Kekhalifahan Tamat, IS1S Ubah Taktik dan Bangkitkan Sel Tidur? Waspadalah!

Kekhalifahan Tamat, IS1S Ubah Taktik dan Bangkitkan Sel Tidur? Waspadalah!

Pesona IS1S memikat Nurshadrina Khaira Dhania. Dalam bayangannya, ‘kekhalifahan’ yang dibangun organisasi teror itu bak negeri dongeng. Adil, makmur, nyaman, sejahtera.

Siapapun yang berhijrah ke sana dijanjikan akan mendapatkan rumah. Gratis. Pun dengan layanan listrik, air bersih, dan kesehatan yang cuma-cuma. Utang-utang di negara asal bakal dilunasi, pekerjaan gampang dicari, plus jaminan bahagia dunia hingga akhirat. Meski IS1S dikenal dengan reputasinya yang haus darah, Nur tutup telinga.

Gadis 16 tahun yang baru duduk di kelas 2 SMA itu pun kepincut berat. Ia mengajak orangtuanya pindah ke Suriah. Saat keinginannya ditentang, Nur minggat.

Khawatir putrinya nekat kabur sendirian ke Suriah, sang ayah, Dwi Djoko Wiwoho luluh. Ditambah lagi rayuan dan propaganda kakak iparnya, Iman Santoso alias Abu Umar bin Kosasih Bakri.


Demi gabung IS1S, Dwi Djoko Wiwoho melepas jabatan sebagai Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu Badan Pengusahaan Kawasan Batam (BP Batam). Rumahnya di Jakarta dilego untuk untuk biaya perjalanan.

Nur dan 25 anggota keluarga lain –ayah, ibu, paman, saudara kandung, bibi, nenek, sepupu — kemudian berangkat ke Suriah pada 1 Agustus 2015. Mereka masuk lewat Istanbul, Turki.

Sampai di Raqqa, jantung kekuasaan IS1S, mereka sadar bahwa kenyataan tak seindah isi propaganda. Orang-orang itu merasa tertipu. Rasa bersalah dan penyesalan menggelayuti hati Nur saat neneknya yang berusia 78 tahun meninggal dunia di Suriah, ayah dan pamannya dipenjara sekembalinya ke Indonesia.

“Saya anak manja, menolak mendengarkan orang lain. Saya sombong, keras kepala,” kata Nur dikutip dari situs ABC Indonesia.

Bagaimanapun, Nur dan keluarganya relatif beruntung. Masih ada kesempatan kedua untuk mereka.

“Mereka mendukung IS1S, tapi mereka sebenarnya ditipu. Dari sudut pandang kemanusiaan, siapa lagi yang akan menerimanya jika bukan kita? Kita tidak bisa membuang mereka ke laut, apalagi mereka menunjukkan penyesalan,” kata mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyad Mbay.

Meski demikian, aparat tetap waspada dengan gelombang balik para pendukung IS1S.

“Polri tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap sleeper cells dan mantan-mantan narapidana terorisme di Indonesia,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri, Brigjen. Pol Dedi Prasetyo saat dihubungi Liputan6.com, Rabu 27 Maret 2019.

“Kami terus melakukan pemetaan, profiling, dan identifikasi dinamika aktivitas mereka. Apabila ada rencana aksi yang termonitor, maka, langkah-langkah Polri dengan adanya UU No. 5 Tahun 2018 tentang Tindak Pidana Terorisme, dapat melakukan preventive strike guna memitigasi dan mengantisipasi secara awal aksi teror tersebut.”

Karopenmas menambahkan, jika ada WNI yang teridentifikasi sebagai eks-simpatisan atau eks-kombatan di Irak atau Suriah serta diketahui baru pulang ke Indonesia, mereka akan ‘disaring’ terlebih dahulu. “Oleh Kementerian Luar Negeri RI, Polri, BNPT, BIN dan BAIS,” tambah Dedi.

Sementara itu, ribuan pendukung IS1S terlunta-lunta di pengungsian. Mereka ditolak pulang negara asalnya karena dianggap berpotensi membawa ancaman.

Kekalifahan IS1S, yang membentang dari Suriah hingga ke gerbang Kota Baghdad di Irak, tamat pada Sabtu 23 Maret 2019. Wilayah terakhirnya di Baghouz takluk di tangan Syrian Democratic Forces (SDF) yang dibeking Amerika Serikat.

Para militannya, dengan janggut tebal dan mengenakan kaftan, terus bermunculan dari terowongan bawah tanah, dengan tangan terangkat tanda menyerah.

Jauh-jauh hari, Presiden AS, Donald Trump sudah mendeklarasikan kekalahan IS1S, yang menurutnya, sudah 100 persen.

“Sekarang ini sudah 100 persen. Kita telah merebut 100 persen kekhalifahan. Itu berarti luas wilayahnya,” kata Donald Trump di depan para tentara di pangkalan gabungan Elmendorf-Richardson, Alaska, 28 Februari 2019.

“Kita melakukan itu dalam periode waktu yang jauh lebih pendek dari yang seharusnya,” tambah dia.

Tapi benarkah IS1S sudah tamat? Tak semua sependapat dengan Donal Trump.

Sumber: liputan6.com

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar