Aneh! Tashrif Tidak Bisa, tapi Sudah Bahas Khilafah, Jihad, Kafir dan Negara Islam

Aneh! Tashrif Tidak Bisa, tapi Sudah Bahas Khilafah, Jihad, Kafir dan Negara Islam


Dishare dari: Ahmad Tsauri
Di pesantren biasanya yang pertama ditekankan adalah ilmu al-hal (علم الحال), ilmu yang dibutuhkan saat itu juga seperti wudhu solat, baca Quran, setelah itu baru diajarkan kitab dasar. Salah satunya shorof. Dulu waktu di Purwakarta pakainya matan bina (متن البناء), awamil jurjani (عوامل الجرجاني). Di Cianjur pakai awamil dan Kailani, الكيلانى.

Waktu di Lirboyo saya tidak mendapat kelas amsilatu tasrifiyah ( ألأمثلة التصريفية) karena diterima di kelas atasnya. Akhirnya saya pelajari amsilatu tasrifiyah secara otodidak, disamping menghafal alfiyah. Biasanya saya manfaatkan waktu libur maulid atau akhir tahun.

Tapi jelas kawan-kawan lebih hebat karena menguasai ilmu sorof melalui qaidatu tasrifiyah yang merek pelajari secara mendalam dijenjang sebelumnya.

Tasrif itu penting, karena dalam bahasa Arab, perubahan satu huruf merubah makna. زيادة البناء تدل على زيادة المعنى, penambahan/perubahan stuktur huruf menunjukan perubahan makna yang dikandung.

Tulisaanya sama, فعل dan فعّل satu tanpa dan satu pakai tasydid, makanyapun beda, pertama لازم hanya punya subjek, kedua متعدي, mempunyai subjek dan objek. كفر kafara, telah kufur, kalau كفّر kaffara, mengkafirkan. Penambahan huruf dalam bahasa Arab sama dengan penambahan kata dalam bahasa lain.

Jadi tasrif itu sangat penting dalam bahasa Arab. Karena menjadi pintu pertama sebelum pintu-pintu lain yang membuka makna. Bagaimana bisa ngi'rab, menerapkan ilmu nahwu, gramatika Arab kalau tidak tahu status kata, kata kerja; lampau, sedang atau akan, kata benda atau kata sifat, keterangan tempat atau keterangan waktu. Karena tulisannya banyak kesamaan, hanya cara bacanya saja yang berbeda.

Kalau pintu pertama tidak bisa kita buka, bagaimama bisa membuka pintu berikutnya. Pintu-pintu yang mengantarkan pada makna-makna tidak bisa dibuka juga. Tidak bisa membuka pintu terus membicarakan makna, dan menyebarkan pemahamam, itu makna dan pemahaman didapat darimana? Google? Yang benar saja.

Ini sangat dasar sekali. Belum lagi mempelajari kata sesuai epistimologi tiap disiplin ilmu. Misalnya الصلاة، sholat, secara bahasa doa, secara fikih praktel ibadah yang khas, secara tasawuf bisa shalawat kepada Nabi, secara tauhid dll, sesuai susunan kalimatnya.

Kalau tidak paham yang dasar ini, terus bicara tema yang berat-berat seperti jihad, kafir, negara Islam, khilafah, dll, bagaimana mungkin kita percaya. Paling ente mengarang indah. Orang umum bisa Anda kibuli, santri NU, apalagi Kiyainya tidak bisa.

Sebelum kejadian-kejadian seperti sekarang saya tidak paham maqalah ini, تعلموا قبل ان تساد, "Belajarlah sebelum ditokohkan. Emang ada orang gak bisa ngaji jadi tokoh, jadi agamawan. Ternyata sekarang banyak. Dahulu ada sekarang marak.

Kalau tidak bisa jangan malu-malu ngaji lagi saja. Bukankah belajar itu memang tugas sepanjang hayat.

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar