Selain Menjalankan Perintah Al-Qur'an dan Hadist, Aswaja Juga Ikuti Ajaran Kiai

Selain Menjalankan Perintah Al-Qur'an dan Hadist, Aswaja Juga Ikuti Ajaran Kiai

Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) berarti mengamalkan ajaran Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya. Tak cukup itu, tapi juga mengikuti tuntunan dari para kiai.

KH Nurul Arifin, Ketua Rijalul Ansor PC GP Ansor Kendal, menerangkan lebih rinci tentang Aswaja. Sunah berarti apa yang diajarkan Nabi, dan jamaah merujuk pada apa yang disampaikan oleh para sahabat Nabi.

"Para sahabat itu tidak seperti kita, yang karena terpaut jauh dari Nabi maka kita perlu belajar ekstra. Para sahabat hanya dengan melihat Nabi, mereka bisa tercerahkan melalui Nur Muhammad," terang pengasuh Pesantren Annur, Desa Kersan, Pegandon, Kendal, Ahad (25/11).

Karena itu, kita yang hidup di masa sekarang untuk bisa menjangkau ajaran Al-Qur'an dan hadits dan juga para sahabat, perlu melalui guru-guru yang sanadnya jelas. Selain mengamalkan sunah, juga mengikuti jamaah, yang di dalamnya termasuk para kiai.

"Kiai yang rujukannya kepada Al-Qur'an dan hadist dan para guru. Menjadi Aswaja berarti mengikuti ajaran-ajaran yang disepakati oleh kebanyakan ulama," lanjut alumni Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang.

Paham Aswaja secara teologis pertama kali dicetuskan oleh Abu Hasan Al Asyari dan Abu Mansyur Al Maturidi. Tokoh yang hidup di tempat yang berbeda ini memiliki kesamaan pemikiran yang hingga saat ini ajarannya masih dipraktikkan oleh umat Islam di berbagai negara, termasuk Indonesia.

"Secara teologis kita merujuk pada dua tokoh itu. Secara fiqih mengikuti salah satu dari empat mazhab, dan secara tasawuf mengikuti Imam Ghozali dan Syekh Junaid Al Baghdadi. Tauhid, syariat dan tasawuf," terang Gus Nurul.

Sementara mengenai Nur Muhammad, Kiai Mufthon Samroddin Rois mengatakan, kiai tertentu sebenarnya memungkinkan untuk bisa menjangkau cahaya Nabi tersebut. Nur Muhammad menurutnya tidak melulu melalui pertemuan fisik, tapi pada tataran tertentu bisa melalui kontak spiritual.

"Hanya saja karena pengalaman spiritual setiap orang berbeda-beda maka ukurannya tidak bisa dirumuskan secara matematis. Tapi saya bisa katakan, bahwa kiai yang hidup di masa sekarang pun, insyaallah bisa mendapatkan Nur Muhammad, karena saya pernah mendengar cerita ini langsung dari guru-guru saya," terang Kiai Mufthon.

Pembahasan ini mengemuka dalam sesi materi dan diskusi Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) yang diadakan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Kangkung yang diadakan selama tiga hari dan akan ditutup hari ini.

Instruktur lainnya, Ahmad Bisri yang menyampaikan materi dalil amaliyah Aswaja, menyampaikan beberapa amalan yang telah menjadi tradisi NU. Menurut alumnus UIN Walisongo Semarang ini, para kader Ansor wajib menjaga tradisi dari tahlil hingga mitoni karena inilah yang hingga hari ini menjaga Indonesia dari perpecahan.

"Pancasila dan NKRI itu sudah final. Kalau ada kader Ansor yang setuju dengan pendirian negara Islam, maka dia bukan orang NU lagi, dia tidak paham apa itu NU," tegas mantan aktivis PMII tersebut.

PKD Ansor digelar selama tiga hari diikuti seratus peserta dari berbagai ranting di Kecamatan Kangkung, dan bahkan dari luar kecamatan.

"Diharapkan setelah mengikuti PKD para peserta bisa menjadi kader-kader yang militan, yang melanjutkan tradisi para ulama NU, dalam mengamalkan paham Aswaja dan menjaga NKRI," pungkas Muhammad Ulil Amri, ketua PC Ansor Kabupaten Kendal. (Muhammad Sulhanudin/Kendi Setiawan/NU Online)

Baca juga:

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar