Ketahuan, Mereka yang Selalu Bid’ahkan NU Ternyata Berbohong

Ketahuan, Mereka yang Selalu Bid’ahkan NU Ternyata Berbohong

Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar mengatakan selama ini cara beribadah warga NU kerap dituduh bid’ah oleh kelompok tertentu. Bahkan mereka menuduh cara beribadah warga NU tidak ada dasar dalilnya.

“Jangan terpengaruh golongan di luar NU. Jangan ikut-ikutan gerakan di luar NU,” katanya pada pengajian rutin Lembaga Dakwah PBNU di Gedung PBNU, Jakarta, (20/20), “Kalau Sampeyan keluar dari NU, khawatir dibohongi,” lanjutnya.

Kemudian Kiai Marzuki membuktikannya satu per satu tuduhan bid'ah mereka berbohong dengan menukil hadits dari kitab-kitab rujukan terpercaya dalam sumber Islam yang digunakan mereka dan orang ulama NU, yaitu kita Sahih Bukhari dan Muslim.

“Ini Sahih Muslim, matannya saja, sanadnya tidak ditulis. Di Sahih Muslim ini nomor urut 630 mensunnahkan bacaan "Allahu akbar kabiro walhamdulillahi katsiro wa subhanallahi bukratan wa asila. Apa kata orang di luar NU? Bid’ah, ora enek dalile (tidak ada dalilnya). Ojo gelem melo orang di luar NU, diapusi (jangan mau ikut orang di luar NU, dibohongi! red.),” katanya.

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 408, isinya menjelaskan shalat Nabi Muhammad saat duduk tahiyat akhir, jari telunjuknya menunjuk ke arah kiblat.

“Mereka enggak mau begini, kurang puas,” katanya sembari menggerak-gerakan jari telunjuknya secara memutar. “Bagi kami terserah, tapi kalau mereka bilang begini (telunjuk lurus) tak ada dalilnya, mereka bohong!” lanjutnya. 

Di dalam kitab Sahih Muslim hadits nomor 272 menerangkan Nabi Muhammad melakukan qunut pada rakaat kedua shalat Subuh.

“Silakan tidak qunut kalau tidak hafal, tapi kalau mengatakan (qunut) tidak ada dalilnya, bohong. Bohong! Itu Sahih Muslim,” lanjutnya. 

Tentang qunut subuh ini, lanjut Kiai Marzuki, terdapat pula di dalam kitab Sahih Bukhari hadits nomor 1001 sama dengan Sahih Muslim hadits nomor 272. Di dalam Sahih Bukhari pula, hadits nomor 3451 diterangkan bahwa Nabi mengeraskan bacaan bismillah.

“Mereka tak mau bismillah atau mau tapi malu-malu, lirih. Enggak mau ngeraskan. Terserah, kami tak mengurusi mereka, tapi kalau mereka bilang bismillah jahr (terdengar) tak ada dalilnya, mereka bohong!" (Abdullah Alawi/NU Online)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar