Buya Syafii dan Gus Mus, Teladan Tokoh Bangsa di Tahun Politik Minim Spiritual

Buya Syafii dan Gus Mus, Teladan Tokoh Bangsa di Tahun Politik Minim Spiritual

Spiritual yang dimaksud disini adalah sebagaimana di ungkapkan oleh Tenzin Gyatso dengan kualitas spirit kemanusiaan (qualities of the human spirit), seperti cinta, kasih sayang, sabar, toleran, pemaaf, sikap bertanggung jawab, sikap damai (Abdul Wahid Hasan: 2015, 24).

Politik dewasa ini lebih menjurus pada perebutan kekuasaan. Maka tidak heran ketika kita mengatakan politik yang terbayang adalah pilbub, pilgub, pilpres, dan pil-pil yang sejenisnya. Disini tidak bertujuan untuk membicarakan arti politik yang semestinya, melainkan politik kekuasaan itulah yang menjadi objek diskusi kita kali ini.

Kemrosotan dari konotasi arti politik dewasa ini adalah hanya berhenti pada siapa lawan dan kawan dalam kancah pertarungan perebutan kursi jabatan. Kritik kepada penguasa lalim akan merosot ketika yang diusung adalah pahlawannya. Bahkan malah berbalik mengkritik orang-orang yang mengkritik penguasa karena tidak merasa puas bahkan dirasa telah bertentangan dengan kemaslahatan masyarakat banyak. Sangat aneh kan? Itu karena titik berangkatnya juga sudah mengalami kerancauan.

Peristiwa seperti ini jelas argument terbalik dari posisi pejabat (pemimpin). Karena sesungguhnya pejabat adalah pelayan bagi rakyatnya. Langkah mengkultuskan berlebihan kepada pemimpin bisa melahirkan bahwa mereka menjadi raja bagi rakyatnya yang dengan ini rakyat harus menerima apapun keputusan pemimpin meskipun itu tidak berorientasi untuk kemaslahatan rakyatnya. Ini menjadi lebih menggelikan bagiku…memilih jagoan apa pahlawan sebenarnya ini sih???



Lebih mengerikannya lagi adalah polarisasi kelompok masyarakat tidak berhenti ketika salah satu kandidat telah terpilih secara resmi melalui pemilihan umum. masih seringkan menemukan argument aaah pendukung si A, si B, dst. Sangat ironi memang. Padahal yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan, tutur almarhum Gus Dur. Kemanusiaan dalam arti menghargai pilihan orang lain meskipun itu tidak sama.

Tidak menjadikan beda pilihan sebagai akibat dari terputusnya persaudaraan. Tidak menjatuhkan dengan argument abal-abal. Tunjukanlah dengan bukti logis bahwa calonnya mampu untuk membawa bangsa ini menjadi lebih baik, bukan hanya doktrin agama, fanatisme, dll. yang sangat lucu.

Indonesia dalam perjalanan sejarahnya tidak pernah lepas dari siraman spiritual. Dari manapun agama yang dianut mayoritas bangsa ini. Ketika spiritual mulai runtuh, babak baru apa yang akan dipersembahkan untuk bangsa ini?

Gus Mus dan Buya Syafi’i Ma’arif telah mencontohkan menjadi tauladan yang kaya spiritual.

Oleh: A. Ade Pradiansyah via islami.co

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar