Rahasia Dibalik Tampilan Kalem Prof. Dr. KH Maruf Amin Dalam Debat I Pilpres

Rahasia Dibalik Tampilan Kalem Prof. Dr. KH Maruf Amin Dalam Debat I Pilpres


Debat pertama pilpres telah usai. Analisis, diskusi, tulisan, meme, dan framing muncul seketika. Ada yang obyektif, berupaya obyektif, pura2 obyektif, hingga cacian sangat kasar kita temukan di lini masa.

Meme memuji atau menyindir berseliweran tanpa henti. Puja puji dan caci maki, dengan gambar dan tulisan, yang jika gunakan akal sehat, tak pantas dilakukan. Oleh orang awam sekalipun. Terlebih diproduksi dan disebarkan oleh cerdik cendekia.

Yang paling banyak jadi korban meme adalah Kyai Ma'ruf Amin, dengan segala framingnya, yang membuat opini seolah tak kuasa apa2, kecuali doa.

Mereka lupa, bahwa sosok Kyai Ma'ruf adalah aktif di dunia politik sejak muda. Urusan politik bagi beliau adalah dunianya. Di partai, beliau menjabat pimpinan tertinggi saat PKB jadi jadi partai terbesar produk reformasi. Beliau juga jadi pimpinan komisi. Jauh2 hari, beliau jadi pimpinan fraksi di DPRD DKI. Saat Gubernur DKI dijabat Ali Sadikin, beliau terlibat jual beli gagasan u berbagai kebijakan pembangunan DKI, khususnya terkait dg isu agama. Kebijakan pemakaman susun merupakan salah satunya.

Dari sisi akademik, beliau doktor dan guru besar di bidang hukum ekonomi syariah. Rekognisi dan pengakuan akademik diperoleh dari lembaga yang punya reputasi. Belum lagi lihat track record sosial kemasyarakatannya.

Soal debat? Jangan ditanya. Beliau tumbuh di lingkungan pesantren. Debat adalah makanan sehari2nya. Apalagi, dalam masalah keagamaan, dituntut jawaban yang persisi. Dalam fatwa, di mana beliau menjadi legenda hidup Fatwa MUI, dan juga Bahtsul Masail, proses perdebatan panjang selalu hadir, dg segar tetapi sangat argumentatif. Berbagai perspektif jadi pertimbangan. Fatwa tak mungkin lahir sebelum ada _tashawwurul masalah_, harus tahu masalah, tahu konteks, tahu pertimbangan hukum nirmatif, tahu tujuan, tahu implikasi dan tahu bisa diimplementasikan. Tidak akan menetapkan hukum sebelum analisis n pertimbangan yang matang.

Jadi, debat bagi Kyai Makruf bukan hal baru. Politik bagi beliau, adalah habitat lama.

Positioning

Banyak orang tertipu dg kesan pasifnya Kyai Makruf. Padahal, dari awal Kyai Makruf memahami positioning beliau sbg Calon Wakil Presiden. Tugas utama adalah membantu proses Presiden. Itulah sisi kenegarawanan dan sisi keulamaan Kyai Makruf masuk. Politik Ulama, bukan Ulama Politik.

Komitmen dan Faham Tugas: Wapres Mendukung Kebijakan Presiden

Beliau seringkali sampaikan, salah satu akar masalah bangsa adalah karena semua *merasa bisa, tp tak bisa merasa*, sedang dalam posisi dan kedudukan apa. Semua ingin mengerjakan apa saja, tanpa melihat di mana dan sebagai apa dia berposisi.

Dg statemen sederhana Kyai "Cukup. Saya akan mendukung kebijakan Pak Jokowi" adalah cermin komitmen dwitunggal, dan " _hasbal maqam_", sesuai posisi. Tahu ttg apa yang dibicarakan. Karena visi pemerintahan ke depan adalah visi bersama, bukan masing2 capres dan cawapres. Apa jadinya kalau saling salip. Statemen pendek Kyai Makruf menunjukkan kelas kenegarawanan sekaligus keulamaan. " _Khairul Kalami Qalla wa Dalla_ ", sebaik2 statemen, itu pendek dan fokus. Itu adalah kepiawaian Kyai.

Isu Penanganan Terorisme

Dalam merespons isu terorisme, lagi2 Kyai Makruf menjawab pendek. Namun, langsung mengena dan solutif, menjawab persoalan faktual dg langkah konkret, sesuai masalah dan konteks masalahanya. Beliau bicara konkrit dan mennjukkan sangat memahami masalah terorisme.

Beliau menjelaskan ada dua pendekatan, kontraradikalisme dan deradikalisasi. Kalau disebabkan faktor ekonomi, maka pendekatannya adalah pemberian lapangan kerja agar para teroris mendapatkan pekerjaan dan nafkah yang layak. Kedua, jika penyebabnya adalah paham agama yang menyimpang, maka solusinya adalah mengembalikan pemahaman keagamaan yang menyimpang ke jalan yang lurus, atau *ar-ruju' ilal haqq*.

Jawaban pendek tapi sangat substantif, bernas, dan mengenai, _straight to the point_. Jawaban ini muncul dari kedalaman ilmu dan pengalaman panjang. Beliau, saat di MUI membahas n menetapkan fatwa soal terorisme. Tidak hanya itu, terlibat aktif dalam penanggulangan terorisme bersama Kantor Wakil Presiden sejak bertahun2. Beliau juga membentuk badan khusus di MUI yang bertugas melakukan pencegahan terorisme dengan pendekatan agama.

Isu Disabilitas

Isu soal disabilitas, lagi2 Kyai Makruf menjawab pendek, tapi mengena jantung persoalan. "Perlu membangun kesadaran publik akan pentingnya penghargaan pada disabilitas".

Dahsyat.... Itulah pangkal masalah diskriminasi yang terjadi selama ini. Paralel dengan pendekatan struktural, dengan regulasi dan penyediaan infrastruktur ramah disabilitas n kesetaraan kesempatan di berbagai bidang, yang juga harus dilakukan adalah membangun _public awarness_.

Kyai Makruf tidak mengulang jawaban yang sudah dipaparkan Jokowi, tapi menambah poin penting. Yg pendekatan struktur sdah diulas Jokowi. Pantang mengulang, Kyai ambil posisi ruang kosong yg selama ini terlupakan namun sangat penting, pendekatan kultural, membangun komitmen n kesedaran publik untuk penghormatan atas disabilitas. Mereka setara.

Pasangan yang saling mengisi. Tak banyak basa basi dengan untaian kata2 tak bermakna.

Kalimat2 Kyai Makruf Amin, pendek tetapi berisi, penuh substnsi khas kyai. Tetapi, dalam kalimat pendeknya sangat bernas, solutif, empiris, dan kontekstual, khas negarawan senior yang kenyang pengalaman.

Selebihnya, Kyai tampil paling kalem sekaligus benar2 sebagai representasi Ulama. Tokoh agama yang memiliki kapasitas dalam menjawab persoalan dg berbagai track record di bidang politik, pendidikan, ekonomi sosial, budaya dan kemasyarakatan, yang sudah puluhan tahun malang melintang di jagat perpolitikan: tapi sangat santun, wise, dan penuh hikmah. (ans)

Ibnu Sholehudin
Aliansi Nasional Santri

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar