Buya Syafi’i, Tokoh Sederhana yang Pantang Merepotkan Orang

Buya Syafi’i, Tokoh Sederhana yang Pantang Merepotkan Orang

Sebelum menurunkan tulisan singkat ini, saya patut menyampaikan permintaan maaf kepada Buya Syafii Maarif yang mungkin kurang berkenan jika percakapan pribadi kami berdua “terpaksa” harus dibaca orang. Alasannya sederhana saja: Agar orang, terutama generasi muda, bisa mengambil pelajaran kepada sosok yang telah kenyang makan asam garam ini.

Beberapa waktu yang lalu, saya meminta Buya untuk menjadi pembicara seminar dalam rangka milad satu abad Mu’allimin-Mu’allimaat di Jakarta. Ternyata Buya tidak bisa karena fisik sedang tidak fit.

“Hrs istirahat total, kemaren muntah, semua kegiatan hrs dihentikan, mhn tdk disampaikan kpd siapa pun. Tadi mlm nyaris diangkut ke RS. Isteri blm diberi tahu. Sekali lagi mhn tdk disampaikan. Skrg ada 8 macam obat dan vitamin yg hrs dimakan. Maarif”

Pesan itu Buya kirimkan via WA pada 25 Oktober 2018 saat sedang di Jakarta.


Beberapa saat kemudian Buya kirim pesan lagi: “Istri sy jgn sampai tahu”

Tidak kali ini saja. Di dalam banyak kesempatan Buya kerap menolak secara tegas tawaran orang yang hendak membantunya. Ketika dalam perjalanan, misalnya, saya sering sangat ingin membawakan buku atau tas yang dibawanya. “No!”, kata Buya mencegah dengan telapak tangannya, “saya masih mampu”.

Jika Buya mau bepergian, saya pun tidak jarang menawarkan diri untuk menemaninya. Jawabannya tidak pernah berubah: “Sudah ada yang menemani.” Tahukah Tuan dan Puan sekalian siapa teman yang Buya maksud? Dia adalah tongkat penuntun. Artinya, Buya tidak mau merepotkan. Padahal siapa juga yang direpotkan jika hanya membawakan tas, buku, atau sekedar menemani bepergian seorang Buya?

Batang usia Buya kini telah 83 tahun. Jika sedang di rumah, meski ada mesin cuci, ia sering mengucek-ngucek pakaiannya sendiri, menyapu halaman rumah, sepedaan keliling kampung, nongkrong di warung Pak Nadi di pojok lapangan, bersenda gurau dengan bapak-bapak takmir masjid, dan setumpuk rutinitas orang biasa lainnya. Jika saya katakan kepadanya bahwa Buya ini orang besar, jawabannya datar saja: “Namung tiyang alit”

Saya yakin, selain saya ada juga diantara tuan-puan sekalian yang pernah mengalami penolakan yang sama dari Buya. Begitulah Buya. Harap maklum. Selagi masih bisa, Buya tidak mau merepotkan. Usia boleh tua. Tapi semangat tetap muda.

Dalam hal ini, Pak Presiden pun menyampaikan kekagumannya kepada Buya: “Saya adalah pengagum Buya Syafii Maarif. Usia beliau saat ini kalau nggak salah 83 tahun, tapi tidak pernah kenal lelah. Terus memberi masukan kepada saya. Ada apa, langsung mendatangi istana, menyampaikan langsung ke saya, kalau ndak, langsung telfon.”

Kembali pada kondisi kesehatan Buya. Alhamdulillah, kini telah membaik. Pada 2 November 2018 yang lalu, via WA, Buya mengirimkan foto Biksu Mendut di rumahnya. Kata Buya: “Baru saja Biksu Mendut dtg ke rumah, bawa Propolis, Fish Oil, dan teh pahit Cina. Saya dimanjakan Biksu ini. Apakah ada persaudaraan yg setulus ini? Maarif”

Kemudian pada 5 November 2018 Buya memberi kabar bahwa ia mulai bersepeda lagi dan malamnya akan menghadiri undangan. “Nanti mlm sy diundang Tarjih. Rpt rutin mrk. Mau ikut, kontak Mas’udi.”

Pada 11 November 2018, habis Isya, Buya datang saat jezanah Kyai Sunardi Syahuri dimandikan sekaligus menyalatkannya di Rumah Sakit JIH. Buya tentu merasa sangat berduka atas meninggalnya Kyai yang dermawan dan rendah hati ini.

Buya adalah sosok yang mandiri sejati. Ia pantang merepotkan orang, jika bukan karena terpaksa. Pesan Buya tentang “Hidup harus mandiri. Jangan menggantungkan nasib pada orang lain,” adalah sesuai dengan dirinya sendiri. Antara ucapan dan perbuatan tidak pecah kongsi.

Semoga Buya panjang umur, sehat, dan selalu dalam lindungan Allah Swt. Āmīn

Sumber: FB Erik Tauvani Somae

Baca juga:

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar