Catatan Munas-Konbes NU: Warga Kampung Sediakan Suguhan yang Berlimpah

Catatan Munas-Konbes NU: Warga Kampung Sediakan Suguhan yang Berlimpah

Memasuki arena Munas di Citangkolo ini menarik. Sepanjang jalan sejak keluar dari stasiun sudah sangat bernuansa Munas. ratusan, mungkin ribuan, bendera NU berkibar di pinggir jalan. Terlebih ketika memasuki desa Citangkolo, di mana PP Miftahul Huda Al-Azhar yang menjadi lokasi acara berdiri.
Berbagai perlengkapan arena Munas dan Konbes sudah dan sedang terus disiapkan: arena Bazar pasar rakyat, bazar ilmiah, penginapan peserta Munas dan panitia, serta berbagai pernik acara lainnya.

Puluhan pedagang aksesoris dan makanan sudah berjajar di sepanjang jalan menuju lokasi. Yang unik, selain atribut NU yang mendominasi, ada juga satu pedagang yang jualan peci dan syal bertuliskan nama ormas yang selama ini sering berseberangan sama NU. Tapi itulah hebatnya NU, pedagang ini pun tidak diusik, dibiarkan mencari nafkah sebebas-bebasnya. Saya gak kebayang, kalo yang terjadi sebaliknya.. hahaha.

Untuk bermalam, panitia menyediakan dua macam tempat menginap. Ruang-ruang kelas yang sudah disulap jadi kamar menginap, rumah-rumah penduduk yang ditawarkan kepada Pesantren untuk jadi tempat transit para tamu, dan rumah disewakan kepada para tamu. Biasanya Lembaga-lembaga PBNU memilih di rumah-rumah penduduk karena sekalian bisa rapat koordinasi internal dengan nyaman.

Kami, dari Lakpesdam, memilih yang kedua.. bermalam di rumah penduduk.. juga dengan alasan sama: ingin lebih privat dan pengin dapat suasana kampungnya yang masih asri.

Menurut Sohibul Hajat, Kyai Marsyudi Syuhud, ada 50 warga yang menawarkan rumahnya untuk jadi tempat istirahat para tamu. Dari jumlah itu, lalu panitia memilih sekitar 30-an untuk jadi penginapan.

Dan, beginilah di kampungnya warga Nahdliyyin, selain menyediakan kamar, seperti arahan panitia, penduduk juga memuliakan kami dengan suguhan kampung yang berlimpah ruah. Ingin hurmat dan ngalap berkah-nya NU, kata mereka.

Maka, malam ini (25 Februari 019), sambil ngobrol ngalor ngidul yang padat dan bermanfaat di teras rumah, kami: Saya, Mas Ulil Abshar, Mas Rumadi Ahmad dan Mas Idris Mas’udi juga menikmati banyak hal lain: keramahtamahan yang tulus dari tuan rumah, udara yang segar, suara puji-pujian anak-anak dari Toa mushalla yang agak cempreng serta nyanyian jangkrik dan kodok (emaknya cebong) yang melengking nyaring… Betul-betul nikmat…

Itupun masih belum memuaskan tuan rumah, jam 22.30.. saat kami sudah hampir terlelap, Tuan Rumah tergopoh-gopoh menata nasi panas, Ayam dikecapin, oreg-oreg tempe dan telur dadar di ruang tengah.. lalu satu persatu kami dibangunin.. “Pak. pak.. makan dululah… Mbok lapar tidurnya..”

Ketika kami menolak halus karena sudah pada ngantuk, si bapak tidak putus asa.. “Makan dululah, biar kami gak sia-sia masaknya.. biar berkah rumah kami…”

Kalo sudah begini, siapa coba yang kuat menolak ketulusan hati mereka. Sambil saling pandang dan sesekali terkikik, kami pun makan… “Hayoolah dimaem, dengan niat idkhalus surur shahibul bait…”

Dishare dari : Ahmad Iftah Sidik, santri Habib Lutfi dan Khodim Pesantren Fatahilah Bekasi

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar