Kiai Said: Saya Boleh Mati, Tapi NU Tidak Boleh Mati

Kiai Said: Saya Boleh Mati, Tapi NU Tidak Boleh Mati

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menanggapi persoalan bendera berkalimat tauhid. Menurutnya, bendera yang saat ini sedang menjadi perbincangan hangat itu bukanlah bendera yang ada pada zaman Rasulullah.

"Bendera pada zaman Nabi Muhammad itu menggunakan khat (desain kaligrafi) kufi. Tidak ada syakal dan harakatnya. Saya punya Al-Qur'an yang tulisannya kufi. Tidak bisa saya bacanya," kata Kiai Said dalam perayaan puncak Hari Santri 2018 Kabupaten Bekasi, di OSO Sport Centre, Grand Wisata, Tambun Selatan, Ahad (4/11) pagi.

Ia menjelaskan bahwa bendera berkalimat tauhid yang saat ini dikibar-kibarkan itu baru ada pada abad ke-2 Hijriyah dengan menggunakan khat tsulutsi.Selain itu, menulis kalimat tauhid dihukumi makruh karena khawatir tidak mampu memuliakannya.

"Keempat imam madzhab sepakat soal (hukum) itu," kata Kiai Said.

Sementara itu, ia mengungkapkan bahwa jika ada satu anggota Banser yang salah jangan justru organisasi Banser yang harus dibubarkan.

Karenanya Kiai Said yakin bahwa NU, termasuk Banser yang ikut mendirikan negara Indonesia, akan abadi selamanya. "Saya boleh mati, Mbah Hasyim boleh mati, tapi NU tidak boleh mati. Banser tidak boleh bubar," tegasnya. 


NU Dibentuk untuk Membangun Akhlak

Agama Islam turun dengan membawa akhlakul karimah. Secara umum, Rasulullah bersabda: innamaa bu'itstu li utammima makarimal akhlak. "Di Madinah itu ada Muhajirin dan Ansor. Yahudi, dari berbagai suku juga ada. Semua rakyat, diperlakukan sama dan setara oleh Nabi Muhammad," ungkapnya.

Nabi menyerukan, lanjut Kiai Said, tidak boleh ada ujaran kebencian dan permusuhan kecuali kepada orang-orang zalim karena melanggar hukum.

"Jadi, wa laa 'udwaana illa 'ala dzholimin. Hanya satu yang harus kita anggap musuh, yaitu mereka yang dzalim dan melanggar hukum, pejabat atau bupati yang korupsi," tegasnya disambut riuh tepuk tangan oleh Nahdliyin se-Kabupaten Bekasi.

Maka Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Jakarta ini mengungkapkan bahwa Hadlratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari membentuk organisasi NU dengan tujuan membangun akhlak.

"Pembangunan akhlak itu dibuktikan dengan tiga macam persaudaraan. Ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniyah, dan ukhuwah insaniyah," pungkasnya. (Aru Elgete/Muiz/NU Online)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar