Akidah Hizbut Tahrir Bukan Ahlusunnah wal Jamaah, tapi Qadariyah

Akidah Hizbut Tahrir Bukan Ahlusunnah wal Jamaah, tapi Qadariyah

Oleh: Ustad Idrus Ramli (fb)

Sekitar bulan Januari 2017, Ustadz Budiman dari Probolinggo, yang saya kenal di Denpasar Bali sejak 2009, menghubungi saya via seluler. Beliau mengutarakan keinginannya bersama beberapa temannya untuk menemui saya. Akhirnya pertemuan itu disepakati pada bulan Pebruari. Seperti yang telah disepakati, akhirnya mereka datang ke tempat kami. Mereka semuanya empat orang. Ternyata mereka adalah para ustadz dan tokoh HTI waktu itu. Dua orang di antara mereka memiliki keilmuan yang bagus dan satu almamater dengan saya. Salah satunya bahkan pernah belajar di Yaman. Saya tidak berpikir bahwa mereka sekarang telah menjadi tokoh HTI dan satu almamater dengan saya. Memang salah satu dari teman sealmamater dengan saya tersebut, saya kenal sejak lama, sejak beberapa tahun yang lalu, ketika menghadiri acara MWC NU Bululawang di daerah Malang bagian selatan dekat Kabupaten Lumajang.

Setelah pembicaraan basa-basi selesai antara kami, Ustadz HTI yang satu almamater dan bahkan kabarnya pernah kepada al-Marhum Habib Salim al-Syathiri di Yaman itu, segera mengutarakan tujuan kedatangannya ke rumah saya. Yaitu agar tidak ada perbedaan antara HTI dengan Ahlussunnah Wal-Jamaah. Singkat cerita, menurutnya antara Ahlussunnah Wal-Jamaah tidak ada bedanya dengan HTI dalam akidah. Simpelnya, dialog kami kurang lebihnya sebagai berikut:

HTI: Sebaiknya Anda tidak perlu membeda-bedakan HTI dengan Ahlussunnah Wal-Jamaah. Karena tidak ada perbedaan antara akidah Ahlussunnah Wal-Jamaah dengan HTI.

SAYA: Kalau memang antara akidah HTI dengan Ahlussunnah Wal-Jamaah tidak ada bedanya, lalu mengapa Anda keluar dari Ahlussunnah dan berpindah ke HTI? (Mereka diam dan tidak menjawab). Jelas sekali perbedaannya. Menurut HTI, seperi dijelaskan oleh pendirinya, Syaikh Taqiyuddin al-Nabhani, perbuatan manusia yang disengaja (al-af’al al-khtiyariyyah), tidak ada hubungannya dengan ketentuan Allah, dan ketentuan Allah juga tidak ada hubungan dengannya. Pernyataan ini jelas sekali berbeda dengan keyakinan mayoritas umat Islam, yaitu Ahlussunnah Wal-Jamaah, bahwa semua perbuatan manusia yang disengaja dan tidak disengaja, adalah ciptaan dan ketentuan Allah. Dalam hal ini, Hizbut Tahrir mengikuti manhaj Mu’tazilah, Syiah Imamiyah dan Zaidiyah.

HTI: Tapi sebenarnya antara keyakinan kami dan Ahlussunnah ada kesamaan dalam hal tersebut, Dalam keyakinan kami, perbuatan manusia yang disengaja, memang tidak ada hubungannya dengan ketentuan Allah. Tetapi kami berpendapat bahwa Allah telah menciptakan khashiyah (keistimewaan khusus, atau semacam kemampuan) pada seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi kemampuan berbuat pada manusia itu juga ciptaan Allah.

SAYA: Justru dengan pendapat tersebut berarti HTI berbeda dengan Ahlussunnah Wal-Jamaah. Dalam kitab al-Kharidah al-Bahiyyah, kitab akidah yang menjadi kurikulum pesantren kita dulu dijelaskan:

فمن يقل بالطبع أو بالعلة # فذاك كفر عند أهل الملة
ومن يقل بالقوة المودعة ## فذاك بدعي فلا تلتفت

Orang yang berpendapat bahwa sesuatu berpengaruh dengan wataknya atau menjadi illat terhadap sesuatu (bukan karena Allah), maka pendapat tersebut adalah kekufuran menurut ahli agama.

Orang yang berpendapat bahwa pengaruh sesuatu itu sebab ada kekuatan yang diciptakan oleh Allah di dalamnya, maka ia adalah ahli bid’ah (yang sesat) dan tidak boleh ditoleh (diperhitungkan).

Bagian kedua di atas, adalah pendapat Anda HTI yang mengikuti Qadariyah (Mu’tazilah, Syiah dan Zaidiyah). Dengan demikian, alasan yang Anda kemukakan justru menunjukkan bahwa HTI memang berbeda dengan Ahlussunnah Wal-Jamaah.

Kemudian dalam kesempatan itu saya menjelaskan, bahwa dengan keyakinan bahwa pengaruh sesuatu atau perbuatan manusia disebabkan kekuatan yang diciptakan oleh Allah di dalamnya, HTI divonis sebagai ahli bid’ah yang sesat dan hukumnya dosa besar. Tetapi para ulama Ahlussunnah Wal-Jamaah tidak sampai mengkafirkan HTI, seperti halnya Mu’tazilah.

Dalam ilmu akidah, golongan Qadariyah itu ada dua golongan.

Pertama, Qadariyah generasi pertama yang ghulat (ekstrem), yang berpendapat bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan dan ketentuan manusia itu sendiri. Tuhan tidak terlibat dalam perbuatan tersebut. Tuhan tidak mengetahui perbuatan itu sebelum manusia berbuat. Tuhan baru mengetahui perbuatan tersebut setelah terjadi dan dilakukan. Kelompok ini telah dikafirkan oleh para ulama, karena berarti menisbatkan kebodohan kepada Allah.

Kedua, Qadariyah generasi kedua, yaitu golongan Mu’tazilah, Syiah Imamiyah, Zaidiyah dan HTI. Menurut mereka, perbuatan manusia yang disengaja adalah ciptaan dan ketentuan manusia, bukan ciptaan dan ketentuan Tuhan. Menurut mereka, Tuhan telah mengetahui apa yang akan mereka lakukan, sebelum mereka diciptakan atau sejak azali (tanpa permulaan). Oleh karena, golongan ini beranggapan bahwa Tuhan telah mengetahui apa yang akan mereka lakukan sejak mereka belum diciptakan, mereka tidak dikafirkan oleh mayoritas umat Islam.

Imam al-Syafi’i mengatakan, golongan Qadariyah dan pengikutnya, dalam hal ketidakpercayaannya kepada ketentuan Allah terhadap perbuatan mereka yang disengaja, sangat mudah dipatahkan dengan keyakinan mereka sendiri yang mengatakan bahwa Allah mengetahui perbuatan mereka sebelum mereka diciptakan. Misalnya kita bertanya kepada HTI, benarkah perbuatan manusia yang disengaja atau yang dikuasai adalah ciptaan dan ketentuan manusia, bukan ciptaan dan ketentuan Tuhan? Ia akan menjawab, benar.

Lalu HTI ditanya lagi, apakah Tuhan telah mengetahui perbuatan mereka, sebelum mereka diciptakan? Kalau HTI menjawab, Tuhan tidak tahu, berarti mereka menisbatkan kebodohan kepada Allah, dan hukumnya kufur. Kalau mereka menjawab, Tuhan mengetahui perbuatan mereka sebelum mereka diciptakan. Maka jawaban ini akan melahirkan pertanyaan lanjutan kepada mereka, yaitu pertanyaan “Kalau begitu, siapa yang merencanakan perbuatan tersebut?”

Kalau HTI menjawab, yang merencanakan adalah mereka sendiri, maka jawaban ini tidak rasional. Bagaimana mungkin, makhluk yang belum diciptakan telah merencanakan sesuatu yang akan ia lakukan? Apabila HTI menjawab, bahwa yang merencanakan perbuatan tersebut adalah Tuhan, maka itulah sebenanya keyakinan Ahlussunnah Wal-Jamaah terhadap keberadaan takdir dan ketentuan Allah.

Demikian penggalan dialog kami dengan sahabat HTI. Dalam penjelasan tersebut, sahabat dari HTI dapat menerima penjelasan dari saya. Alhamdulillah. Kini, HTI telah dibubarkan oleh pemerintah. Semoga mereka kembali kepada Ahlussunnah Wal-Jamaah.

Kita harus mengakui, orang-orang HTI memiliki ghirah yang tinggi terhadap agama, dijalankannya syariah Islam oleh umat Islam sendiri, penanaman akhlak Islami, terutama untuk kalangan remaja dan pemuda yang semakin lama semakin tergerus oleh arus modernisasi global. Tetapi mereka salah pergaulan dan salah jalan, sehingga keluar dari Ahlussunnah Wal-Jamaah dan mengikuti aliran Qadariyah.

Tentu tulisan ini tidak seutuhnya menyampaikan perbedaan HTI dengan Ahlussunnah Wal-Jamaah. Masih banyak perbedaan HTI dengan Ahlussunnah Wal-Jamaah dalam hal akidah dan syariah. Wallahu a’lam.

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar