Mengapa Warga Nahdliyyin Punya Tradisi Memuliakan Habaib?

Mengapa Warga Nahdliyyin Punya Tradisi Memuliakan Habaib?

Tak diragukan lagi bahwa kedekatan NU dan kalangan habaib di Indonesia sudah terjalin lama. Bahkan sudah terjadi jauh sebelum NU didirikan pada tahun 1926.
Kedekatan ini bukan hanya pada level elitnya saja. Di kampung- kampung, kami sangat terbiasa berinteraksi dengan habaib. Sebagai orang kampung, kami akan merasa terhormat dan terberkati ketika rumah kami kedatangan seorang habib.

Kedatangan seorang habib atau beberapa habaib jangan dibayangkan akan selalu terkait dengan ceramah atau mengisi pengajian di surau-surau kami. Kedatangan mereka lebih merupakan peristiwa-peristiwa kultural dan perbauran sosial yang alami.

Seringkali habib tersebut datang hanya sekedar untuk menyapa dan kemudian mendoakan kami.

Tak jarang pula ada habaib yang datang dengan menawarkan barang, seperti sarung misalnya. Nah, soal menawarkan barang jualan ini, ada satu hal yang menarik. Biasanya barang-barang tersebut dijual dengan harga yang relatif tinggi, berlipat-lipat dari harga eceran tertinggi sekali pun!

Sebagaimana peristiwa muamalah pada umumnya, seharusnya kami berhak dan boleh menawar. Tapi hal tersebut hampir tidak pernah kami lakukakan. Kami paham seharusnya ada relasi kuasa yang setara diantara kami dan habaib, tapi kami tidak menawarnya. Kenapa? Karena kami tidak melihat barang tersebut dari nilai fisik barangnya, melainkan kami mengharapkan mendapatkan keberkahan habaib sebagai dzuriyyah/keturunan nabi.

Tak jarang pula untuk membeli barang-barang yang ditawarkan habaib kami harus melego aset yang sebenarnya tidak berencana melegonya dalam waktu dekat. Almarhum ayahku pernah menjual ayam hingga kambing untuk membeli barang dari seorang habib. Bahkan suatu ketika, satu-satunya sepeda motor yang merupakan aset termahal di keluargaku juga terjual, untuk membantu pembangunan masjid yang diceritakan habib. Kami tidak perlu cek masjid dimana, karena kami 100% mencintai mereka dan selalu ber-khusnudzon kepada mereka.

Begitu seorang habib meninggalkan rumah kami, berikutnya yang kami lakukan sebagai anak-anak adalah berebutan bekas minum habib tersebut. Kami tidak ambil gorengan atau makanan yang masih utuh. Kami hanya mau sisa! Kami mau berkah. Ya. Kami hanya mau sisa habaib dan karenanya berebut air minum sisa!

Begitulah kecintaan kami kepada habaib yang sudah tertanam sejak kecil. Ini bukanlah hal yang mengherakan karena habaib dan warga NU memiliki kedekatan dalam ritual keagamaan (ubudiyyah), sama-sama suka tahlil, suka ke kuburan untuk mendoakan yang sudah wafat sembari baca Quran, suka sholawat dan maulid nabi, sama-sama pelantun Albarzanji, dst. Kami sama-sama melakukan ritual yang dilarang keras oleh kelompok Wahabi.

Belakangan setelah agak gedean dikit aku baru tahu bahwa NU dan habaib itu dipersatukan oleh teologi keagamaan yang sama, yakni ahlus sunnah wal jama’ah.
Lebih belakangan lagi, sekitar tahun 1999 atau 2000-an ketika aku jadi Banser, aku juga baru tahu bahwa Banser adalah penjaga setia para habaib, jauh sebelum ormas-ormas baru itu lahir. Banser bukan saja mendampingi dan mengawal habaib di lokasi pengajian, beberapa diantara mereka bahkan ada yang khidmah melayani habaib dalam kesehariannya.

Kenapa ini semua kami lakukan?

Tak ada alasan lain kecuali kecintaan kami kepada habaib. Kami mencintai habaib karena mereka merupakan dzuriyyah/keturunan Rasulullah. Dengan mencintai mereka maka kami hanya berharap bisa diakui sebagai umat Muhammad SAW. Kami percaya bahwa kami akan selamat di hari pengadilan apabila mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad SAW. Kami juga sangat percaya hadist Nabi, “..wa man ahabbani kaana ma’ii fil jannah.” Bahwa, yang mencintai Nabi SAW akan bersama beliu di surga.

Walau pun akhir-akhir ini kami diuji dan difitnah gegara kami membakar bendera HTI sebagai ekspresi hubbul wathan untuk menegakkan konstitusi, kami merasakan ada pihak-pihak yang ingin menjauhkan kami dari pujaan kami para habaib. Padahal pembakaran bendera HTI tersebut (sekali lagi HTI, bukan bendera tauhid), tak lebih sebagaimana Arab Saudi yang melarangnya terlebih dahulu dibanding Indonesia.

Tapi tak apa. Cinta kami dan perlakuan kami kepada habaib tidak akan luntur. Bahkan seandainya beliau-beliau tidak menyadari dan tidak mengakui cinta kami sekalipun!

Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina wa Habibina wa Maulana Muhammad!

Jumat mubarakah, 9 November 2018

(Penulis: Irham Saifuddin)


Sumber: bangkitmedia.com

Baca juga:

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar