Meluruskan Tuduhan Keji "Banser Nu Sesat dan menyimpang"

Meluruskan Tuduhan Keji "Banser Nu Sesat dan menyimpang"

BENARKAH BANSER NU SESAT DAN MENYIMPANG ?

Duta Besar (Dubes) Kerajaan Arab Saudi untuk Republik Indonesia Osamah Muhammad Al-Suaib, melalui cuitan dalam akun Twitternya menuding dengan mengaitkan reuni akbar 212 tahun 2018 kemarin adalah akibat dari aksi pembakaran bendera yg dilakukan oleh organisasi yg dimaksudnya dengan mengatakan jamaah almunharifah (organisasi yang sesat atau menyimpang).

"massa yang berjumlah lebih dari satu juta berkumpul demi menyatakan persatuan umat Islam merupakan reaksi keras terhadap dibakarnya bendera tauhid oleh seorang atau pihak organisasi sesat, menyimpang, kurang lebih sebulan yang lalu." Begitu cuitan Osamah lewat akun twitternya @Os_alshuibi yg ia hapus beberapa saat kemudian.

Tudingan Osamah tsb jelas membuat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor NU tersinggung dan geram karena merasa dihina oleh Osamah yg menyebut organisasi yang sesat dan menyimpang. PBNU dan PP GP Ansor menyampaikan protes keras atas tudingan Osamah tsb karena Osamah dianggap telah sengaja mencampuri urusan politik Indonesia dan melangkahi kewenangannya sebagai Dubes dengan melontarkan fitnah, hoax dan ujaran kebencian yg bernuansa provokatif yg bisa kembali menimbulkan kegaduhan. Padahal urusan bendera HTI sudah selesai. Para ulama, ormas Islam, Kementrian terkait, TNI-Polri hingga Pemerintah RI yg dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla telah bersepakat menyelesaikan kasus tersebut. Pelaku telah diproses hukum. GP Ansor juga memberi sanksi kepada pelaku dan telah meminta maaf. PBNU pun turut menyesalkan kejadian tersebut.

"Kami betul-betul merasa dihina oleh pernyataan Osamah Muhammad Al-Suaibi yang menganggap bahwa kemarin reuni 212 itu, yang dihadiri jutaan umat (klaim PA 212), merupakan reaksi dari pembakaran bendera Tauhid yang dilakukan oleh organisasi sesat dan menyimpang," kata Ketum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, Lc.,MA di Kantor PBNU, Jakarta, Senin, 3 Desember 2018.

Setelah PBNU mengeluarkan pernyataan sikap yang disiarkan secara langsung melalui konfrensi pers di kantor PBNU, Kementerian Luar Negeri Repubik Indonesia (Kemlu RI) pun langsung merespon dgn manggil Duta Besar Arab Saudi di Jakarta sehubungan dengan cuitannya yg terkesan mendiskreditkan NU dan melampaui batas kewenangannya di Indonesia. "Secara etika, penyampaian pernyataan seperti yang ada dalam sosmed Dubes Saudi tidak sesuai dengan prinsip hubungan diplomatik," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Armanatha Nasir, Selasa, 4 Desember 2018.

Menuding Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dengan kalimat organisasi sesat dan menyimpang seperti menuduh NU dengan kalimat yg sama, sebab Banser adalah sayap dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor, dan GP Ansor adalah Badan Otonom (Banom) dari ORGANISASI yg bernama NAHDLATUL ULAMA (NU), jadi organisasi induk dari Ansor-Banser adalah NU, sehingga jgn heran meskipun Osamah tidak secara eksplisit menyebut nama organisasi pada cuitannya, tudingan Osamah tsb jelas membuat warga Nahdliyin geram dan tersinggung karena orang awampun tahu arah dari narasi Osamah menuju ke organisasi mana, karena yg membakar bendera HTI adalah oknum anggota Banser yg terprovokasi oleh propaganda HTI sehingga khilaf dan kemudian melanggar prosedur tetap (protap) organisasi. Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor pun melalui konfresi pers telah meminta maaf kepada publik atas pelanggaran anggotanya yg telah menimbulkan kegaduhan beberapa waktu lalu.

Sementara pengadilan Garutpu sudah menjatuhkan sangsi pidana kurungan penjarah dan denda kepada keduanya, baik yg membakar bendera HTI maupun yg memprovokasi dengan mengibar-ngibarkan bendera HTI yg telah dilarang dan disepakati oleh panitia untuk tidak menggunakan bendera apapun selain bendera merah putih pada perayaan hari santri di Garut Jawa Barat beberapa waktu lalu. Sehingga dengan demikian persoalan bendera HTI ini sudah clear/selesai, tidak perlu diungkit lagi.

Sebagai orang yg berpendidikan dan menempati posisi sebagai Duta Besar di Negara yg majemuk ini, Osamah seharusnya bijak dgn tidak perlu ikut campur persoalan politik dalam negeri dengan mengaitkan sesuatu yg tidak ada hubunganya sama sekali, apalagi sampai membangun narasi yg bernuansa provokatif yg bisa menimbulkan kegaduhan lagi di dalam negari.

Tudingan Osamah itupun sangat riskan dilontarkan dalam situasi politik yg semakin memanas menjelang perhelatan pilpres 2019, sebab sebagai pejabat publik, statemen apapun bisa diplesetkan, dipolarisasi, bahkan dipolitisasi guna kepentingan politik, sehingga tidak heran jika kemudian HTI yg sedang galau dan tercekik seakan mendapatkan angin segar dari pernyataan Dubes Arab Saudi untuk dijadikan sebagai senjata mendiskreditkan Banser dan tentunya juga NU yg dianggap sbg batu sandungan terbesar untuk khilafah atau NKRI bersyariah di Republik ini.

MEMAHAMI LEBIH JAUH BANSER NU

Dari penjelasan sebelumnya, kita pasti sudah semakin paham bahwa ternyata Banser itu adalah Santrinya Organisasi Masyarakat (Ormas) yg bernama NU (Nahdlatul Ulama). Banser sendiri secara spesifik bertugas menjaga keamanan dan ketertiban apabila NU/Muslimat NU punya hajatan, misalnya tausiah atau pengajian, dimana natasumber-narasumbernya berasal ulama2 NU, serta melindungi jamaah NU dari penceramah2 radikal dan provokatif. Jadi tidak benar jika kemudian ada tudingan bahwa Banser gemar membubarkan pengajian, itu salah besar dan semua adalah fitnah keji yg sama sekali tidak punya dasar yg jelas dan sampai sekarang tidak pernah bisa dibuktikan.

NU sendiri merupakan organisasi besar yg memiliki banyak Banom, organ sayap, lembaga, dan lajna, salah satunya ya Banser. Nahdlatul Ulama (NU) yg artinya Kebangkitan Ulama adalah ormas Islam yg lahir di Indonesia sebelum Republik ini merdeka, NU merupakan wadah bagi para ulama, syeikh, kiai dan habaib yg umumnya berumur 40 tahun keatas, sementara para nyai, ustadzah, ibu2 majelis ta'lim (ulama wanita) di umur yg sama tergabung dalam Muslimat NU yg selama 2 periode ini dipimpin oleh mantan Ketum Kopri PB PMII yg juga mantan Menteri Sosial RI yg saat ini menjabat sbg Gubernur baru Jawa Timur Hj. Khofifah Indar Parawansah. Jadi, NU dan Muslimat NU inilah orangtua/guru/teladan dari semua banom NU termasu Banser. Nah sudah mulai paham kan ? Ok lanjut...

NU sendiri menganut paham keagamaan terbesar di Dunia yakni Ahlussunah waljama'ah (Aswaja An-Nahdliyah) yg merupakan sebuah pola pikir yg mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalitas) dgn naqli (nash atau skripturalis). Karena itu sumber hukum Islam bagi NU tidak hanya al-Qur'an dan sunnah, tetapi juga ijma' dan qias yg tentunya tetap menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik, sehingga NU sangat paripurna dalam bersikap. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikiran ulama2 besar terdahulu seperti Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Abu Mansur Al Maturidi dalam bidang teologi/ Tauhid/ketuhanan. Kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab: Imam Syafi'i dan mengakui tiga madzhab yg lain: Imam Hanafi, Imam Maliki, dan Imam Hanbali sebagaimana yg tergambar dalam lambang/logo NU berbintang 4 di bawah. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Imam Al-Ghazali dan Syeikh Juneid al-Bagdadi, yg mengintegrasikan antara tasawuf dgn syariat. (Baca Juga: http://www.nu.or.id/post/read/61776/inilah-penjelasan-mengenai-aswaja-perspektif-nu)

GP Ansor adalah Badan Otonom (Banom) pemuda NU yg umumnya pria berumur 22-40 thn, biasanya para Mahasiswa yg selesai study, baik yg pernah tergabung dalam organ intra kampus seperti PMII, HMI, KAMI, LMND, dsb, bahkan IMM sekalipun atau yg selama kuliah tidak pernah berorganisasi, semuanya bisa masuk/bergabung dengan GP Ansor, karena GP Ansor membuka diri bagi siapapun yg ingin berada dijalan NU. Kalau Banom pemudi/wanita NU umur yg sama dgn GP Ansor nama organisasinya Fatayat NU, organ sayapnya namanya Fatser (Fatayat Serbanguna) atau Denwaser. Nah baik GP Ansor maupun Fatayat yg berpendidikan Strata1,2, dan 3, mereka berkumpul di salah satu lembaga NU yg namanya ISNU (Ikatan Sarjana NU).

Dalam dunia kampus, banom NU yg lahir dari rahim NU dan memperjuangkan nilai2 Aswaja An-Nahdliya sebagai Manhajul Fiqr adalah Mahasiswa yg tergabung dalam organ intra kampus PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) mereka inilah yg tidak jarang disebut oleh kiai2 NU sbg anak2 NU yg bandel, karena kadang kala tidak manut sama orangtuanya (NU). Dilingkungan pelajar baik di pesantren maupun sekolah umum khususya setingkat SMP dan SMA, banom NU yg mewadahi mereka adalah IPNU (Ikatan Pelajar NU) dan IPPNU (Ikatan Pelajar Putri NU), kalo kalian kenal Nissa Sabyan penyanyi muslimah bersuara merdu itu, dia adalah bagian dari kader IPPNU.

Jadi semua banom, lembaga, lajna, dsb, diataranya telah disebutkan diatas, merka semuanya adalah Santri NU, dan NU sendiri adalah santri Hadratusyekh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari, Rois Akbar dan tokoh utama pendiri NU yg nasab/silsilah maupun sanad keilmuamya tembus sampai ke Rasullulah SAW.

Gelar atau predikat “Hadratussyekh” yg artinya Maha Guru bukalah sembarang gelar yg dapat disandang sembarangan ulama, kecuali bagi yg telah memenuhi kualifikasi keilmuan yg tinggi termasuk dalam bidang ilmu hadits. Ulama berpendapat bahwa gelar “Hadratussyekh” yang disandang Mbah Hasyim sejak dari Mekkah ini, dipastikan KH Hasyim Asy'ari selain menguasai secara mendalam berbagai disiplin keilmuan Islam, juga hafal kitab-kitab babon hadits dari Kutubus Sittah yg meliputi Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Bukhori Muslim, Sunan Abu Dawud, Turmudzi, Nasa'i, Ibnu Majah.

Dalam tradisi keilmuan NU, yg disebut sebagai "Santri NU" adalah mereka yg baik secara struktur tergabung dalam Jam'iyyah NU maupun yg secara kultur berafiliasi dengan NU yg kemudian disebut sebagai warga Nahdliyin. Santri dalam perspektif NU adalah yg dalam perilaku keagamaan baik dalam manhajul fikr (metode berfikir) maupun secara ideologis mengikuti ijma'/kesepakatan mayoritas ulama2 NU sebagaimana dalam konsep Aswaja An-Nahdliyah atau qunun asasi (Ad/Art) yg dirumuskan oleh Hadratussyaik KH. Hasyim Asy'ari sebagai pedoman warga NU sebagaimana beberapa diantaranya telah disebutkan diatas yakni dalam teologi/ Tauhid/ketuhanan mengikuti Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Abu Mansur Al Maturidi, kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab: Imam Syafi'i dan mengakui tiga madzhab yg lain: Imam Hanafi, Imam Maliki, dan Imam Hanbali, Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Imam Al-Ghazali dan Syeikh Juneid al-Bagdadi.

Pengertian Santri NU

"Santri" dalam tradisi maupun terminologi NU tidak dibatasi dengan orang yg berada di pondok pesantren saja dan bisa mengaji kitab atau ahli agama. Namun, santri dalam khazanah NU adalah murid ulama, orang-orang yg berguru, mengikuti, dan setujuh dengan pemikiran, perjuangan, ijma' (kesepakatan mayoritas ulama) dan ijtihad (konsep pemikiran) para ulama2 NU, serta turut dalam perjuangan kaum santri, mereka dianggap sebagai santri NU walaupun tidak bisa baca kitab, tetapi tetap istiqomah berada digaris perjuangan NU yg dinahkodai oleh PBNU sebagai Pengurus Besar yg tentunya baik nasab/silsilah maupun sanat keilmuan ulamanya tidak terputus dan sampai ke Rasullulah SAW yg tentunya tidak sembarang taklid buta (telan menta2) tetapinya mengkaji terlebihdahulu, jika sesuai dan tidak bertentangan dengan syareat, maka diterima, dijaga, diamalkan, dan dilestarikan. Sehingga mereka yg istiqomah menjadi santri NU sebagaimana yg telah disebutkan datas, Insya Allah tidak akan tersesat dan menyimpang sebagaimana tudingan Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Osamah Muhammad Al-Suaib yg dilihat dari sikapnya orang ini berfaham Wahabi sebuah sekte radikal ekstrim kanan dalam Islam yg lahir di Arab Saudi.

Lantas benarkah Banser NU itu sesat dan menyimpang ?  Sementara Banser adalah SANTRI NU, bagian dari ormas NU, yg memiliki guru dan orangtua yg bernama NU, sebagaimana yg telah dijelaskan pada ulasan sebelumnya. Masri kita periksa sanad keilmuan NU sbb, agar tidak sembarangan menuding Banser sesat dan menyimpang.

SANAD - SILSILAH KEILMUAN/KEGURUAN NU (NAHDLATUL ULAMA) SAMPAI KEPADA NABI ADAM AS.

Pengertian

SANAD ILMU atau SANAD GURU adalah rantai ilmu atau rantai guru yg tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sanad ilmu atau sanad guru yg tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wassallam  berlaku untuk seluruh umat Islam.

Jadi sebuah pendapat atau pemahaman atau fatwa wajib ada ketersambungan dengan lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kalau tidak ada ketersambungan artinya hanyalah prasangka atau akal pikiran manusia semata yg berunsurkan hawa nafsu atau kepentingan semata.

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, " di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya. ” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

PERLUNYA SANAD GURU DALAM MENUNTUT ILMU

Berkata Imam Ibnu Sirin : "Ilmu itu adalah agama, Maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agama (ilmu agama tersebut).

Telah bersabda Rosululloh Sholallohu 'Alayhi Wa Sallam : " Siapa orangnya yg menguraikan Al-Qur'an dgn akal pikirannya sendiri, Sesungguhnya ia telah berbuat kesalahan". (HR. Ahmad).

Sanad itu bagian dari agama, Jika tidak karena sanad maka setiap orang akan berkata apa saja yg dikehendakinya (Yaitu dalam urusan agama tanpa ilmu mendalam tentangnya) Muqoddimah Shahih Muslim Imam Mubarok.

Ingatlah.... Ukuran kelayakan keilmuan yg sebenarnya dalam neraca pembelajaran dan pengajaran ilmu2 agama yg murni bukanlah pada ukuran akademis MODERN yg merupakan acuan tradisi barat, tetapi ukuran sebenarnya adalah pada sandaran (sanad) keilmuan seseorang yg mengajar ilmu agama, baik sanad ilmi, ijazah tadris, ijazah 'ammah yg disertai ijazah tadris maupun lainnya yg menjadi sumber rujukan.

Imam Sufyan Atsauri berkata : "Sanad adalah senjata seorang mukmin, Bila ia tidak memiliki senjata maka dengan apa ia berperang"

Syu'bah bekata : "Setiap hadits yg tidak terdapat di dalam kalimat HADDATSANA (Telah menceritakan kami) dan AKHBARONA (Telah mengabarkan kami), Maka ia seperti seseorang lelaki di tanah lapang bersama seekor keledai yang tidak memiliki tali kekang."

Ibnul Mubarak berkata : ”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yg mau dgn apa saja yg diinginkannya (dgn akal pikirannya sendiri).” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 ).

Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yg kau pelajari) dari orang yg tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)”

Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…" Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka ” (HR.Tirmidzi).

Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan: "tiada ilmu tanpa sanad ”.

Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan : “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yg ingin naik ke atap rumah tanpa tangga ”.

Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203.

Dan masih banyak lagi pendapat para Ulama tentang sanad. Dalam ilmu agama tidak ada hal yg baru, semua harus sesuai dgn apa yg disampaikan oleh lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yg artinya “ Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yg kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yg berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap2lah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari).

Hakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yg diperoleh dari para ulama yg sholeh dan disampaikan secara turun temurun yg bersumber dari lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam. Oleh karenanya ulama dikatakan sebagai pewaris Nabi.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, : “ Ulama adalah pewaris para nabi ” (HR At-Tirmidzi). Ulama pewaris Nabi artinya menerima dari ulama2 yg sholeh sebelumnya yg tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

PEWARIS NABI artinya menerima dan mengikuti risalah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dgn baik dan benar secara kaaffah meliputi aqidah (Iman) , ibadah (Islam/syariat) dan akhlaq (Ihsan/tasawuf).

Dalam tradisi belajar dan mengajar dikalangan pelajar dan umat islam, sanad ilmu menjadi unsur yg sangat penting dan utama. Mungkin para penuntut ilmu pada masa zaman sekarang kini punya pandangan bahwa mencari pengetahuan agama serta mendalaminya dapat dilakukan dgn cara instan. Karena banyak buku2 agama sudah diterjemahkan, diringkas dan dibahas secara tematis dan faktual, begitu pula dgn kecanggihan teknologi melalui dunia maya sebut saja Google misalnya.

Seseorang yg ingin menambah pengetahuan agama dan mengetahui jawaban atas berbagai permasalahan agama tak perlu lagi bersusah payah mengaji kepada Ulama untuk sekian lama dan membuka kembali kitab2 Turots (yaitu khazanah klasik) atau kita sebut petuah para Ulama.

Pendapat ini memang sepintas benar. Tapi ingat ada suatu perkataan yg termasyur yg berbunyi : MAN KAANA KITABUHU USTADZUHU FADHOLALUHU AKTSARU MIN FAHMIHI Artinya : Siapa orangnya yg menjadikan kitab/buku sebagai gurunya, Maka ketersesatannya itu lebih banyak dari pada pemahamannya. Maksudnya adalah meraih pengetahuan dgn sekedar mengandalkan buku bacaan, di khawatirkan akan melibatkan seseorang kepada takwil atas teks yg tidak mengertinya, yg berimbas pada pengetahuan yg salah. Contohnya seperti wudhu, sholat, dll itu bagaimana caranya? Wal Iyaadzubillah...

Berkata Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa: "Karena orang yg berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja tidak akan menemui kesalahannya, karena buku
tidak bisa menegur, sedangkan guru bisa menegur jika salah, Atau jika ia tak paham maka ia bisa bertanya, Tapi kalau berguru hanya kepada buku, Jika ia tak paham ia hanya terikat dgn pemahaman dirinya".

Walau demikian kita boleh membaca buku tapi kita juga harus mempunyai guru yg mana bisa bertanya kepadanya jika kita mendapatkan masalah, terutama guru2 yg bersanad akan keilmuannya.

DAN INILAH SANAD-SILSILAH KEILMUAN/KEGURUAN BANSER NU

Sebagaimana yg sudah dijelaskan bahwa Barisan Ansor Serbaguna disingkat Banser adalah organ sayap Gerakan Pemuda (GP) Ansor, GP Ansor adalah ormas pemuda Islam Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU) yg lahir dari rahim NU dan belajar/berguru/nyantri (menjadi santri NU).

GP Ansor sendiri didirikan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah pada 24 April 1934, KH. Abdul Wahab Chasbullah adalah salah satu ulama pendiri NU dan merupakan santri (murid) dari Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan Ketua utusan Komite Hijaz NU yg direkomendasikan oleh KH Hasyim Asy'ari untuk berangkat ke tanah suci dan berhasil meyelamatkan makam Nabi Muhammad SAW yg akan dibongkar oleh raja Arab Saudi saat itu yg berpaham radikal Wahabi.

Sementara itu, baik PBNU beserta seluruh organ sayap, banom, lembaga, lajna, dan seluruh Nahdliyin yang berafiliasi dengan NU dan turut berada digaris perjuangan NU semuanya adalah Santri (murid) Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yg terus istiqomah, meneladani, maupun mengikuti jalan perjuangan para ulama2 NU. Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari adalah salah satu ulama besar termanyur diakui dunia yg pernah dimiliki republik ini yg baik secara nasab (silsilah) maupun sanat keilmuannya tembus sampai ke Rasullulah SAW.

Berikut beberapa nama Ketua Umum (Ketum) PBNU dari masa ke masa yg nasab maupun sanat keilmuannya tersambung sampai ke Nabi Muhammad Rasulullah SAW

1. Prof. DR. KH. Said Aqil Siradj. Lc.,MA
Ketum PBNU 2009 hingga saat ini. Ulama Indonesia yg dianugerahi gelar Doktor lulusan terbaik (cum laode) di salah satu universitas terkemuka di Timur Tengah ini pernah disebut Gus Dur sebagai "Sarjana muda NU yg berfungsi sbg perpustakaan berjalan" karena kecerdasannya, konsep Islam NUsantara yg menjadi tema besar pd Muktammar NU ke 33 di Jombang Jawa Timur 2014 silam adalah bagian dari ijtihad Ketum PBNU yg akrab disapa Kang Said ini.

Sbgmna pendahulu sekaligus gurunya nya Gus Dur, kang said juga dikenal kontroversial dan sering dituduh syiah dan liberal akibat keberanianya merombak arus dan sbgmna Gus Dur pemikirannya juga barangkali terlampau melewati zamanya sehingga belum mampu diterima semua pihak, bahkan ia berani mengembangkan konsep Aswaja yg dipahami NU selama ini menjadi lebih kaya.

2. KH. Hasyim Muzadi.
Beliau adalah ulama moderat cerdas NU yg sangat dihormati oleh kelompok diluar NU, ia merupakan Ketum PBNU yg paling jarang difitnah dan dihina.

3. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Mantan Presiden RI ke-4 ini adalah tokoh NU yg paripurna, karena selain seorang ulama yg selama 3 periode memimpin ormas islam di negeri ini (PBNU), ia juga merupakan negarawan (umaro) yg luarbiasa, ia adalah tokoh NU yg paling kontroversi dan populer diantara tokoh2 NU lainya, ia dikenal sebagai bapak pluralisme/humanisme Indonesia yg melindungi serta memperjuangkan hak2 kaum minoritas di Indonesia, ia bahkan sering berani mengkritisi pemerintahan orde baru yg menyimpang dgn dibalut humor2 cerdas yg konstruktif. Selain itu, ia juga terkenal dengan karomahnya diantaranya ia mampu sesuatu yg pd akhirnya menjadi kenyataan, sehingga tidak heran banyak yg menyebutnya sebagai Walliyullah, wallahu'alam bishowab. Ulama NU yg dikenal nyentrik dan humoris ini juga merupakan cucu/keturunan dari Hadhratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari

4. KH.Wahid Hasyim.
Beliau adalah putra Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, ayah dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Beliau orang yg sangat cerdas wafat dalam usia muda 39 tahun, Beliau menjadi ketua umum PBNU dan merangkap sebagai Menteri Agama pertama RI, beliau juga mantan anggota inti team 9 PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yg turut merumuskan Pancasila. Ada banyak sekali ulama2 NU yg memiliki sumbangsi dan kontribusi besar atas kemerdekaan negara ini. Salah satunya adalah KH. Wahid Hasyim.

5. Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari
Mbah Hasyim orangtua dari KH. Wahid Hasyim, dan Kake' dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Mbah Hasyim adalah tokoh utama pendiri NU dan satu-satunya dalam sejarah penyandang gelar Rais Akbar NU.

Mbah Hasyim juga adalah ulama yg mengeluarkan fatwah Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 yg merupakan embrio dari pecahnya peperangan besar 10 November 1945 di Surabaya yg saat ini dikenal sbg Hari Pahlawan Nasional. Fakta sejarah menyebutkan bahwa para ulama, santri dan semua elemen bangsa bersatu dan akhirnya berhasil mengusir Belanda yg saat itu menggandeng tentara sekutu yg baru saja memenangkan perang dunia II yg berencana kembali menjajah Indonesia, maka tidak heran jika kemudian pemerintahan Jokowi menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN) sebagai bentuk penghargaan pemerintah atas jasa2 ulama dan santri yg turut memerdekakan republik ini.

Sejak kecil hingga dewasa, Mbah Hasyim Asy'ari banyak belajar/berguru (nyantri) ke ulama2 besar Aswaja Dunia, diantaranya kepada Syeikhona Kholil Bangkalan, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Abdul Syakur, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al-Habsyi. Di Makkah, awalnya KH. Hasjim Asy'ari belajar di bawah bimgingan Syaikh Mafudz dari Termas (Pacitan) yang merupakan ulama dari Indonesia pertama yang mengajar Sahih Bukhori di Makkah.

6. Syaikh Mahfudz at-Termasi.
Adalah Mursyid Hadits Bukhori matan ke 23, murid beliau diantaranya:
-Syech Mahfud Termas - Pacitan
-Syech Arsyad Banjar Masin Martapura.
-Syech Somas - Palembang.
-Syech Arsyad Al Banjari - Banjarmasin
-Syeikhona Kholil - Bangkalan, Madura.
-Abdul Somad Al-Palembangi.

Sejumlah murid yg berhasil di cetak beliau Syeikhona Kholil Bangkalan diantaranya adalah Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy'ari (tebu ireng, jombang), KH Wahab Hasbulloh (Tambak beras, Jombang/Pendiri Ansor-Banser NU), KH Bisri Syansuri (Denanyar, jombang), KH As’ad Syamsul Arifin Sukorejo Situbondo), Kiai Cholil Harun (Rembang), Kiai Ahmad Shiddiq (Jember), Kiai Hasan (Genggong Probolinggo), Kiai Zaini Mun’im (Paiton Probolinggo), Kiai Abi Sujak (Sumenep), Kiai Toha (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Usymuni (Sumenep), Kiai Abdul Karim (Lirboyo Kediri), Kiai Munawir (Krapyak Yogyakarta), Kiai Romli Tamim (Rejoso Jombang), Kiai Abdul Majid (Bata-Bata Pamekasan). Dari sekian banyak santri Syaikhona Kholil pada umumnya menjadi pengasuh pesantren dan tokoh NU di Nusantara.

7. Syaikh Nawawi al-Bantani.
Karangan Kitabnya : Syarh safinatunnaja, syarh sulamut taufiq, dll. Yang mayoritas Ulama di Indonesia memakai karangan Syeikh Nawawi Al Bantani sebagai rujukan. Salah satu keturunan Syaikh Nawawi al-Bantani yang menjadi ulama besar di Indonesia adalah Prof. Dr. KH. Ma'ruf Amin yang merupakan Mustasyar PBNU sekaligus Ketum MUI.

8. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.
Karangan Kitab nya : Kitab syarh Jurumiyah, Syarh Al Fiyah, Addurorru Sanniyah, Al Muttamimmah, dll.

9. Imam Ahmad ad-Dasuqi.
Karangan Kitabnya: Ummul Barohin, dll.

10. Imam Ibrahim al-Baijuri.
Karangan Kitabnya : Jauhar Tauhid (yang diterjemahkan ke bahasa jawa oleh KH Sholeh Darajat -Semarang), dll.

11. Imam Abdullah as-Sanusi.
Karangan Kitabnya Kitab Al Aqidatul Kubro, dll.

12. Imam ‘Abduddin al-‘Iji.
Karangan Kitabnya : Kitab Al Mawaqit Fi Ilmil Kalam 7 jilid, dll.

13. Imam Muhammad bin Umar Fakhrurrazi.
Karangan Kitabnya : Kitab Tafsir Mafatihul Ghoib 16 jilid, Ilmu Kalam Al Matholibul Aliyah 5 jilid, Mabahisul Masyiqiyah, Ushul fiqh Al Mahsul Fib Ilmi Usul 5 jilid, dll.

14. Imam Abdul Karim asy-Syahrastani.
Karangan Kitabnya: AlMilal Wal Nikhal, Mushoro Abdul Falashifa, dll.

15. Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad al-Ghozali.
Karangan kitabnya : Kitab Ihya Ulumuddin, Al Wajiz, Al Washit, Al Basith, Ma'Arijul Quds, Bidatul Bhidayah, Misyakatul Anwar, Minhajul Qowin, Minhajul Abidin, dll.

