Walau Kerap Dituduh Bid'ah, Warga NU Istiqomah Bela Tauhid dengan Membaca Yasin dan Tahlil

Walau Kerap Dituduh Bid'ah, Warga NU Istiqomah Bela Tauhid dengan Membaca Yasin dan Tahlil

Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, KH Muin Abdurrahim mengajak para santrinya melakukan aksi bela tauhid (Islam) dengan melantunkan surat Yasin, Tahlil, Tahmid dan Takbir.

"Orang tua kita, guru-guru kita yang telah dahulu meninggalkan kita telah mengajarkan pembacaan Surat Yasin," kata Kiai Muin pada pengajian maghrib, Kamis (25/10) petang. 

Kiai Muin meminta hadirin memahami bagaimana menghormati dan mengagungkan kalimat Tauhid, termasuk bahwa penulisan kalimat Tauhid di kain tidaklah tepat.

"Mazhab yang empat telah mengharamkan menulis kalimah Tauhid di kain. Menuliskan kalimat 'Lailahaillallah' di baju, kaos, topi hukumnya haram," kata Kiai Muin pada pengajian yang berlangsung di masjid pesantren tersebut.

Menurut Kiai Muin, jika kain itu kotor, maka akan dicuci, dibawa ke WC, digilas-gilas, haram hukumnya. "Sangatlah sulit menghormati dan mengagungkan kalimah tauhid (yang ditulis di kain). Santri Citangkolo harus paham," tegasnya.

Ia juga menceritakan pada masa Rasulullah yang ada hanya kain putih dan hitam saja. Walaupun ada tulisan 'Lailahaillallah' itu pun menggunakan huruf liwa.

"Tidak ada harkat, dan titik pada kalimat 'Lailahaillallah," lanjutnya.

Setelah ada Al Qaeda, kata Kiai Muin, barulah bendera 'Lailahaillallah ada warna hitam dan putih. Dibawa ke Indonesia ada harkat dan titik pada kalimat Tauhid tersebut, yang sering dipakai oleh ormas yang dilarang oleh pemerintah, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia.

"Santri Citangkolo jangan mudah terprovokasi dengan aksi bela tauhid. Aksi bela tauhid Islam kita dengan membaca Yasin, Tahlil, Tahmid dan Takbir. Kita jangan ikut-ikutan," tukasnya. (Siti Aisyah/Kendi Setiawan/NU Online)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar