Rasulullah Hadir, Gus Rofi Jombang Wafat Saat Mahallul Qiyam

Rasulullah Hadir, Gus Rofi Jombang Wafat Saat Mahallul Qiyam

Gus Rofi’. Pondok Pesantren Umar Zahid tidak asing bagiku setelah aku mendapatkan istri orang Jombang. Setiap ada keperluan, keluh kesah, kesempitan hidup ataupun ketika nikmat Allah datang padaku, dengan diberikannya kelapangan hidup, maka aku pasti mengunjungi pondok pesantren ini.
Yah….sekedar kepingin tabarukan (ngalap berkah) dengan harapan bisa dekat dan dapat luapan barokah pengasuhnya.

Gus Rofi’ begitulah saya sering memanggil beliau. Panggilan itu juga dilakukan oleh siapa saja yang berkunjung dan sowan ke ndalem beliau. Perawakannya tinggi, gagah dengan badan yang proporsional. Wajahnya putih, bersih dan mengeluarkan aura yang menyejukkan mata. Sangat mungkin hal itu karena beliau istiqomah mendawamkan wudhu. Wajah bersihnya berpadu padan dengan rambutnya yang sudah memutih dan selalu tertutup kopyah putih yang menhgiasi kepalanya.

KH. Rofi’usy Syan adalah nama lengkap beliau. Karena seringnya sowan, maka beliau menjadi hapal dengan muka bebalku ini. Yang seringkali datang sowan kalau ada keperluan saja, apalagi ketika kondisi kesehatan ayahku menurun, sampai akhirnya kapundut, saya seringkali sowan. Terkadang hanya untuk sekedar ketemu mendengarkan dawuh dawuhnya diselingi cerita cerita lainnya.

Bagi sebagian orang, termasuk saya, ketika sowan kepada Kyai untuk menyampaikan persoalan hidup, seringkali bertemu dan bertatap muka saja sudah mampu menyelesai kan semua kegamangan, kegalauan dan kesulitan hidup. Entahlah mungkin karena mereka adalah warosatul anbiya’, para pewaris nabi, yang dalam menjalani hidup ini berusaha keras untuk ngepas-ngepaske dengan tindak lampah Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Pada suatu kesempatan sowan, saya diterima beliau di ruang tamu. Kebetulan saat itu tidak ada tamu lain yang sowan, jadi hanya kami berdua. Saya bertanya tentang thariqoh dan beliau tidak menjawabnya. Lalu beliau bercerita bahwa bacaan sholawat adalah wiridan rutin beliau.

Suatu saat ketika sedang membaca sholawat, antara sadar dan tidak. Tiba tiba datang seseorang yang memakai jubah dan memakai surban di kepalanya. Duduk di hadapan beliau dan memegang beliau. Keringat dingin mengucur didahi beliau. Muka beliau tertunduk tanpa mampu memandang wajah orang yang duduk tepat dihadapannya.
Orang tersebut berkata dengan suara yang tegas “Allahumma sholi ala Muhammad”. Dengan gugup beliau menjawab “Allahumma Sholli ala Sayidina Muhammad”. Beliau menirukan ucapan orang tersebut, tetapi dengan menambahkan kata “Sayyidina”. Hal itu berulang selam 3 kali, sehingga akhirnya orang tersebut pergi menghilang.

Pengalaman itu disampaikan beliau kepada salah seorang Kyai senior di Perak, Jombang. Mendengar cerita tersebut, menangis dengan sesenggukanlah Kyai senior tersebut. Dan beliau membenarkan apa yang dirasakan oleh Gus Rofi’ tersebut. Yah….Gus Rofi’ merasakan orang yang datang kepadanya itu adalah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dan beliau berkeyakinan mencukupkan diri dengan membaca sholawat.

Dan malam itu, di malam kelahiran akromul khalqi, 12 Rabiul Awal, dengan penuh khidmat beliau menabuh sendiri terbang (rebana) itu saat mahalul qiyam. Saat berdiri menyambut kehadiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tiba tiba beliau berseru….”ROSULULLOOH RAWUH”… dan di saat itu pula Romo KH. Rofi’usy Syan kapundut, mengikuti makhluk mulia yang sangat sangat dicintainya, yang disebut sebutnya setiap saat dan kesempatan, yang begitu dirindunya, yang kecintaan dan kerinduan itu telah menjadi denyut nadi, aliran darah, tarikan dan hembusan nafas beliau. Dan malam itu hembusan nafas terakhir beliau benar benar bersama kekasih yang datang menjemputnya dengan cara yang luar biasa indah.

إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

وَلَدَتْكَ أُمُّكَ ياَبْنَ آدَمَ بَاكِيًا وَالنَّاسُ حَوْلَكَ يَضْحَكُوْنَ سُرُوْرًا

فَاعْمَلْ لِيَوْمِكَ أَنْ تَكُوْنَ إِذَا بَكَوْا فيِ يَوْمِ مَوْتِكَ ضَاحِكًا مَسْرُوْرًا

“Wahai anak adam, setelah kamu dilahirkan oleh ibumu, saat itu kamu menangis

Sementara orang-orang disekitarmu tertawa bahagia menyambutmu

Kelak saat dewasa berbuatlah sesuatu sehingga mereka bisa menangisimu

Ketika hari kematianmu, engkau tersenyum bahagia karena amalmu.”

Sugeng tindak Gus….mugi panjenengan kerso ngakoni kulo dados santri lan penderek panjenengan……..

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِيْهِ وَاعْفُ عَنْهُ اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ اَللَّهُمَّ أكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ كَمَا يُنَقَّ الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اَللَّهُمَّ اجْعَلْ قَبْرَهُ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الجِنَانْ وَلاَ تَجْعَلْ قَبْرَهُ حَفْرَةً مِنْ حَفَرِ النِّيْرَانِ اَللَّهُمَّ إِنْ كَانَ مُحْسِنََا فّزِدْ فِيْ إِحْسَانِهِ وَاِنْ كَانَ مُسِيْئََ فَتَجَاوَزْ عَنْ سَيِّئَاتِهِ بِبَرَكَةِ اَلْفَاتِحَةِِ.

20 November 2018.

(Penulis: Rosyid Anwar)

Source: bangkitmedia.com

Baca juga:

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar