Sulitnya Temukan Tokoh yang Bisa Bimbing Masyarakat Sepeninggal Gus Dur

Sulitnya Temukan Tokoh yang Bisa Bimbing Masyarakat Sepeninggal Gus Dur

Desember adalah bulan memperingati haul Wafatnya Presiden RI keempat, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diperingati di berbagai pelosok negeri. Gus Dur perlu diikuti akhlak baiknya oleh generasi bangsa. Namun generasi bangsa yang kehilangan anutan di zaman kini, menjadi kerepotan untuk mengikuti jejak akhlak Gus Dur yang rendah hati kepada semua manusia, apa pun agama dan sukunya.

Hal itu disampaikan Wakil Katib PWNU Jateng, KH Nasrulloh Afandi (Gus Nasrul) pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Kecamatan Mayong, Jepara, Rabu (19/12).

Menurutnya seperti publik mafhum, di luar hal pemikiran Gus Dur yang kontraversial dan susah diikuti, semestinya ada banyak kelebihan akhlak mulia pada diri Gus Dur, perlu dan mudah diikutui oleh publik. Namun, menjadi repot dan susah untuk bisa diikuti oleh publik.

“Di antara faktor yang membuat masyarakat umum repot, susah untuk mengikuti jejak akhlak Gus Dur adalah setelahwafatnya Gus Dur, masyarakat kehilangan tokoh teladan yang minimalnya bisa membimbing masyarakat untuk meniru akhlak mulia Gus Dur," kata peraih Doktor Maqashid Syariah, Summa Cum Laude Universitas al-Qurawiyin Maroko itu.

Fakta di lapangan, tuturnya, banyak orang bilang, "Akhlak kita harus seperti Gus Dur. Meski beliau jadi presiden tetap rendah hati, bergaul dengan semua kalangan, Gus Dur menyatu dengan semua elemen bangsa akar rumput sekalipun."

Anehnya, lanjut Gus Nasrul, orang yang pidato demikian, dirinya sendiri pilah-pilih pergaulan. "Hanya mau bergaul dengan kalangan pejabat atau orang terhormat, padahal dia hanya punya jabatan politik ‘kecil-kecilan’ saja," tutur alumni Pesantren Lirboyo Kediri itu.

Banyak pula aktivis ormas yang di mimbar pidato nyaring teriak, Kita harus meniru Gus Dur, meski tiga periode jadi Ketua Umum PBNU, selama lima belas tahun, namun Gus Dur tetap low profil, santun kepada semua khalayak umum, masyarakat perdesaan.


"Tetapi, kenyataannya orang yang nyaring di forum teriak demikian, dirinya baru sedikit punya posisi di Ormas tertentu saja, sudah langsung jaga jarak dengan masyarakat umum, lupa dengan teman lamanya, sikapnya menampakkan seolah-olah dirinya merasa tidak kelas bergaul dengan masyarakat umum," papar kiai muda Pesantren Balekambang Jepara Jateng itu.

Banyak juga yang di atas panggung lantang; Kita harus meniru Gus Dur, meski Gus Dur keturunan kiai besar, ia tidak pernah membangga-banggakan nasab, Gus Dur selalu menghormati orang karena ilmunya.

"Tetapi, sikap orang tersebut dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat ia berlebihan mengagunggkan nasab, dan kurang menghormati orang yang berilmu tinggi dan berakhlak mulia," ujarnya.

Dari sejumlah contoh gejala di atas, menurut Gus Nasrul, betapa jelasnya bahwa publik sulit mengikuti suri tauladan akhlak mulia Gus Dur. Di antara faktornya, sulit ditemukan tokoh yang bisa membimbing masyarakat setelah wafatnya Gus Dur.

"Bahkan justru publik mendapat ‘hiburan gratis’, lelucon, dari sejumlah tokoh yang mengajak meniru akhlak rendah hati Gus Dur, tetapi tokoh yang bersangkutan justru tidak mengamalkan teladan Gus Dur," pungkasnya. (Red: Kendi Setiawan/NU Online)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar