Sebut Ketum PBNU dengan Sopir Mabok, Melewati Batas Adab Ikhtilaf

Sebut Ketum PBNU dengan Sopir Mabok, Melewati Batas Adab Ikhtilaf

Dishare dari Ahmad Tsauri (fb)

Saya kira kalau menganalogikan KETUM PBNU dengan orang mabok itu sudah melewati batas. Sudah keluar dari adabul ikhtilaf, أداب الاختلاف. Etika berbeda pendapat.

Tidak pantas dikatakan, ditulis, dinyatakan oleh siapapun, apalagi seorang Da'i. Tidak perlu cerdas untuk berani menyatakan keberatan atas pernyataan seperti itu.

Apalagi Ketum PBNU memiliki nasab yang jelas, riwayat pendidikan panjang, kiprah di NU juga bukan setahun dua tahun. Jika dihiting sejak 1994, tidak kurang 25 tahun beliau telah berkiprah di NU.

Pemikiran beliau juga tidak ada yang menyimpang, tidak dipahami mungkin ia, yang jelas, mereka yang menuduhnya sesat tidak memiliki pengalaman baca seluas beliau.

Bagi saya, andai orang-orang yang mengkritik itu pemahaman agamanya dijadikan satu, masih jauh dari kelayakan menjadi lawan setanding dengan kealiman ketum PBNU. Mungkin subjektif, tapi Anda bisa mengukur akurasi anggapan saya ini dengan melihat karir intelektual beliau.

Prof Dr. KH. Said Aqil Siradj itu kepakaran dalam tarikh dan firaq Islam selevel Prof. Dr. Quraish Shibah dalam tafsir. Kelasnya ceramah di forum-forum intenasional.

Tapi beliau rendah hati, mau masuk ke kampung-kampung, berkenan menurunkan level berpikirnya kedalam alam pikir masyarakat bawah. Berpayah-payah ceramah hingga larut malam.

Dengan pernyataan-pernyataan kelompok ini, saya menjadi paham kenapa dahulu 4 khalifah dimusuhi; sayidina Abu Bakar dianggap tidak layak menjadi khalifah, Umar tidak kapabel, Ustman nepotisme, bahkan Sayidina Ali dituduh tidak adil.

Bukan hanya mufaraqah (menyatakan berseberangan) dari 4 tokoh itu, tetapi mereka membunuh satu persatu secara keji. Semoga kita tidak termasuk golongan seperti itu. Bukan bermaksud menyamakan, tapi kisah itu bisa membantu nalar kita, kenapa orang-orang seperti itu selalu ada disetiap zaman.

Nanti 2020 ada Muktamar NU, kita baru akan sadar, sulit mencari tokoh sepadan yang akan mengganti kedudukan beliau. Ketika saatnya tiba, kita baru akan paham arti dan signifikansi KH. Said Aqil bagi NU dan Indonesia.

Selalu terngiang perkataan Maulana Habib Luthfi, Allah memilih ketum PBNU sesuai tantangan zamannya. Bukan kebetulan. Apalagi menganggapnya sebuah kesalahan. Itu anggapan Keliru.

Barangkali bagi beliau Habib, posisi ketum PBNU itu seperti nubuwat yang sangat sakral.

--
Dimana-mana yang mabok itu penumpangnya, bukan sopirnya. Jangan-jangan dirnya yang mabok karena saking telernya malah menuduh sopirnya.

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar

close
Ardha Kids