Ini Hukum Calon Presiden Jadi Imam Shalat Para Ulama

Ini Hukum Calon Presiden Jadi Imam Shalat Para Ulama

Beberapa waktu lalu masyarakat diramaikan tersebarnya sebuah foto seorang calon presiden menjadi imam Shalat Dzuhur di Pesantren Darul Ulum Rejoso, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Banyak yang komentar negatif karena yang jadi makmum adalah para kiai yang lebih ahli dalam membaca Al-Qur’an.

Padahal, kala itu pengasuh Pesantren Darul Ulum Rejoso yang lebih bagus ilmu agama dan bacaan Al-Qur’annya justru mempersilakan calon presiden menjadi imam.

Menurut Wakil Rais Syuriyah PCNU Jombang KH M Soleh, status shalat imam dan makmum tersebut tetap sah selama bacaan Al-Fatihah imam benar, sementara makmumnya juga rela.

"Walaupun yang jadi makmum ada yang lebih bagus bacaan Al-Qur’annya, maka shalatnya tetap sah. Walaupun makmumnya lebih paham agama Islam, kalau mereka rela diimami oleh imam tersebut, maka hukum shalat jamaah mereka tetap sah,'' jelasnya, Jumat (4/1).

Kiai Soleh menambahkan, bila dalam shalat fardlu (wajib) sang imam tidak bisa membaca Al-Quran dan hanya mengandalkan hafalan pun, maka shalatnya tetap sah.

"Bagaimana hukum imam yang tidak bisa baca Al-Qur’an, tapi hafal Fatihah dan surat pendek? Dalam kitab Ihya (Ulumuddin, red.) seperti itu dibolehkan. Asal makmum yang lebih alim dan lebih qari (bagus bacaannya, red.) tadi mempersilahkan. Dan mereka rela jadi makmum,'' ujar Kiai Soleh.

Jangan Ngotot Rebut Jadi Imam
Kiai Soleh lalu bercerita, dirinya selalu berpesan kepada para santrinya yang hendak pulang kampung untuk tidak ngotot jadi imam walaupun sang santri bacaan Al-Qurannya lebih bagus. Lebih alim ilmu agama. Kalau tidak diberi giliran jadi imam, jangan ngotot merebut jadi imam. Juga jangan mufaraqah (memisahkan diri) dari imam di kampung walaupun imam itu tidak lebih alim dan tidak lebih bagus bacaan Al-Qur'annya.

"Baru kalau nanti santri alumni pondok yang lebih bagus Al-Qur'annya dan ilmu agamanya tadi diberi giliran jadi imam, maka majulah sebagai imam. Ini demi menjaga kemaslahatan di tengah umat," beber Kiai Soleh.

Dikatakannya, sikap dan akhlak seorang santri lebih mendahulukan kepentingan bersama. Kepentingan umat lebih diutamakan daripada keinginan pribadi.

"Jika santri bisa ngemong (merangkul) masyarakat, maka pasti masyarakat mau merujuk kepadanya. Tapi jika santri itu nyerondol-nyerondol, nyonyol-nyonyol, masyarakat justru akan lari darinya," tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Abdullah Alawi/NU Online)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar

close
Ardha Kids