Tidak Cukup Berhijrah, Kenapa Muslimah Harus Mondok?

Tidak Cukup Berhijrah, Kenapa Muslimah Harus Mondok?

Kami tidak perlu lagi menjelaskan agungnya posisi ilmu di dalam Islam. Begitu banyak ayat al-Qur’an atau dalil Hadis yang telah menjelaskan keagungan ilmu dalam Islam. Di sini yang ingin kami tegaskan adalah bagaimana Islam memandang ilmu pengetahuan itu? Islam memandang ilmu itu sebagai sebuah konsep yang dibangun di atas dasar-dasar agama Islam yang fundamental; ilmu yang dipahami di dalam Islam tidak sama dengan apa yang dipahami oleh orang di luar Islam.

Karena itu Islam memiliki pandangan yang spesifik mengenai sumber-sumber ilmu, kerangka yang membentuk ilmu, proses pencapaian, fungsi, dan target akhir dari ilmu pengetahuan. Mudahnya adalah mencari ilmu itu tidak sederhana. Tidak cukup dengan obsesi ingin menghilangkan kebodohan saja, tapi masih harus memperhatikan unsur lain di dalam proses mencari ilmu.

Islam memandang ilmu yang hakiki itu adalah ilmu yang dapat menjadikan pemiliknya (orang yang berilmu) memiliki khasyyah (takut yang disertai pengagungan) kepada Allah dan dapat menjadikan ia mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya. Ilmu yang seperti ini yang dapat memberikan kemanfaatan kepada pemiliknya, sehingga ia akan membawa kebahagiaan kepadanya di dunia dan akhirat.
Ibnu Ibad berkata, “Tanda-tanda takut kepada Allah adalah meninggalkan empat keterkaitan, yaitu keterkaitan dengan makhluk, hawa nafsu, dan setan.”

Sedangkan ilmu yang tidak disertai khasyyah tidak dapat memberikan kemanfaatan yang hakiki kepada pemiliknya, bahkan sebaliknya ia akan menimpakan mudharat kepada pemiliknya.
Al-Habib Alwi bin Ahmad Assegaf dalam kitab Sab’atu Kutubin Mufidah berkata, “Ilmu yang sempurna adalah ilmu yang dapat memberikan pengaruh rasa takut pada Allah, yakni pengagungan (terhadap-Nya) yang disertai rasa hormat.”

Imam Malik juga berkata, “Orang yang mencari ilmu seharusnya memiliki sifat ketenangan, ketentraman, dan rasa takut kepada Allah”
Untuk mendapatkan ilmu yang hakiki itu kita harus memperhatikan beberapa hal seperti yang telah disebutkan di awal. Seperti ilmu apa yang harus kita cari? Apa tujuan kita mencari ilmu? Kepada siapa saya harus mendapatkan ilmu? Di mana kita bisa mencari ilmu? Dan lain sebagainya.

Akidah yang Utama dan Pertama
Di dalam Islam, permasalahan akidah adalah tema yang paling sentral sebelum kita membicarakan tema-tema yang lain. Akidah menjadi pondasi awal yang akan menjadi pijakan di dalam melangkah. Ketika akidahnya banar, maka langkah selanjutnya akan searah dengan dasar-dasar Islam. Sebaliknya, ketika akidahnya sudah melenceng maka dijamin langkah selanjutnya akan terus melenceng dari jalan yang semestinya.

Termasuk di dalam proses mencari ilmu, akidahlah objek pertama yang harus diketahui sebelum yang lain. Sebab, proses mencari ilmu di dalam Islam itu harus dimulai dengan mencari ilmu yang paling dibutuhkan oleh kita. Yaitu ilmu yang berhubungan dengan ibadahnya kepada Allah. Sebab, Islam adalah agama yang didasarkan pada ilmu. Keyakinan dan ibadah yang tidak didasari ilmu adalah keyakinan buta dan ibadahnya tidak diterima.

Jadi, dari berbagai ilmu keagamaan yang ada, yang harus dipelajari oleh orang muslim yang sudah baligh adalah ilmu ibadah yang merupakan kewajiban individual (Fardhu ‘ain), berupa ilmu tauhid (akidah), ilmu syariat (fikih) dan ilmu akhlak. Mengetahui ketiganya ini sebenarnya penjabaran dari konsep dasar Islam, yaitu mengenai iman, Islam dan ihsan. Jadi mempelajari tauhid merupakan penjabaran praktis dari konsep iman; mempelajari fikih merupakan uraian dari konsep Islam, sedangkan ilmu akhlak atau tasawuf merupakan artikulasi dari konsep ihsan.
Ilmu tauhid yang harus dipelajari pertama adalah pengetahuan bahwa Allah memiliki sifat yang 20, Allah juga memiliki sifat kesempurnaan, serta suci dari sifat kekurangan. Kemudian pengetahuan tentang para malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para utusannya, pengetahuan tentang para utusan Allah yang diutus kepada semua makhluk, mulai dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, percaya pada hal-hal yang ghaib, seperti surga, neraka, dll.

Diantara dalil yang menjelaskan tentang kewajiban mempelajari ilmu-ilmu yang berhubungan dengan akidah atau tauhid adalah:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ (محمد: 19)
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampun bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kalian berusaha dan tempat kalian tinggal. (QS. Muhammad : 19)
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar mengetahui tauhid (keesaan Allah), yang berarti perintah untuk mengetahui sifat-sifat-Nya, sekaligus dalil-dalil mengenainya. Perintah ini dinyatakan dengan kalimat tegas, yang mengindikasikan kewajiban.

Demikian pula, perintah mengetahui Allah dalam ayat ini didahulukan daripada perintah memohon ampunan. Hal demikian karena tauhid berkaitan dengan pokok-pokok agama yang lebih penting daripada memohon ampunan yang termasuk cabang agama.

Dari semua penjelasan di atas, tempat yang paling relevan di dalam mencari ilmu-ilmu yang sifatnya fardhu ‘ain itu adalah pesantren. Sebab tidak dapat dipungkiri, hingga saat ini, pesantrenlah satu-satunya institusi pendidikan yang benar-benar memperhatikan aspek akidah, syariah dan akhlak sekaligus bagi anak didiknya atau santrinya. Di pesantren akidah ini diimplementasikan dalam bidang studi ilmu tauhid atau kalam. Selain pesantren, materi akidah menjadi materi pelengkap yang sama sekali tidak menjadi prioritas.

Lebih-lebih bagi muslimah yang memang di dalam Islam memiliki ruang publik yang terbatas dibanding laki-laki. Saat ini, pesantren menjadi satu-satunya tempat pendidikan yang paling kuat di dalam menjaga akidah mereka. Tidak yang lain.

Maka benarlah apa yang diungkapkan oleh Muhammad Ibnu Sirin, “Ilmu ini adalah bagian dari agama, maka pertimbangkanlah secara matang, dari siapa kalian akan mempelajari agama kalian?”.

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar