Kaum Pemuja Sablon

Kaum Pemuja Sablon

Anda semua pasti tahu bahwa Rasulullah dulu pernah bersabda bahwa ciri kelompok yang akan menjadi pasukan Imam Mahdi kelak adalah panji-panji hitam. Hadits ini berderajat shohih bahkan mutawattir dan diakui oleh mayoritas muslim, Sunni maupun Syi’ah.

Saking populernya hadits ini, setiap kelompok “jihad” kontemporer berusaha menduplikasi ciri kelompok ini agar dapat mengklaim diri sebagai kelompok yang dijanjikan Nabi. Sebut saja Al-Qaeda, ISIS, Taliban, Hizbut Tahrir, Basayev, JAT, sampai Jamaah Islamiyah yang semua seakan sepakat berlomba memakai ciri ini agar bisa mengklaim diri sebagai kelompok yang dijanjikan.

Lucunya, tidak sedikit sesama plagiator diatas yang saling mengkafirkan bahkan saling membunuh, contoh saja antara ISIS dan Jabhat Nushrah (cabang Al Qaeda di Suriah) yang saling penggal, padahal notabene sama-sama mengklaim diri panji-panji hitam yang dijanjikan lengkap dengan catutan kalimat Tauhid.

Disgusting kan?

So, hanya dengan modal bendera hitam dan kalimat tauhid bukan jaminan anda adalah kelompok yang dijanjikan Nabi. Bisa jadi justru anda adalah Dajjal-dajjal penipu yang berusaha menipu manusia dengan menyerupai ciri kelompok Haq yang disebutkan Nabi. Bukankah Dajjal sendiri bergelar “Al-Masih Ad Dajjal” karena ia penipu yang menyamar sebagai Al Masih putra Maryam yang akan turun di akhir zaman.

Pertanyaannya adalah sekarang bagaimana anda akan menyikapi para Dajjal ini?

Dengan begitu populernya hadits tersebut orang waras pasti akan memperkirakan akan sangat banyak bermunculan aksi duplikasi panji hitam pemegang kebenaran. Tapi sayangnya sebagian muslim yang moron dan kelewat lugu namun memiliki semangat jihad nyaris ereksi akan mengambil kelompok apa saja dengan ciri diatas sebagai pedoman sambil berkata “Inilah kelompok yang sesuai ciri yang dinubuatkan Nabi, Al Liwa, Ar Rayyah bla bla”

So damn stupid! Muslim begini banyak, itulah mengapa Nabi menyebut umat Islam akhir zaman bak buih di lautan, Hiqh quantity but low quality, gampang tertipu dan gampang ditunggangi dengan plagiasi simbol-simbol. Bahkan membakar bendera salah satu kelompok penipu diatas pun akan menjadi masalah besar karena kelompok itu bersembunyi di balik sakralitas kalimat Tauhid yang mereka catut untuk menipu.

Para pengecut itu menggunakan cara ‘appeal to authority’ ketika terdesak. Karena tak berani mengakui itu sebagai bendera mereka, para penipu bermain drama ‘playing victim’ bersembunyi di tengah jemaah yang lebih besar dan berteriak “Hei lihat itu Banser membakar bendera kita semua, umat islam” tanpa pernah mengindahkan pernyataan Banser bahwa yang mereka bakar adalah bendera si penipu.

Bagaimana mungkin anda akan menuduh Banser sebagai penista Tauhid padahal Tauhid dalam arti sebenarnya (bukan sekedar sablonan) amatlah sakral bagi kalangan Ansor.

Mungkin mereka tak pernah menyadari bahwa Banser bukan “anak kemaren sore” dalam hal Tauhid. Dalam shalat, ba’da shalat dan setiap wirid, Tahlil (membaca Lailahailallah) adalah kewajiban yang tak pernah lepas. Bahkan mereka sendiri lahir dari golongan yang mengamalkan Tahlil Fida’ yang membaca Lailahailallah 70.000 kali untuk mendoakan saudara muslimnya yang telah wafat yang justru amalan yang sering disesatkan & dibid’ahkan para pemuja sablon.

Dan memang orang yang biasa ber-Tahlil di lisan dan hati tak akan tertipu dengan kalimat Tahlil di kain sablon, apalagi yang digunakan ormas terlarang sebagai topeng untuk menipu orang. (*)

Penulis : Ahmad Zainul Muttaqin (fb)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar