Di Malaysia Ada Cabang Istimewa NU, Muslimat, Fatayat, Pagar Nusa, dan GP Ansor

Di Malaysia Ada Cabang Istimewa NU, Muslimat, Fatayat, Pagar Nusa, dan GP Ansor

Warga NU yang berada di negeri jiran Malaysia tidak bisa meninggalkan sepenuhnya kebiasaan di kampung halamannya di Indonesia seperti tahlilan, barzanjian, dan amaliyah Ahlussunah wal Jamaah lain. Termasuk dalam berorganisasi yang mewadahi kebiasaan tersebut. Maka berdirilah NU Cabang Istimewa dan beberapa badan otonomnya. 

Menurut Pimpinan Cabang Istimewa Gerakan Pemuda Ansor Malaysia Nur Alamin, PCINU telah ada sejak 1999, PCI Fatayat NU sejak tahun 2005, PCI Muslimat NU tahun 2014, PCI Pagar Nusa sejak tahun 2016, dan PCI GP Ansor sejak tahun 2018.

“Ketua PCINU dengan Tanfidziyah Ustadz Ihyaul Lazib dan Syuriyah Kiai Liling Sibromilisi, Ketua PCI Muslimat NU Malaysia Ibu Mimin mintarsih, Ketua PCI Fatayat NU Malaysia Kiki Rizki Makiyah, Ketua Pagar Nusa NU Bapak Zakky dan Ketua PCI GP Ansor Malaysia saya sendiri, Nur Alamin,” katanya di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (21/2) malam.

Menurut dia, jika melihat Undang-undang di negara Malaysia saat ini, organisasi penduduk asing yang tinggal di negara tersebut tidak mungkin mendapatkan legalitas dari pemerintah sehingga tidak mungkin melakukan kegiatan sebagaimana NU beserta lembaga dan banomnya di Indonesia.

“Bisa melakukan kegiatan, tapi tidak mungkin sebesar yang dilakukan di Indonesia. Akhir tahun 2018 lalu, GP Ansor mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar,” katanya.

Namun, lanjutnya, belakangan penduduk asli Malaysia justru mendirikan Pertubuhan Nahdlatul Ulama Malaysia yang mendapatkan legalitas dari Kementerian Dalam Negeri Malaysia. Saat ini pertubuhan tersebut baru dikembangkan di Kuala Lumpur dan Selangor.

“Pada perkembangan selanjutnya mulai ada juga di Kedah dan Perak dan Johor,” katanya, “sebagaimana organisasi keagamaan Pertubuhan diinisiasi oleh para tokoh agama,” katanya. 

Hingga saat ini, menurut dia, antara Pertubuhan NU Malaysia dan Pengurus Cabang Istimewa NU beserta banomnya tidak ada hubungan secara struktural. Yang ada adalah hubungan kultural, saling mengenal, karena sama-sama Ahlussunah wal Jamaah. (Abdullah Alawi/NU Online)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar