Ketika Caleg Tak Diizinkan Satu Panggung dengan Habib Luthfi

Ketika Caleg Tak Diizinkan Satu Panggung dengan Habib Luthfi

Masjid Agung Brebes, Jawa Tengah bersama Pemerintah Daerah, TNI, dan Polri menggelar Acara Masjid Agung Bershalawat bersama Rais Aam Jam’iyah Ahli Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah (JATMAN), Habib Lutfi Ali Yahya.

Pada kegiatan yang dilaksanakan Kamis (14/2) tersebut panitia pelaksana melarang keras para calon anggota legislatif (Caleg) yang hadir untuk duduk di panggung utama bersama Habib Luthfi.

“Ini panggung shalawat, bukan panggung politik jadi siapapun dari partai manapun tidak usah naik ke panggung,” seru ketua panitia, Imam Dardiri, melalui pengeras suara saat Habib Luthfi naik panggung.

Kontan saja, beberapa caleg yang mengiringi Habib Luthfi dari Pendopo batal naik panggung karena mendapat instruksi dari panitia.

Imam menandaskan, panitia tidak menginginkan acara sakral untuk umat Islam tersebut dimanfaatkan oleh calon legislatif untuk memamerkan wajahnya bersama Habib Lutfi.

Dalam tausiyahnya, Habib Luthfi mengungkapkan fenomena akhir-akhir ini di mana sesama ulama di benturkan. Para tokoh politik juga dibenturkan sehingga memunculkan keretakan hubungan dalam masyarakat. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk waspada dan jangan mau di pecah-belah.

“Mari bersatu untuk menjaga persatuan dan kesatuan, ukhuwah islamiyah,” ajaknya penuh semangat.

Ia pun mengisahkan ketika Rasulullah SAW, dengan sifat Al Amin yang dimilikinya, mampu mempersatukan semua umat pada zamannya. Rasul mampu menyatukan antar kabilah (suku) yang ada dengan tidak menjelek-jelekkan dan merendahkan suku lainnya. Ini terlihat saat perwakilan dari setiap suku dengan kebersamaan mengangkat dan memasukan kembali Hajar Aswad ke tempatnya semula.

“Mari kita angkat Indonesia yang saya ibaratkan Hajar Aswad secara bersama-sama. Tidak boleh satu orang saja,” ajaknya.

Sudah seharusnya seluruh elemen bangsa menanyakan kepada diri sendiri sejauh mana sudah mengisi kemerdekaan.

"Kenapa kita rebutan tumpeng, sementara yang berjuang dulu tidak kita hargai. Mau ditaruh di mana muka kita dengan centang-perenang. Kalau kita sadar, maka mestinya kita harus berpikir untuk umat dan mempersatukan. Shalawat bisa menjadi perekat silaturahmi antar sesama. Belum lagi dengan membaca shalawat kepada nabi akan mendapatkan syafa'at dari Rasulullah SAW,” jelasnya.

Habib Luthfi menegaskan pentingnya menjaga dan menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia pun mewanti-wanti agar warga negara Indonesia jangan sampai melupakan sejarah NKRI. Dengan mengingat sejarah maka akan tumbuh handarbeni (rasa asuh) melalui ikatan kesamaan rasa, nasib, perjuangan yang pahit untuk mendirikan NKRI.

Disamping itu, ia pun mengingatkan pentingnya peringatan maulid Nabi dalam upaya mengungkap makna yang terkandung di dalamnya. Berbagai kisah kelahiran para nabi lanjutnya, juga termuat di dalam Al-Qur'an di antaranya kelahiran Nabi Yahya, Nabi Musa, Nabi Isa, dan nabi-nabi lainnya.

Tidak hanya sejarah nabi saja yang termuat dalam Al-Qur'an. Kisah para wali seperti Ashabul Kahfi dan kisah tentang berbagai hewan juga dijelaskan sampai dengan penamaan surat dalam Al-Qur'an yang menggunakan nama hewan seperti An-Nahl, Al-Baqarah, dan lain lain.

"Kita berkumpul melalui tali silaturahmi, melalui shalat jamaah, membaca shalawat, istighotsah. Kita diajar kepedulian sesama kita, saat shalat membaca shalawat. Jangan lagi berdebat masalah sayyidina pada zaman sekarang ini. Tapi sekarang bagaimana agar ekonomi warganya maju, ketahanan negara kuat, dan jangan mudah dipecah-belah,” tegas Habib Luthfi.

Ia pun mengungkapkan betapa bahagianya bila setiap individu memiliki rasa asah, asih, asuh, dan tidak menyusahkan atau mengecewakan baginda Rasulullah. Minimal masing-masing tidak membebani orang lain dan jika bisa agar dapat meringankan beban orang lain.

Hadir dalam acara tersebut Bupati Brebes Idza Priyanti beserta suami Kompol Warsidin, Dandim 0713/Brebes Faizal Amri, Wakapolres Brebes Faizal, para Kepala SKPD di Pemerintahan Kabupaten Brebes, Camat, Habaib, Ulama, para tokoh masyarakat serta ribuan jamaah. (Wasdiun/Muhammad Faizin/NU Online)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar