Bahlul Sundul Langit! Belum Baca Hasil Munas dengan Teliti, Sudah Menuduh Ulama NU Sesat

Bahlul Sundul Langit! Belum Baca Hasil Munas dengan Teliti, Sudah Menuduh Ulama NU Sesat

Banyak tokoh bahkan yang katanya Ulama dan beliau memakai Sorban besar menuduh Hasil Munas NU Kali ini sesat menyimpang, meng-amandemen Al-Quran, sekuler, liberal dan yang jelek-jelek diucapkan oleh mereka.

Padahal mereka tidak tabayun dan belum membaca keputusan yang sebenrnya, terbukti yang mereka bicarakan menuduh NU tidak setuju dengan status kafir merubah status Kafir dalam al-Qur'an, ini jauuuh sekali dengan apa yang diputuskan dalam Minas NU.

Padahal, Munas NU 2019 sebenarnya fokus membahas status non muslim dalam negara bangsa seperti Indonesia, bukan status Kafir dalam negara Islam sebagaimana dlam fiqih.

Dalam forum disepakati, bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara status non muslim seperti di Indonesia adalah muwathin atau warganegara yang mempunyai kewajiban dan hak yang sama dan setara sebagaimana warganegara lainnya.

Terminologi dalam Kitab Fikih kita ada Darul Islam dan Darul Kuffar. Sementara warga negara yang terdapat dalam Darul Islam ada beberapa sebutan:

1. Kafir Harbi, yaitu orang yang memerangi umat Islam dan boleh diperangi
2. Kafir Dzimmi, orang yang membayar jizyah untuk mendapatkan perlindungan. Tidak boleh diperangi.
3. Kafir Mu'ahad, orang yang melakukan perjanjian damai dalam beberapa tahun. Tidak boleh diperangi.
4. Kafir Musta'min, orang yang meminta perlindungan. Tidak boleh diperangi.

Yang dimaksud keputusan Munas NU bahwa Non Muslim di Indonesia tidak ada yang memenuhi kriteria tersebut. Sehingga disebut warga negara dalam nation state.

Sedangkan hukum memanggil Non Muslim jika membuat mereka tersinggung adalah:

وَفِي الْقُنْيَةِ مِنْ بَابِ الِاسْتِحْلَالِ وَرَدِّ الْمَظَالِمِ لَوْ قَالَ لِيَهُودِيٍّ أَوْ مَجُوسِيٍّ يَا كَافِرُ يَأْثَمُ إنْ شَقَّ عَلَيْهِ. اهـ. وَمُقْتَضَاهُ أَنْ يُعَزَّرَ لِارْتِكَابِهِ مَا أَوْجَبَ الْإِثْمَ. البحر الرائق، ٥/ ٤٧.

Artinya: "Dalam kitab Al Qunyah dari Bab Al Istihlal dan Raddul Madhalim terdapat keterangan: "Andaikan seseorang berkata kepada Yahudi atau Majusi: 'Hai Kafir', maka ia berdosa jika ucapan itu berat baginya (menyinggungnya). Konsekuensinya, pelakunya seharusnya ditakzir karena melakukan tindakan yang membuatnya berdosa." (Dikutip dari kitab Al Bahrur Raiq, Juz 5 halaman 47).

Ini yang melatari bahwa dalam konteks sosial kemasyarakatan seorang muslim semestinya tidak memanggil non muslim dengan panggilan yang sensitif 'Hai Kafir', seiring dalam ranah akidah Islam tetap mantap menganggap mereka sebagai kafir atau orang yang tidak beriman.

Jadi intinya, Hasil Bahtsul Masail Munas tetap menghukumi non muslim sebagai Kafir, namun merekomendasikan jangan sebut Non Muslim Indonesia ini dengan Kafir(walau statusnya kafir) karena demi terjaganya ukhuwah wathoniyah.

Bisa dipastikan tokoh-tokoh yang mengomentari hasil Munas NU ngalor ngidul belum membaca dan belum Tabayun, teringat dawuh Sayyidina Ja'far Ash-Shodiq:


قال الحكماء: (مِن أَخْلاقِ الجَاهِلِ: الإجَابَةُ قبلَ أنْ يَسْمَعَ، والمُعَارَضةُ قَبلَ أنْ يَفْهمَ، والحُكْمُ بما لا يَعْلَمَ).

Artinya: Ahli hikmah berkata :
Diantara ahlak (jelek) orang jahil (dungu) adalah :
1. Menjawab soal sebelum mendengarnya dengan benar.
2. Membantah sebelum faham akan permasalahan.
3. Menghukumi dengan apa yang ia tidak ketahui (ngawur).

Hati-hati, Al-Qur'an mensifati Fasik kepada penyebar berita yang tidak tabayun!

[Red/Muslimoderat]

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar

close
Ardha Kids