KH Maimoen Zubair: Walau Bagaimanapun NU itu Warisan Para Wali, Wajib Dijaga

KH Maimoen Zubair: Walau Bagaimanapun NU itu Warisan Para Wali, Wajib Dijaga

Bagi kalangan Pesantren, utamanya kiai, jabatan merupakan amanah yang harus dijalani dengan penuh tanggungjawab. Biasanya, sebelum mereka menerima atau akan menduduki jabatan-jabatan tertentu, terlebih dahulu melakukan istikharah dan meminta restu dari orang tua atau guru.

Kebiasaan seperti itu lazim dilakukan dikalangan orang-orang Pesantren dan NU. Makanya, tidak heran kemudian jika banyak ditemukan Kiai ini menolak jabatan ini. Kiai itu menolak untuk menduduki jabatan itu.

Adalah KH. Abdul Adzim Kholili atau biasa dipanggil Mas Abduh, Pondok Pesantren Kepang Bangkalan dalam tulisannya menyatakan alasan bagaimana dirinya bersedia menjadi wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim setelah mendapat restu dari Kiai Kholil Bangkalan.

Restu itu didapat setelah Mas Abduh memerintah seorang santri untuk melakukan istikharah di makbarah Kiai Kholil. Setelah tiga hari santri tersebut mendapat jawaban melalui mimpi. Dalam mimpi itu, Kiai Kholil mendorong Mas Abduh untuk menerima posisi Wakil Rais Syuriyah.

"Kabele dek Abd. Adzim soro maju jhek sampek mundur (sampaikan kepada Abd. Adzim suruh maju jangan sampai mundur), demikian pesan Kiai Kholil kepada Mas Abduh melalui mimpi si santri.

Mas Abduh mengisahkan, awalnya dirinya menolak dan merasa keberatan untuk mengisi posisi tersebut. Dirinya merasa kurang pantas dan tidak punya kemampuan untuk berada di jajaran Syuriyah PWNU Jawa Timur.

Berikut tulisan  lengkap KH. Mas Abdul Adzim Cholili, Pondok Pesantren Kepang Bangkalan, Sidogiri.

Kenapa Saya bersedia di angkat menjadi wakil Syuriah PWNU Jawa Timur?

Pertama saya Sebenarnya monolak dan merasa keberatan, karena saya merasa kurang pantas dan tidak mempunyai kemampuan di posisi ini, dan lagi dulu waktu saya pamit boyong dari PP. Al-ANWAR Sarang didawuhi Hadratu Syech KH. Maimun Zubair :

Gus.. jenengan boten usah derek-derek politik senaos ten NU boten usah derek dados pengurus, kersane jenengan saget istiqomah muruk santri, kejobo menawi jenengan sanget dipun parloaken NU. (Gus. Panjenengan tidak usah ikut-ikut politik.
Termasuk di NU tidak usah ikut jadi pengurus. Biar penjenengan bisa istiqomah mendidik santri. Kecuali jika panjenengan sangat diperlukan NU). 

Karena waktu pelantikan mepet saya tidak sempat sowan kepada Hadratus Syech KH. Maimun, akhirnya saya menyuruh teman santri untuk istikhoroh ke maqbaroh Syaichona Moch Cholil bin Abd. Latif sampai tiga malam, dalam mimpinya dia didawuhi Syachona Cholil: kabele dek Abd. Adhim soro maju jek sampek mundur (sampaikan kepada Abd. Adhim suruh maju jangan sampai mundur).

Dengan segala kekurangan dan keterbasan saya terpaksa saya harus bersedia.
Setelah pelantikan saya sowan ke Hadratus syech KH. Maimun Zubair untuk menghaturkan masalah saya ini. Sebelum saya matur beliau langsung ngendikan: Masio yoopo NU kuwe tinggalani poro wali yo wajib dijogo (bagaimanapun NU itu warisan para wali, ya wajib dijaga).

Saya menjadi bertambah mantap atas kewalian beliau, belum matur sudah di jawab duluan, bukan hanya sekali ini saya menemukan keanehan2 beliau.
Semoga kita senantiasa medapatkan kucuran barakah dari Syaichona Cholil dan Syaichona Maimun serta para Muassis NU. Amin.
    
(Alfaqir Abduh)

Baca juga:

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar