PBNU Gandeng Telkomsel Lawan Hoaks dan Ujaran Kebencian di Media Sosial

PBNU Gandeng Telkomsel Lawan Hoaks dan Ujaran Kebencian di Media Sosial

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggandeng Telkomsel untuk memasifkan dakwah Islam yang toleran dan ramah. Kerja sama tersebut dalam bentuk pelatihan sosial media melalui program NU Milenials.

“Kerja sama ini dalam bentuk pelatihan sosial media, terutama dalam menghadirkan informasi-informasi berupa dakwah Islam yang toleran dan ramah, menghadapi hoaks, menghadapi hate speech,” kata Ketua Program NU Millenials H Helmy Faishal Zaini di Gedung PBNU, Jakarta Pusat,  Kamis (11/29).

Pelatihan ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah. Nantinya, sambung Helmy, para peserta menjadi pelatih di daerah masing-masing.

“Jadi setelah ikut workshop ini, nanti mereka kita terjunkan ke daerah-daerah untuk membangun masyarakat yang netizen,” ucapnya.

Menurutnya, pelatihan ini diadakan karena NU berkepentingan untuk menghadirkan informasi yang toleran dan ramah serta membangun masyarakat yang memiliki  literasi bersosial media yang baik.

Helmy menyadari berkembangnya berita hoaks dan ujaran kebencian di media sosial. Untuk itu, menurutnya, warga NU juga harus membendungnya melalui media yang sama.

“Jadi ini dalam rangka memaksimalkan peran-peran keluarga besar NU  di dalam bersosial media,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Helmy juga menjelaskan bahwa gerakan melawan berita hoaks dan ujaran kebencian sudah berjalan dan banyak yang dilakukan oleh akun-akun dan website NU. Oleh karena itu, pelatihan ini sebagai upaya memasifkan gerakan.

“Kita punya NU Online, akun-akun Instagram, twitter yang sekarang marak. Tapi ini dalam rangka terus menambah energi baru agar gerakannya lebih massif lagi,” ucapnya.

Ia berharap, selepas pelatihan, para peserta langsung membagikan ilmunya di daerah masing-masing, sehingga penyebar hoaks dan ujaran kebencian makin sedikit karena masyarakat semakin cerdas.

“Pertama, target kami makin sedikit penyebar hoaks karena masyarakat semakin cerdas. Kedua, dapat mempersempit ruang gerak kelompok-kelompok yang terus menyebar fitnah,” ujarnya.

Sementara Komisaris Telkomsel Yose Rizal berharap, kerja sama antara pihaknya dan NU sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia dapat meningkatkan kesadaran (awareness) di masyarakat untuk rajin mengisi konten positif di media sosial.

Menurut Rizal, jika jumlah warga NU yang berjumlah puluhan juta tersebut menyebarkan konten positif di masyarakat, ia meyakini internet dan media sosial di Indonesia menjadi baik.

“Karena sebetulnya konten-konten negatif, misalkan hate speech, radikal itu tidak banyak. Karena di ulang-ulang saja terus. Nah, kadang-kadang kita kurang cepat merespons isu-isu tersebut dengan konten-konten positif,” ucapnya.

Ia mengajak kepada warga NU untuk terus menyebarkan konten-konten positif agar kaum milenial tidak dirusak oleh kelompok-kelompok yang menyebarkan berita hoaks dan ujaran kebencian.

“Millenial tergantung apa yang ada di layar handphone-nya. Jadi gimana kita membentuk milenial Indonesia ke depan, ya gimana kita memenuhi layar handphone (milenial) dengan pesan-pesan positif,” jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi/NU Online)

Baca juga:

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar