Kenapa Warga NU Gunakan Kalimat Tauhid Untuk Wiridan, tidak Untuk Dikibarkan Sebagaimana ISIS?

Kenapa Warga NU Gunakan Kalimat Tauhid Untuk Wiridan, tidak Untuk Dikibarkan Sebagaimana ISIS?

Kenapa Kalimat Dzikir Lâ Ilâha illalLâh Muhammad RasûluLlâh atau yang sering disebut dengan kalimat Tahid sering dibaca warga NU saat tahlilan, istighosahan dan wiridan setelah shalat fardlu, kenapa tidak seperti ISIS, al Qaeda dan Hizbut Tahrir yang suka mengibar-ngibarkan bendera berkalimat tauhid? berikut jawabannya:

Dzikir Lâ Ilâha illalLâh Muhammad RasûluLlâh Istiqomah dibaca warga NU setelah shalat fardlu. Dzikir ini terdiri dari 2 pernyataan. Yang pertama adalah mengesakan Allah, yakni tiada yang memiliki sifat ulûhiyah atau ketuhanan kecuali Allah, dan yang kedua adalah penegasan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.

Sudah lazim bahwa tiap-tiap dzikir memiliki faedah. Ya, meski itu bukanlah tujuan utama dari dzikir. Tujuan utamanya adalah mendekatkan kita kepada Allah subhanahu wata’ala. Lantas, apakah faedah dari dzikiran ini?

Disebutkan dalam kitab Syarah Ummul Barâhîn karya Imam Abdullah Muhammad bin Yusuf as-Sanusy al-Asy’ary (Jakarta, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2013, halaman 72), keutamaan-keutamaan mengistiqamahkan dzikiran ini. Faedah tersebut terbagi menjadi dua, pertama kembali kepada budi pekerti yang baik dalam agama, yang kedua kembali kepada karamah.

Keutamaan yang pertama terbagi menjadi delapan keutamaan:

• Menumbuhkan sifat zuhud. Yang dimaksud zuhud adalah kosongnya hati dari mengandalkan pada sesuatu yang fana (duniawi).

• Menumbuhkan sifat tawakal. Tawakal yaitu kepercayaan hati terhadap Allah yang Maha Pemelihara dan Maha Haq. Seseorang yang tawakal atau berserah diri kepada Allah SWT, maka jiwanya akan selalu tenang dan tidak bingung jika menemukan berbagai macam sebab dan masalah, karena ia sudah menyerahkan semuanya kepada Allah. Meski begitu, ia pun tidak melupakan usaha yang menolongnya dari suatu permasalahan dalam hidupnya.

• Menumbuhkan sifat malu dalam dirinya yang akan membuatnya selalu mengagungkan Allah dan mengingat-Nya, mematuhi larangan dan perintah-Nya; mencegah diri untuk mengadu kepada makhluk yang sarat kelemahan dan kefakiran dan senantiasa mengadu kepadan-Nya

• Menumbuhkan sifat kaya, maksudnya adalah kaya hati dengan terselamatkannya hati dari fitnah berbagai sebab (mahluk).

• Menumbuhkan sifat fakir. Fakir artinya membiarkan hati terputus dari dunia karena kesenangan memperoleh dan memperbanyak hal duniawi, karena semua keputusannya telah pasti, yaitu ditentukan oleh Allah subhanahu wata’ala.

• Menimbulkan futuwah, yaitu menjauhkan diri dari menuntut mahluk lain untuk berbuat baik kepada dirinya. Jika ia melakukan kebaikan, maka ia yakin bahwa kebaikannya bersumber dari Allah, begitu pun sebaliknya, maka ia merasa tak perlu menuntut manusia untuk berbuat baik kepadanya, toh semua kebaikan bersumber dari pencipta manusia.

• Menimbulkan rasa bersyukur. Rasa bersyukur bermakna mengkhususkan hati dengan memuji Allah Ta’ala dan tetap melihat berbagai nikmat yang diperolehnya bahkan di sela-sela kesengsaraan.

Adapun faedah yang kedua kembali kepada karamah yang masuk kategori amr khâriqul ‘adah (perkara di luar kebiasaan). Di antara karamah atau kejadian istimewa itu adalah:

• Adanya keberkahan dalam makanan dan semisalnya, sehingga makanan sedikit cukup untuk orang banyak, hal ini dapat saja terlihat pada para waliyyullah.

• Mudahnya memperoleh uang atau barang yang dibutuhkan. Dalam kitab ini disebutkan suatu riwayat dari Syekh Abu Abdillah at-Tawuddy membutuhkan pakaian bagi anak dan istrinya. Jumlah anaknya banyak. Beliau pun membeli secarik kain dan membawanya ke tukang jahit kemudian memberikan ujung kain itu dan memegang ujung kain yang lain. Si penjahit mulai menarik dan menggunting kain itu sedikit demi sedikit sampai menghasilkan banyak baju—padahal biasanya dengan secarik kain itu tak akan bisa mengahsilkan baju kecuali sedikit. Kemudian si penjahit berkata: “Wahai tuanku, secarik kain ini tidak akan selesai selamanya (untuk dibuat baju).” Kemudian Syekh Abu Abdillah berkata sambil melempar sisa kain kepada penjahit tersebut agar tak semakin panjang karena khawatir dapat menimbulkan fitnah: “Itu sudah selesai.”

• Terbukanya hakikat apa yang hendak digunakannya. Contoh dalam makanan, ia dapat mengetahui mana yang halal dari yang haram dan syubhat dengan berbagai tanda yang ditemukannya, adakalanya dari batin atau lahirnya, atau dari selainnya.


Demikianlah beberapa faedah yang dapat diambil dari mendawamkan dzikir ini, meskipun sebenarnya banyak sekali faedah lainnya, yang tentu tak dapat dituangkan semuanya dalam kitab ini. Waallahu a’lam. 

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar