Habib Umar Muthohar: Ketahui Gurumu, Jangan Ikut Ajaran yang Baru-baru

Habib Umar Muthohar: Ketahui Gurumu, Jangan Ikut Ajaran yang Baru-baru

Ulama terdahulu telah mengajarkan tuntunan agama dengan sebaik-baiknya. Hasilnya kehidupan masyarakat dipenuhi keberkahan hingga tercipta suasana yang damai, tentram dan nyaman dalam beragama.

Demikian disampaikan Wakil Mudir Aam Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah (Jatman) Habib Umar Muthohar dalam peringatan Isra' Mi'raj di Masjid Nurul Mubin, Gilang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Rabu  (11/03) .

"Dahulu ajaran agama dipegang oleh kiai yang benar-benar alim, sehingga hidup tidak ada masalah yang neko-neko dan menimbulkan perpecahan," tuturnya dalam bahasa Jawa.

Menurut Habib Umar, di era sebelum reformasi persoalan agama tidak banyak sebab paham yang diajarkan para kiai dan ulama menjunjung tinggi nilai kesantunan. Faktanya memang ada beberapa ajaran yang menyimpang tetapi sedikit dan masih teratasi.

"Tidak seperti sekarang yang semakin beragam dan tidak jelas siapa gurunya," imbuh Habib Umar.

Sebab itu, kata Habib Umar, dalam hidup kita mesti memiliki guru pembimbing spiritual yang nyata kita ketahui kualitas dan sanad keilmuannya. Minimal kita bisa menilainya dengan melihat riwayat pendidikannya.

"Ketahui orang itu pernah nyantri di mana dan dengan siapa saja. Jangan asal anggap orang sebagai guru. Rumahmu boleh baru, hartamu boleh baru, tapi jangan ikut ajaran yang baru-baru," tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Habib Umar juga mengingatkan pentingnya memenuhi panggilan Allah SWT untuk beribadah. Semakin sering dan semangat seseorang memenuhi panggilan-Nya, semakin senang pula Allah kepada orang itu.

"Kalau Allah sudah senang, apapun permintaanmu Insyaallah akan dikabulkan," ujarnya.

Selanjutnya, Habib Umar bercerita beberapa kejadian yang dialami Nabi Muhammad sewaktu Isra' Mi'raj. Menurutnya semua itu merupakan pelajaran yang bisa dijadikan kewaspadaan agar berhati-hati dalam kehidupan sehari-hari.

"Dalam surat fatihah sudah jelas, ibadah (na'budu) dulu baru nanti kita akan ditolong (nasta'in), ini rumus," katanya.

Menjadi rangkaian pengajian ini, sebelumnya juga telah dilaksanakan dua acara khas warga nahdliyin, berupa tahlil massal dan khotmil qur'an. (M. Farid/Muiz/NU Online)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar