Tradisi Larung Sesaji, Jangan Dilarang tapi Harus Diluruskan

Tradisi Larung Sesaji, Jangan Dilarang tapi Harus Diluruskan

Larung Sesaji(sedekah Laut) dan Nyadran(sedekah bumi) ada yang menyebut reminisensi dari upacara sraddha Hindu yang dilakukan pada zaman dahulu kala. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa nyadran itu berasal dari bahasa Arab نذرا yang artinya nadzar, kosakata nadzran kemudian dibaca dengan dialek Jawa menjadi nyadran. Nyadran juga terkadang dinamakan sedekah laut. Dulu tradisi nyadran dilakukan masyarakat pantai, sedangkan tradisi sedekah bumi dilakukan masyarakat petani. Tetapi sekarang tradisi penyembelihan kambing oleh masyarakat petani juga dinamakan nyadran.

Apabila penyembelihan kambing, penyembelihan kerbau yang disebut Nyadran atau Larusng sesaji itu diniati sebagai rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang dilimpahkan-Nya berupa tumbuhnya tanaman padi yang subur dan berupa keadaan bumi yang aman dari malapetaka karena Allah, atau bersyukur atas banyaknya tangkapan ikan di laut dan tidak diniati sebagai sesaji kepada Dewi Sri, atau kepada para dewa atau para danyang, maka hukumnya diperbolehkan, tidak diharamkan.
Tetapi apabila diniati sebagai sesaji kepada Dewi Sri, kepara para dewa atau para danyang, atau diniati sebagai persembahan kepada jin penjaga keamanan desa atau keamanan laut, maka hukumnya haram karena mengandung nilai kemusyrikan.

Terlebih lagi, apabila kerbau, sapi atau kambing yang telah disembelih itu kemudian kepalanya ditanam di dalam bumi atau dibuang dilaut, maka hukumnya juga haram, karena membuang harta yang bermanfaat itu termasuk menyia-nyiakan harta benda (تضييع المال). Dengan demikian, dapat diketahui bahwa hukum haramnya nyadran dan larung itu bukan haram mutlak, tetapi haram bersyarat (muqoyyad). Dan penentuan hukum tradisi seperti nyadran dan sedekah bumi itu tergantung kepada tujuannya. Ada kaidah fiqhiyah yang berbunyi :

للوسائل حكم المقاصد

Perbuatan yang berupa sarana itu hukumnya sama dengan tujuannya.

Apabila ada yang mengatakan bahwa nyadran dan larung itu haram mutlak, karena berasal dari budaya Hindu, maka perkataan itu tidak benar. Tidak semua yang berasal dari non-Islam itu diharamkan. Hukum Qishos yang disyariatkan oleh Nabi SAW itu berasal dari kaum jahiliyah, tetapi kok malah diharuskan, tidak dilarang karena berdasarkan asal usulnya.
Sesaji bukanlah ajaran islam dan tujuannya sudah menyimpang dari Islam, yaitu hewan yang disembelih atau makanan yang tersedia itu diperuntukkan kepada para dewa, arwah-arwah tertentu atau para danyang, dan dilakukan hanya menurut kepercayaan orang tua, tanpa berdasarkan kepada dasar-dasar agama Islam.

Jadi apakah kita harus menolak tradisi diatas?
Tim admin Muslimoderat menyarankan jangan gegabah melarang tradisi, kebiasaan yang sudah berlangsung di masyarakat jangan dilarang tapi diluruskan, sebagaimana dulu para walisongo tidak melarang tradisi kenduri tapi hanya merubah praktek yang ada dalam kenduri yaitu ritualnya diganti dengan tahlilan, berkat yang dulunya untuk sesaji lalu dirubah dengan disedekahkan.

- Referensi :

قال الله تعالى : وَلاَتَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لاَ يَنْفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَاِنْ فَعَلْتَ فَاِنَّكَ اِذًا مِنَ الظَّالِمِيْنَ ، يونس١٠٦

Allah berfirman : “Dan janganlah kamu memohon (beribadah) kepada selain ALLOH, akan apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi madharat, sebab jika kamu berbuat demikian, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang dholim”.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه انه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلصَّدَقَةُ تَمْنَعُ سَبْعِيْنَ نَوْعًا مِنَ اَنْوَاعِ الْبَلاَءِ اَهْوَنُهَا الْجَدَامُ وَالْبَرص ، حديث مرفوع

Dari Anas bin Malik RA, bahwasanya dia berkata : Rasululloh SAW bersabda : “Shodaqoh itu dapat menolak tujuh puluh macam bala’ (bencana) yang paling ringan ialah penyakit kusta dan belang (sopak)”.

عن طارق بن شهاب، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: دخل الجنة رجل في ذباب، ودخل النار رجل في ذباب ، قالوا: وكيف ذلك يا رسول الله؟! قال: مر رجلان على قوم لهم صنم لا يجوزه أحد حتى يقرب له شيئاً، فقالوا لأحدهما قرب قال: ليس عندي شيء أقرب قالوا له: قرب ولو ذباباً، فقرب ذباباً، فخلوا سبيله، فدخل النار، وقالوا للآخر: قرب، فقال: ما كنت لأقرب لأحد شيئاً دون الله عز وجل، فضربوا عنقه فدخل الجنة ، رواه أحمد

Dari Thariq bin Syihab menuturkan bahwa Rasulullah bersabda : “Ada seseorang masuk surga karena seekor lalat, dan ada seseorang yang masuk neraka karena seekor lalat pula”. Para sahabat bertanya: Bagaimana hal itu, ya Rasulallah. Beliau menjawab: “Ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala, tidak seorangpun boleh melewati berhala itu sebelum mempersembahkan kurban kepadanya. Ketika itu, berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut: Persembahkanlah kurban kepadanya. Dia menjawab: Aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat kupersembahkan sebagai kurban kepadanya. Merekapun berkata kepadanya lagi: Persembahkan, sekalipun hanya seekor lalat. Lalu orang tersebut mempersembahkan seekor lalat dan merekapun memperkenankan dia untuk meneruskan perjalanannya. Maka orang itu masuk neraka karena lalat. Kemudian berkatalah mereka kepada seorang yang satunya lagi: Persembahkanlah kurban kepadanya. Dia menjawab : Aku tidak akan mempersembahkan kurban kepada selain Allah Azza wa Jalla. Kemudian mereka memenggal lehernya. Karenanya, orang ini masuk surga”. (HR. Ahmad)

Ghoyat Talkhis al Murad min Fatawa Ibn Ziyad I halaman 149

مسألة): إذا سأل رجل آخر: هل ليلة كذا أو يوم كذا يصلح للعقد أو النقلة؟ فلا يحتاج إلى جواب، لأن الشارع نهى عن اعتقاد ذلك وزجر عنه زجراً بليغاً، فلا عبرة بمن يفعله، وذكر ابن الفركاح عن الشافعي أنه إن كان المنجم يقول ويعتقد أنه لا يؤثر إلا الله، ولكن أجرى الله العادة بأنه يقع كذا عند كذا، والمؤثر هو الله عز وجل، فهذا عندي لا بأس به، وحيث جاء الذم يحمل على من يعتقد تأثيرالنجوم وغيرها من المخلوقات، وأفتى الزملكاني بالتحريم مطلقاً، وأفتى ابن الصلاح بتحريم الضرب بالرمل وبالحصى ونحوها، قال حسين الأهدل: وما يوجد من التعاليق في الكتب من ذلك فمن خرافات بعض المنجمين والمتحذلقين وترّهاتهم لا يحل اعتقاد ذلك، وهو من الاستقسام بالأزلام، ومن جملة الطيرة المنهيّ عنها، وقد نهى عنه عليّ وابن عباس رضي الله عنهما.

Ketika ada seorang laki-laki ditanya: Apakah malam begini dan hari begini adalah baik untuk melakukan aqad dan boyongan? Soal seperti ini tidak memerlukan kepada jawaban lagi, karena sesungguhnya syara’ telah melarang dari meyakini mitos semacam dan mencegahnya dengan sebenar-benar pencegahan, sehingga tak perlu lagi digambarkan bagaimana syara’ menghukumi terhadap orang yang melaksanakannya (al munajjim). Ibnu Al Farkah mengingatkan qaul Al Syafi’i bahwasannya jika pelaku masih meyakini bahwasannya “Tiada yang memberi bekas (pengaruh) selain daripada Allah, namun Allah menitahkan adanya adat bahwasannya hal seperti ini terjadi ketika ada begini-begini, dan Allah Azza wa Jalla yang berperan selaku muatsir, maka menurut pandangan saya, bahwa ini tidak apa-apa. Yang dicela dari sisi syariat adalah bilamana pelaku meyakini bahwa bintang begini memberi pengaruh begini dan begini, dan lain-lain termasuk didalamnya semua makhluk ciptaan Allah. Imam al Zamlakany menghukumi haram secara mutlak. Imam Ibnu Sholah menghukumi haram mengundi dengan pasir atau dengan tongkat dan sejenisnya. Syeikh Husain al Ahdal menyatakan: Berdasarkan referensi dari beberapa kitab tentang hal -hal di atas, dinyatakan bahwa yang tidak boleh diyakini adalah semacam keyakinan para penganut perbintangan (zodiac), al mutahadzalliqin, paranormal (turahah), karena hal semacam ini termasuk bagian dari undi nasib dengan panah, termasuk kelompok thayyarah yang dilarang oleh syariat sebagaimana yang pernah dilarang oleh Sayyidina Ali dan Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhum.


Bushro al Karim halaman 703

ويحرم الذبح تقربا الى سلطان او غيره عند لقائه لما مر فإن قصد الإستبشر بقدومه فلا بأس او ليرضى غضبانا جاز لأنه لايتقرب به الى الغضبان بخلاف الذبح لنحو الصنم ولو ذبح للجن حرم الا انه قصد التقرب الى الله ليكفيه شره فيسن بل لو ذبح لا بقصد التقرب الى الله ولا الى الجن بل لدفع شرهم فهو كالذبح لإرضاء غضبان أفاده في الروض وشرحه ونقل في الأخيرة عن ابي محرمة وغيره الحرمة ولكن ما مر عن شرح الروض من عدمها هو القياس كما مر

Haram melakukan penyembelihan dalam rangka taqarrub kepada seorang penguasa dan yang lainnya, disebabkan karena pertemuannya yang sebelumnya. Namun jika hanya dimaksudkan karena ungkapan kebahagiaan atas kehadirannya, maka hal tersebut tidak apa-apa atau agar dengan tujuan sekedar meredam emosi mereka, maka hal tersebut diperbolehkan. Hal ini disebabkan illah taqarrubnya bukan kepada orang yang emosi itu. Namun, beda bila ‘illah penyembelihan adalah karena arah patung atau jin, maka hal semacam ini hukumnya haram. kecuali bilamana hal itu niat sebenarnya adalah untuk taqarrub kepada Allah SWT agar Ia menghentikan keburukan perilaku para makhluk jin tersebut, dengan demikian hukumnya sunnah. Lantas, bilamana penyembelihan oleh seseorang tidak dimaksudkan taqarrub kepada Allah, namun juga tidak kepada jin, akan tetapi karena menolak keburukan para lelembut di atas, maka hal semacam ini hukumnya seperti penyembelihan yang ditujukan agar redanya kemarahan seseorang. Keterangan ini dipetik dari Kitab Al Raudl dan syarahnya.

Hamisy Fath al Wahhab II halaman 15

ومنها الإستعانة بالأرواح الأرضية بواسطة الريا ضة وقراءة العزائم الى حيث يخلق الله تعالى بمص ذلك على سبيل جرى العادة بعض خوارق وهذا النوع قالت المعتزلة انه كفر لأنه لا يمكن معه معرفة صدق الرسل عليهم الصلاة والسلام للإلتباس ورد بأنه العادة الإلهية جرت بصرف المعارضين للرسل أن اظهار خارق ثم التحقيق ان يقال ان كان من يتعاطى ذلك خيرا متشرعا في كامل ما يأتى ويدر وكان من يستعين به في الأرواح الخيرة وكانت عزائمة لا تخالف الشرع وليس لما يظهر على يده من الخوارق ضرر شرعي على احد فليس ذلك من السحر بل من الأسرار والمعونة وإلا فهو حرام ان تعلمه ليعمل به بل يكفر ان اعتقد حل ذلك فان تعلمه ليتوقاه فمباح وإلا فمكروه

Qodlo’ al Adab halaman 441

والضابط فى إضاعة المال أن يكون لا لغرض دينى ولا دنياوى. فمتى انتفى هذان الغرضان من جميع وجوههما حرم قطعا قليلا كان المال أو كثيرا. ومتى وجد واحد من الغرضين وجودا له مال وكان الإنفاق لائقا بالحال ولا معصية فيه جاز قطعا. إهـ.

Siroj al Thalibin I halaman 110

ومن الأول ايضا ماعم به الإبتلاء من تزيين الشيطان للعامة تخلية حائط اي بأن يخلقوه بالخلوق وهو نوع من الطب او تخليط عمود وتعظيم نحو عين او حجر او شجرة لرجاء شفاء او قضاء حجاة وقبائح في هذا ظاهرة غنية من الإيضاح والبيان اهـ.

Siraj al Thalibin I halaman 58

اما وضع الطعام والأزهار في الطروق والمزارع اوالبيوت لروح الميت وغيره في الأيام الممعتادة كيوم العيد ويوم الجمعة وغيرهما وكل ذلك من الأمور المحرمة ومن عادة الجاهلية ومن عمل اهل الشرك.

Menaruh makanan dan bunga di jalan atau kebun, atau rumah, karena tujuan ruh mayit dan lainnya, yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu seperti hari ‘id, dan hari jum’at atau hari-hari lainnya, semua itu adalah termasuk perkara yang diharamkan dan termasuk tradisi jahiliyah serta merupakan perilaku ahli syirk

--
Oleh: Admin Muslimoderat

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar