Bersama NU, Muhammadiyah Tegaskan Menolak Paham Khilafah

Bersama NU, Muhammadiyah Tegaskan Menolak Paham Khilafah

Pertemuan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, Rabu (31/10) malam menyita perhatian publik mengingat situasi bangsa terkini. Selain menyikapi sejumlah problem bangsa, pertemuan tersebut juga sepakat meneguhkan Pancasila sebagai bentuk dan sistem kenegaraan yang Islami.

“Berkomitmen kuat menegakkan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan atas Pancasila sebagai bentuk dan sistem kenegaraan yang Islami. Bersama dengan itu menguatkan dan memperluas kebersamaan dengan seluruh komponen bangsa dalam meneguhkan integrasi nasional dalam suasana yang damai, persaudaraan, dan saling berbagi untuk persatuan dan kemajuan bangsa,” bunyi poin pertama pernyataan bersama antara NU dan Muhammadiyah yang ditandatangani KH Said Aqil Siroj dan H Haedar Nashir.

Kepada wartawan di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta, Kiai Said mengungkapkan ada rencana dari pihak tertentu untuk menerapkan khilafah di wilayah Asia Tenggara. Ia menyatakan perlu komitmen bersama agar rencana tersebut tidak terjadi.

"Bahkan saya baca kalau tidak salah ada rencana tahun 2024 harus sudah ada khilafah di ASEAN ini, termasuk Indonesia. Mudah-mudahan mimpi itu (pendirian khilafah, red) tidak terjadi, tidak akan terlaksana berkat adanya NU dan Muhammadiyah," beber Kiai Said.

Penolakan terhadap paham khilafah juga ditegaskan NU dan Muhammadiyah dengan mendukung sistem demokrasi. Mereka juga mengajak kepada seluruh bangsa untuk mendukung demokrasi yang substantif.

“Mendukung sistem demokrasi sebagai mekanisme politik kenegaraan dan seleksi kepemimpinan nasional yang dilaksanakan dengan profesional, konstitusional, adil, jujur, dan berkeadaban. Semua pihak agar mendukung proses demokrasi yang substantif serta bebas dari politik yang koruptif dan transaksional demi tegaknya kehidupan politik yang dijiwai nilai-nilai agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur Indonesia,” bunyi pernyataan poin kedua. (Fathoni/NU Online)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar