Dai di Televisi Sebaiknya Mengantongi Sertifikat

Dai di Televisi Sebaiknya Mengantongi Sertifikat

Sekretaris Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ahmad Zubaedi, menyarankan agar para pendakwah atau mubaligh yang kerap tampil di media penyiaran agar memperhatikan nilai-nilai Kebangsaan dan Keislaman. Menurutnya, seorang yang menyiarkan ajaran agama jangan sampai bertentangan dengan ruh dari agama itu sendiri.

Untuk itu, ia menyarankan agar sejumlah lembaga yang terkait bekerja sama untuk membuat kesepakatan agar dai yang tampil di televisi mengantongi rekomendasi Majelis Ulama Indonesia. Upaya itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas dai itu sendiri, sebab, dai akan disaksikan jutaan umat serta akan menjadi panutan jamaah.

“Dai kita harus dibangun kapasitasnya, maka kita akan ada pelatihan pelatihanan untuk para dai,” ujarnya kepada NU Online, beberapa waktu lalu.

Rekomendasi oleh MUI, lanjut Zubaedi, sebagai solusi atas penolakan sebagian kelompok mengenai sertifikasi ulama oleh Kemenag. Ia menjelaskan, MUI hanya ingin memperbanyak dai yang bersertifikat bukan melakukan sertifikasi ulama.

Sementara itu, maraknya dai yang menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian, Zubaedi berpesan agar semua dai bisa merangkul semua golongan. Sebab, dai adalah tauhidul ummah atau pemersatu umat.

“Dan dai itu bagaimana bisa bersinergi antara dai satu dengan dai yang lain dan ternyata hoaks itu hanya mampu membahagiakan sesaat, karena ketahuan bohongnya orang frustasi,” ujarnya

Ia mengungkapkan, dai juga harus bersifat memuaskan semua golongan jangan pada kelompok tertentu saja. Karena objek dakwah itu seluruh umat Islam bukan kelompok kelompok tertentu. Termasuk jangan sampai membawa pemahaman kelompok islam tertentu saja, seorang dai harus memahami kilafiyah-kilafiyah yang ada pada ajaran Islam.

“Jangan egois jangan seolah olah ingin meyampaikan ideologi yang dia bawa saja. Harus tau umat ini aliran alirannya apa, jangan sampai bertentangan dengan paham masmu'nya, soal kilafiyah-kilafiyah dai harus dapat merangkul semua,” tuturnya.

Seperti diketahui, banyak kalangan masyarakat yang mengkritisi sejumlah orang yang mengaku ulama namun tidak sesuai dengan ajaran ajaran agama. Mereka kerap menyebarkan ujaran kebencian dan menuduh seseorang termasuk menyudutkan tokoh dan kelompok tertentu (Abdul Rahman Ahdori/Ahmad Rozali/NU Online)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar