Kiai Ma’ruf yang ‘Mengecewakan' Para Pendukung Lawannya

Kiai Ma’ruf yang ‘Mengecewakan' Para Pendukung Lawannya

Muslimoderat.net - Tau nggak, apa yang paling penting dari acara debat cawapres semalam?
Terwujudnya personal branding secara utuh dari kedua kandidat cawapres!

Betul, setelah 6 bulan keduanya berjibaku membentuk citra diri dari satu titik ke titik lainnya, semalam akhirnya publik bisa menyaksikan keduanya mempertontonkan jati diri mereka.


Selama ini, publik kan hanya disuguhkan statemen singkat melalui media saja.

Semalam, kita bisa melihat tingkat kedalaman dari keduanya. Dari penguasaan masalah, visi dan solusi yang ditawarkan, hingga kemampuan mempermainkan emosi & diksi yang dipilih.

Semalam, perceived quality dari keduanya tampil begitu jelas.

Mengapa perceived bukan actual quality?
Karena memang zaman sekarang adalah zaman pembentukan persepsi.


Siapa yang bisa membentuk persepsi secara utuh, dialah yang menjadi pemenang.

Sejak sebelum debat, pendukung 01 tampak sekali was-was, galau dan kurang bersemangat.

Mungkin terbayang bahwa Kyai Ma’ruf bakal habis ‘dibantai’ oleh Sandi yang lebih muda, energetik dan dianggap memiliki kemampuan public speaking yang lebih cakap.

Apa kemudian yang terjadi?

Secara ‘casing’, Kyai Ma’ruf tak banyak yang berubah, kecuali lebih elegan dan stylish dengan sorban gelap dan sarung hitam bergarisnya yang lebih moderen.

Sementara Sandi, dengan setelan jas slim fit berdasi, malah terlihat berbeda dari Sandi yang selama ini publik kenal. Sporty dan tampil dengan becandaannya yang cenderung nyeleneh.

Segmen demi segmen berlalu.
Kyai Ma’ruf mulai menunjukkan siapa jati dirinya yang sesungguhnya.

Dari mulai menjelaskan 3 kartu sakti baru, lalu permasalahan stunting yang dijelaskan dari sisi kedokteran dan fiqh, kemudian persoalan birokrasi dalam konteks instrumen pemantau anggaran dari pusat ke daerah, hingga topik infrastruktur yang ia kemas dengan soundbyte unik: infrastruktur langit!.

Semua lengkap dengan diksi kekinian macam DUDI ( Dunia Usaha Dunia Industri), opera house, decacorn, cyber university, basic capital dan maximize utility.

Semua disampaikan dengan detail, terstruktur dan terukur.

Walaupun bertuturnya relatif pelan, namun artikulasinya begitu jelas dan pilihan diksinya beragam.

Sandi, disisi lain, secara substansi tetap menjadi Sandi yang orang kenal.



Dengan cara bicaranya yang relatif lebih cepat (menurut Tirto.id, Sandi mengucapkan 3.918 kata, Kyai Ma’ruf 2.612 kata) Sandi mencoba bermain di ranah common sense.

Disini kita bisa melihat bahwa Sandi terjebak dalam memberikan jawaban yang ‘itu-itu saja’.

Selain dengan contoh kasuistis mengangkat nama orang, ia berulang kali jualan OK OCE. Program yang pernah ditawarkan saat ia maju di Pilkada di DKI.

Yang menarik, Sandi juga memuji keberhasilan OK OCE menurunkan jumlah pengangguran di DKI sebanyak 20 ribu orang.

Padahal faktanya, menurut BPS pengangguran di DKI justru meningkat 24 ribu orang.

Secara keseluruhan, Kyai Ma’ruf tampak lebih visioner, substansial dan solutif, sementara Sandi tampak lebih retorikal dan normatif.

Itulah *kekecewaan pertama* dari para ‘pembenci’ Jokowi - Kyai Ma’ruf.

Alih alih Pak Kiai akan kalah oleh Sandi, justru paket personal branding utuh yang disuguh Kyai Ma’ruf, baik casing maupun isinya, jelas berkata sebaliknya.

Dampaknya, mereka yang tidak suka terhadapnya kecewa dan ketar ketir.

Belum lagi Pak Kiai sering sekali melontarkan istilah dalam bahasa Arab dan Inggris yang makin membuat publik makin terpesona.

Oooh, ternyata Kyai Ma’ruf ini berisi juga ya. Bukan cuma vote getter (recehan) yang diambil Jokowi untuk mendulang suara di basis Islam. Begitu mungkin pemikiran para hatersnya.

*‘Kekecewaan’ kedua* adalah saat dibagian closing Kyai Ma’ruf menyinggung masalah fitnah yang kerap dilemparkan lawan politiknya:

*Penghapusan Kementrian Agama, pelarangan adzan dan melegalkan perzinahan.*

Dengan tangkas; malahan dengan bersumpah; pak Kiai menangkal semua fitnah-fitnah tersebut dengan sangat lugas.

Sekali lagi para haters Jokowi - Kyai Ma’ruf harus kecewa, karena dengan statemen pak Kiai tersebut, upaya fitnah yang disebarkan massive lewat door to door dibawah menjadi tidak efektif.

Kenapa?

Karena menurut data lembaga survey Nielsen, rating dari acara debat ini relatif tinggi dengan penonton yang justru masyarakat umum.
Dalam debat capres-cawapres pertama, stasiun TV dengan share tertinggi justru dipegang oleh SCTV, RCTI, Indosiar dan MNC.

Semua stasiun TV non berita. Semua dengan share tinggi.

Artinya, penonton terbanyaknya justru bukan mereka yang melek politik, tetapi malahan para undecided dan swing voters.

Jadi, upaya susah payah menebar fitnah berbulan bulan, sirna oleh closing statement Pak Kiai yang hanya 4 menit!.

Tak percuma ratusan Kiai hadir berdoa sambil bersholawat.

Tak percuma pula pendukung Jokowi yang bukan dari kalangan Islam konservatif menghadiri nobar nobar di beberapa tempat.

Semua kompak dengan satu impresi: TERPAPAR oleh Pak Kiai!

Gus Ipang Wahid (Putra Gus Sholah)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar