Jangan Jadikan Insiden Papua Banyolan dan Adu Domba

Jangan Jadikan Insiden Papua Banyolan dan Adu Domba

Insiden penembakan yang menewaskan sejumlah pekerja di Papua ialah kejahatan kemanusiaan. Hal itu semestinya tidak dijadikan guyonan, adu domba, fitnah hingga provokasi.

Ketua PC GP Ansor Way Kanan, Gatot Arifianto, Sabtu (7/12), di Blambangan Umpu menegaskan, peristiwa tersebut seharusnya membuat masyarakat bangsa Indonesia turut berduka cita.

Karena itu, sangat tidak pantas dan melukai kemanusiaan jika tragedi tersebut dijadikan bahan provokasi, banyolan, fitnah, hanya untuk memuaskan kebencian.

"Ada penceramah yang menyebut itu semacam program Keluarga Berencana untuk mengurangi jumlah penduduk. Ada pula kelompok-kelompok yang menggoreng berita dan meminta Banser berangkat ke Papua," paparnya.

Alasannya, menagih pernyataan jika Ansor dan Banser siap menjadi garda terdepan menjaga NKRI.

Penggiat Gusdurian Lampung itu menyebut, upaya tersebut sudah dilakukan pemuda Nahdlatul Ulama (NU) dengan merawat kebinekaan seperti diperintahkan ulama. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) misalnya, menyebut, Indonesia ada karena keberagaman.

Menjaga NKRI lanjutnya tidak terbatas angkat senjata. Jika generasi bangsa tidak terdidik, itu juga ancaman bagi Indonesia. Termasuk bidang lain, seperti pendidikan pertanian, kesehatan. Itu juga cara menjaga NKRI.

"Ansor Banser di Way Kanan sudah melakukan itu. Diantaranya melalui pendidikan yang mengantar sejumlah pelajar kurang mampu bisa memasuki Perguruan Tinggi Negeri dan mendapatkan beasiswa melalui Bimbingan Belajar Paska Ujian Nasional atau BPUN," kata dia lagi.

Sayangnya, masih banyak masyarakat belum paham. Menjaga Indonesia berarti angkat senjata.

"Tidak semacam itu. Andil menjaga lingkungan hidup juga upaya menjaga ancaman terhadap negara di masa depan. Dan walau sedikit, kami telah bergerak semisal dengan program sedekah oksigen," ujarnya.

Ia menyebut aneh kelompok-kelompok yang membuat narasi Banser untuk berangkat ke Papua melawan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

"Untuk apa? Banser sudah ada di Papua. Warga Papua sudah banyak yang jadi Banser. Tugas militer dan paramiliter beda," tegasnya.

Ia selanjutnya mengutip QS. Ash Shaff: 2-3 : "Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

"Ayat tersebut seharusnya disimak baik-baik sebelum menyuruh. Selain itu, tak perlu memberi saran pada Ansor pada Banser jika belum mampu melawan teror kebencian di kepala dan hati," katanya.

Insiden penembakan pekerja oleh kelompok bersenjata di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Nduga, Papua, pada Senin, 3 Desember 2018 oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat pimpinan Egianus Kogoya, sayap militer OPM telah menimbulkan korban jiwa sipil dan militer sejumlah 31 orang.

"GP Ansor Way Kanan turut berduka cita atas insiden tersebut. Kami doakan mereka yang membuatnya sebagai banyolan hingga bahan provokasi diluruskan hati dan akalnya," pungkas Gatot. (Red: Muhammad Faizin)
Jangan Jadikan Insiden Papua Banyolan dan Adu DombaBanser Papua (Foto: Ist.)
Way Kanan, NU Online
Insiden penembakan yang menewaskan sejumlah pekerja di Papua ialah kejahatan kemanusiaan. Hal itu semestinya tidak dijadikan guyonan, adu domba, fitnah hingga provokasi.

Ketua PC GP Ansor Way Kanan, Gatot Arifianto, Sabtu (7/12), di Blambangan Umpu menegaskan, peristiwa tersebut seharusnya membuat masyarakat bangsa Indonesia turut berduka cita.

Karena itu, sangat tidak pantas dan melukai kemanusiaan jika tragedi tersebut dijadikan bahan provokasi, banyolan, fitnah, hanya untuk memuaskan kebencian.

"Ada penceramah yang menyebut itu semacam program Keluarga Berencana untuk mengurangi jumlah penduduk. Ada pula kelompok-kelompok yang menggoreng berita dan meminta Banser berangkat ke Papua," paparnya.

Alasannya, menagih pernyataan jika Ansor dan Banser siap menjadi garda terdepan menjaga NKRI.

Penggiat Gusdurian Lampung itu menyebut, upaya tersebut sudah dilakukan pemuda Nahdlatul Ulama (NU) dengan merawat kebinekaan seperti diperintahkan ulama. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) misalnya, menyebut, Indonesia ada karena keberagaman.

Menjaga NKRI lanjutnya tidak terbatas angkat senjata. Jika generasi bangsa tidak terdidik, itu juga ancaman bagi Indonesia. Termasuk bidang lain, seperti pendidikan pertanian, kesehatan. Itu juga cara menjaga NKRI.

"Ansor Banser di Way Kanan sudah melakukan itu. Diantaranya melalui pendidikan yang mengantar sejumlah pelajar kurang mampu bisa memasuki Perguruan Tinggi Negeri dan mendapatkan beasiswa melalui Bimbingan Belajar Paska Ujian Nasional atau BPUN," kata dia lagi.

Sayangnya, masih banyak masyarakat belum paham. Menjaga Indonesia berarti angkat senjata.

"Tidak semacam itu. Andil menjaga lingkungan hidup juga upaya menjaga ancaman terhadap negara di masa depan. Dan walau sedikit, kami telah bergerak semisal dengan program sedekah oksigen," ujarnya.

Ia menyebut aneh kelompok-kelompok yang membuat narasi Banser untuk berangkat ke Papua melawan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

"Untuk apa? Banser sudah ada di Papua. Warga Papua sudah banyak yang jadi Banser. Tugas militer dan paramiliter beda," tegasnya.

Ia selanjutnya mengutip QS. Ash Shaff: 2-3 : "Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

"Ayat tersebut seharusnya disimak baik-baik sebelum menyuruh. Selain itu, tak perlu memberi saran pada Ansor pada Banser jika belum mampu melawan teror kebencian di kepala dan hati," katanya.

Insiden penembakan pekerja oleh kelompok bersenjata di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Nduga, Papua, pada Senin, 3 Desember 2018 oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat pimpinan Egianus Kogoya, sayap militer OPM telah menimbulkan korban jiwa sipil dan militer sejumlah 31 orang.

"GP Ansor Way Kanan turut berduka cita atas insiden tersebut. Kami doakan mereka yang membuatnya sebagai banyolan hingga bahan provokasi diluruskan hati dan akalnya," pungkas Gatot. (Red: Muhammad Faizin/NU Online)

Baca juga:

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar