Awas! Hasil Munas NU Soal Non Muslim Dipelintir Orang-orang yang Mengaku Lurus

Awas! Hasil Munas NU Soal Non Muslim Dipelintir Orang-orang yang Mengaku Lurus

Banyak Netizen awam agama di media sosial yang menuduh sesat para kiai NU karena telah merumuskan "jangan memanggil Kafir kepada Non Muslim" meraka menuduh para kiai NU tidak paham Al-Quran, tidak paham surat Al-Kafirun, sesat, dan lain-lain.

Hal ini dikarenakan mereka tidak membaca hasil Munas NU secara utuh, namun hanya membaca pelintiran-pelintiran ynag disebarkan di media sosial.

lebih miris lagi pelintiran-pelintiran itu disebarkan oleh tokoh-tokoh yang katanya garis Lurus, orang-orang yang mengaku lurus ini membuat opini bahwa NU melalui munas akan meenghilangkan surat Al-Kafirun, ada lagi yang beropini "NU akan merubah status Kafir yang ada dalam al-Qur'an menjadi Non Muslim", dan banyak lagi fitnah-fitnah keji lainnya.

Padahal, Munas NU 2019 sebenarnya fokus membahas status non muslim dalam negara bangsa seperti Indonesia, bukan status Kafir dalam negara Islam sebagaimana dalam fiqih.

Dalam forum disepakati, bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara status non muslim seperti di Indonesia adalah muwathin atau warganegara yang mempunyai kewajiban dan hak yang sama dan setara sebagaimana warganegara lainnya.

Terminologi dalam Kitab Fikih kita ada Darul Islam dan Darul Kuffar. Sementara warga negara yang terdapat dalam Darul Islam ada beberapa sebutan:

1. Kafir Harbi, yaitu orang yang memerangi umat Islam dan boleh diperangi
2. Kafir Dzimmi, orang yang membayar jizyah untuk mendapatkan perlindungan. Tidak boleh diperangi.
3. Kafir Mu'ahad, orang yang melakukan perjanjian damai dalam beberapa tahun. Tidak boleh diperangi.
4. Kafir Musta'min, orang yang meminta perlindungan. Tidak boleh diperangi.

Yang dimaksud keputusan Munas NU bahwa Non Muslim di Indonesia tidak ada yang memenuhi kriteria tersebut. Sehingga disebut warga negara dalam nation state.


وَفِي الْقُنْيَةِ مِنْ بَابِ الِاسْتِحْلَالِ وَرَدِّ الْمَظَالِمِ لَوْ قَالَ لِيَهُودِيٍّ أَوْ مَجُوسِيٍّ يَا كَافِرُ يَأْثَمُ إنْ شَقَّ عَلَيْهِ. اهـ. وَمُقْتَضَاهُ أَنْ يُعَزَّرَ لِارْتِكَابِهِ مَا أَوْجَبَ الْإِثْمَ. البحر الرائق، ٥/ ٤٧.

Artinya: "Dalam kitab Al Qunyah dari Bab Al Istihlal dan Raddul Madhalim terdapat keterangan: "Andaikan seseorang berkata kepada Yahudi atau Majusi: 'Hai Kafir', maka ia berdosa jika ucapan itu berat baginya (menyinggungnya). Konsekuensinya, pelakunya seharusnya ditakzir karena melakukan tindakan yang membuatnya berdosa." (Dikutip dari kitab Al Bahrur Raiq, Juz 5 halaman 47).

Ini yang melatari bahwa dalam konteks sosial kemasyarakatan seorang muslim semestinya tidak memanggil non muslim dengan panggilan yang sensitif 'Hai Kafir', seiring dalam ranah akidah Islam tetap mantap menganggap mereka sebagai kafir atau orang yang tidak beriman.

Jadi intinya, Hasil Bahtsul Masail Munas tetap menghukumi non muslim sebagai Kafir, namun merekomendasikan jangan sebut Non Muslim Indonesia ini dengan Kafir(walau statusnya kafir) karena demi terjaganya ukhuwah wathoniyah.

Jadi tidak benar, NU merubah Kafir dalam Al-Quran menjadi Non Muslim, yang benar ialah status mereka yang non Muslim tetap kafir namun dalama kehidupan bersosial janganlah memanggil mereka 'Kafir' jika hal tersebut menyinggung mereka, namun jika mereka senang disebut kafir ya tidak masalah.

Dan yang lebih penting lagi jangan panggil saudaramu Cebong ataupun kampret. [Red/Muslimoderat]

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar

close
Ardha Kids