduduk desa itu.

" Begini saja.. Di desa kalian ada danau.. ? " tanya Habib Sholeh.

" Ada bib.. "

Habib lalu mengambil secarik kertas, menuliskan sesuatu, menggulungnya lalu berkata :

" ini kertas lemparkan di danau kalian, nanti penduduk suruh minum dari situ.. "

" baik bib.. "

Mereka lalu pulang dan melaksanakan apa yang di perintahkan Habib Sholeh. Dan keajaiban datang, semua penduduk yang minum dari air danau itu sembuh dan sehat wal afiat. Tidak ada satupun yang mati oleh penyakit mengerikan itu. Lurah desa takjub sekaligus penasaran apa tulisan dibalik kertas ajaib itu ? Ia lalu pergi ke danau dan mengambil lagi kertas itu. Ia membukanya dan mencoba membaca tulisan yang ada di dalamnya. Ternyata, yang ditulis dalam kertas itu bukan rajah-rajah Arab atau semacamnya. Disitu hanya terdapat sebuah tulisan latin yang berbunyi :

" SELAMAT TINGGAL PENYAKIT.. "

Kami tertawa mendengar cerita aneh itu. Ah.. Begitulah para kekasih Allah, semua yang mereka mau pasti akan Allah turuti. Lahum Maa Yasyaa'uuna 'Inda Rabbihim..

Setelah Isya' saya dan En pamit pulang, Masih ada acara rutinan Majelis Rasulullah Bangkalan yang harus kami hadiri. Acara sowan di sore itu ditutup dengan acara inti yang tak kalah pentingnya : Foto-foto :)

Pertemuan di hari itu benar-benar sarat akan ilmu dan hikmah. Semoga Allah selalu menjaga Ra'is 'Aam PBNU kita Abuya Kh. Miftahul Akhyar. Ketika banyak yang mengatakan bahwa NU sekarang tidak seperti yang dulu, ketika mereka mengibaratkan NU sebagai kapal oleng atau bahkan karam yang harus diselamatkan atau ditinggalkan. Namun bagi saya, - melihat sosok seperti beliau Kh. Miftahul Akhyar, Mbah Yai Maimun Zubair, Kh. Nawawi Sidogiri dan Kiai-kiai sepuh lainnya- ucapan mereka itu sangat jauh panggang dari api. Mereka tidak sadar, bahwa Sampai sekarang NU tetaplah tempat bernaung ribuan para Kiai yang dengan ikhlas mewaqafkan hidup mereka untuk Allah dan Rasul-Nya. Teringat sebuah pesan Mbah Yai Maimun kepada Mas Abdul Adhim ketika beliau sowan beberapa bulan yang lalu .. :

" Masio yoopo NU kuwe tinggalane poro wali, yo wajib dijogo "

(" bagaimanapun juga NU itu adalah peninggalan para wali.. Ya wajib dijaga..")

رب فانفعنا ببركتهم * واهدنا الحسنى بحرمتهم * و أمتنا في طريقتهم * و معافاة من الفتن

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar

close
Ardha Kids