16. Imam Abdul Malik al-Haramain al-Juwaini.
Karangan Kitabnya: Kitab Lathoiful Isyaroh, As Samil, Al Irsyad, Al Arba'in, Al Kafiyah, dll.

17. Imam Abubakar al-Baqillani.
karangannya: Kitab At Tamhid, Al Insof, Al Bayan, Al Imdad, Al I'Jahz, dll.

18. Imam Abdullah al-Bahili.
19. Imam Abu al-Hasan Ali al-Asy’ari .
Pendiri Faham Ahlussunah Wal jama'ah
kurang lebih 234 kitab karangannya diantaranya : Kitab Maqolatul islaminyin, Al Ibanah, Al Risalah, Al Luma, dll.

20. Abu Ali al-Juba’i.
21. Abu Hasyim al-Juba’i.
22. Abu al-Hudzail al-‘Allaf.
23. Ibrahim an-Nadzdzam.

24. Amr bin Ubaid.
Beliau adalah penemu Ilmu Balaghoh.

25. Washil bin Atha’.
Beliau adalah penemu Ilmu kalam.
26. Sayyidina Muhammad bin Ali bin Abi Thalib.

27. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw.
28. Sayyidina Rasulullah Muhammad Saw.
29. Malaikat Jibril As.
30. Allah Swt.
👆


-----
👇
Nabi Muhammad Saw.
29. bin Syaikh Abdullah.
30. bin Abdul Muthalib (Syaibah).
31. bin Hasyim (Amr).
32. bin Abdu Manaf (al-Mughirah).
33. bin Qushay (Zaid).
34. bin Kilab.
35. bin Murrah.
36. bin Ka’ab.
37. bin Luaiy.
38. bin Ghalib.
39. bin Fihr (Quraisy).
40. bin Malik.
41. bin Nadhr (Qais).
42. bin Kinanah.
43. bin Khuzaimah.
44. bin Mudrikah (Amir).
45. bin Ilyas.
46. bin Mudhar.
47. bin Nizar.
48. bin Ma’ad.
49. bin ‘Adnan.
50. bin ‘Ad.
51. bin Udad.
52. bin Hamaisa’.
53. bin Salaman.
54. bin Banat.
55. bin Haml.
56. bin Qidrah.
57. bin Isma’il.
58. bin Ibrahim.
59. bin Târakh.
60. bin Nakhur.
61. bin Syarukh.
62. bin Arghu.
63. bin Falikh.
64. bin Abir.
65. bin Syalikh.
66. bin Arfakhsyad.
67. bin Sam.
68. bin Nuh.
69. bin Lamak.
70. bin Matusyalikh.
71. bin Akhnukh.
72. bin Idris.
73. bin Ilyarid.
74. bin Mihlayil.
75. bin Qinan.
76. bin Anusy.
77. bin Syits.
78. bin Adam As.

PBNU sudah menerbitkan dalam bentuk poster sanad-silsilah keilmuan ilmiah dari Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari sampai Rasulullah Saw. yang telah ditash-hih oleh Rais ‘Am Nahdlatul Ulama KH. Sahal Mahfudz.

Ini baru satu jalur saja. Coba bayangkan jika kesemua kyai NUdari berbagai cabang keilmuannya dicatatkan sanad-silsilahnya tentu akan menjadi satu kitab yg sangat tebal.

Jadi Banser itu Islam-Nya mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW, karena Banser adalah Santri NU dan "organisasi" induknya adalah NU yg sanat maupun nasabnya tidak terputus tetapi tembus sampai ke Rasullulah SAW hingga ke Nabi Adam as. Sehingga tudingan Dubes Arab Saudi untuk RI Osamah Muhammad Al-Suaib dengan menyebut Banser organisasi sesat dan menyimpang, merupakan fitnah keji yg tidak mendasar.

--

Murdani Mokodongan
Santri GP Ansor NU
Sulawesi Utara

Referensi :
- Dikutip dari ceramah Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, Lc.,MA. dalam acara Haul KH. Mahfudz Hasbullah ke-29 PP Al-Huda Jetis-Kebumen (6/1/2014) yg diterbitkan Pondok Pesantren At-Thobriyah.
- Sanad-silsilah Ilmiah Keilmuan NU, yg disahkan oleh PBNU
- TEMPO.CO, NU Online.

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar

close
Ardha Kids