Bendera HTI Membawa Gaduh, Tahlilan NU Bikin Teduh

Bendera HTI Membawa Gaduh, Tahlilan NU Bikin Teduh

 Kalimat tauhid, bagi NU diucapkan setiap saat dan waktu. Siang, malam, pagi dan petang. Itu merupakan dzikrullah. Jadi sudah menjadi makanan sehari-hari. Apalagi Minggu, 28 Oktober 2018, alunan kalimata Tauhid akan menggema dari jutaan bibir Nahdliyin dalam acara Istighatsah Kubro di GOR Gelora Delta, Sidoarjo. Di situ akan tampak bela Tauhid yang sesungguhnya.

Habib Lutfi bin Yahya, Pekalongan, satu-satunya habib yang mengajarkan dzikrullah kepada para ulama dan kyai di Nusantara yang tergabung dalam JATMAN (Jam'iyah ahlith Thariqah Al-Mu'tabaroh An-Nahdliyah). Ini adalah organisasi yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang mengamalkan thariqah.

Mereka menghidupkan Kalimat Tauhid dalam lisan, dan hatinya dalam hidupnya. Kesejukan, kenyamanan, kedamaian akan dirasakan bagi orang-orang yang menyebut Kalimah Tauhid yang dipimpin Habib Lutfi dan Kyai.

NU dan habaib merupakan satu-kesatuan yang tidak terpisahkan di negeri Indonesia. Mereka ditemukan dalam satu teologis (akidah), madzhab, dan juga kebiasaan mengagungkan Kalimah Tauhid yang di sebut dengan (Thariqah). Nah, orang yang paling getol membela para Habaib (Durriyah Rasulullah SAW) di Nusantara adalah KH Abdurrahman Wahid alias "Gus Dur" ketika disudutkan.

Habaib (Sayyid) adalah keturunan Rasulullah SAW. Bagi NU, mereka itu ibarat permata. Dalam kondisi apapun, akan dicari dan selalu dibutuhkan. Sebagian dari ulama NU terdiri dari habaib. Dan sesungguhnya, Kyai dan Habaib di Nusantara sepakat menjaga NKRI yang tergabung dalam Jamiyah Nahdlatul Ulama.

Namanya saja mutiara. Walaupun kotor kecebur lumpur, tetap saja istimewa dan mudah membersihkan. Begitulah analogi para Kyai terhadap Dlurriyah Rasulullah SAW.

Berbeda dengan batu akik, akan mengkilat jika digosok puluhan kali, bahkan ratusan kali. Cara menggosok akik, agar selalu mengkilap, yaitu dengan banyak tirakat (puasa), sebagaimana yang dilakukan oleh Kyai Jawa. Begitulah analogi Kyai.

Habib Lutfi Pekalongan salah satu tokoh NU, pimpinan Thoriqoh Al-Mu'tabarah Al-Nahdiyah menjadi rujukan utama di dalam masalah keumatan, kedamaian, bahkan menjadi bapaknya Banser dan Ansor. Habib Lutfi mengajari Banser meng-agungkan Kalimat Tauhid diucapkan (wirid), bukan dikibar-kibarkan seperti bendera HTI.

Beliau adalah "Durriyah Rosulullah SAW" yang setia menjaga NU. Siapa-pun yang ingin membubarkan Banser, secara tidak langsung ingin membubarkan NU, dan juga akan ngobrak ngabrik Jamiyah Nahdlotul Ulama yang dirikan KH Muhammad Hasyim Asy'ary bersama para Habaib.

Dengan kata lain, orang yang ingin membubarkan Banser, secara tidak langsung telah melakukan tindakan tidak terpuji kepada para ulama NU dan Habaib yang ikut serta mendirikan NKRI, juga membubarkan PKI, membubarkan NII, TII dan DI.

Barangkali, tidak ada masyarakat yang sangat cinta dan memulyakan Durriyah Rosulullah SAW melebihi masyarakat Nadhidyin di NU-Santara. Tidak satupun pesantren Nahdiyin, kecuali memulyakan Kyai dan Habaib. Disamping adanya perintah Rosulullah SAW, juga karena ajaran ulama Nusantara yang berada memuliakan bangsa Arab. Jadi, sangat tidak mungkin Banser membakar Bendera Tauhid. Karena yang benar adalah membakar bendera HTI.

 Tujuannya adalah menyelamatkan Kalimah Toyibah itu. Wong satu huruf Alquran, jatuh diambil dan diletakkan di tempat yang lebih tinggi. Apalagi bendera bertuliskan Kalimat Tauhid. Itulah ajaran Kyai dan Durriyah Nabi Muhammad SAW kepada warga NU.

Dulu, saat ketua umum MUI (Majelis Ulama Indonesia) dijabat oleh  KH Hasan Basri, beliau pernah menulis artikel pada 1993 yang isinya  kira-kira begini; "Tidak ada anak keturunan Rasulullah di Indonesia bahkan di dunia karena sudah dinyatakan terputus dikarenakan tidak adanya lagi keturunan Hasan dan Husein."

Al-Habib Nauval habis-habisan menyerukan kepada ulama NU-Santara (para Kyai dan Gawagis), sekaligus meminta kepada ulama NU-Santara agar membela para Habaib. Beliau-pun berkata; "Hai kalian para ulama, bangkit kalian jangan mau diperalat oleh siapapun. Kami para Habaib tidak butuh pengakuan. Tapi kalau kalian hanya diam atas fitnahan terhadap kami, sesungguhnya kalianlah yang paling rugi serugi-ruginya."

Satu-satunya ulama NU, yang berani melawan orde baru, sekaligus membuat pembelaan nyata kepada cucur Rosulullah SAW adalah KH Abdurahman Wahid.

Tahun 1994, KH Abdurahman Wahid memberikan ceramah di pesantren Cileduk-Jakarta. "Hanya orang bodoh yang mengatakan batu permata dibilang batu koral. Dan yang paling bodoh batu permata kok dihargakan batu kerikil. Mereka para cucunya Rasulullah SAW datang ke negeri ini merupakan karunia Tuhan yang terbesar. Dan hanya orang-orang yang kufur nikmat kalau tidak mau mensyukurinya." Begitulah pembelaan KH Abdurahman Wahid kepada Durriyah Rasulullah SAW.

Habib Lutfi Pekalongan salah satu Durriyah Roasulullah SAW yang cinta kepada Kyai, dan juga menjaga NU, Ansor dan Banser. Ketika seorang Banser membakar "Bendera bertuliskan Tauhid", pada hakekatnya Banser sedang menjaga NKRI. Karena ternyata, disinyalir bendera itu milik HT (Hizbut Tahrir) yang sengaja disusupkan untuk membuat kegaduhan pada Hari Santri Nasional di Garut. Sangat wajar, jika Habib Lutfi meminta agar pembawa dan pengibar bendera itu ditangkap.

Sampai kapan-pun, HTI yang telah dibubarkan tidak akan terima dengan kondisinya sekarang ini. Mereka akan melakukan perlawanan dengan cara apa-pun. Sampai kapan-pun, HTI tidak akan menerima bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena HTI hanya yakin dengan "Khilafah Islamiyah".

HTI juga tidak akan mau hormat bendera merah putih, karena itu merupakan kesyirikan. Pancasila juga di anggab sebagai berhala, sehingga mereka akan berusaha merubah Pancasila dengan Khilafah Islamiyah yang mereka yakini.

NU satu-satunya organisasi yang menentang HT, juga melawan gerakannya, juga mendukung pembubaran nya. Setelah sekian lama tiarap, terpancing dengan pembakaran bendera HT yang dibakar dengan spontanitas. Respon dari orang-orang yang mengecam NU, dan meminta membubarkan Banser adalah orang yang sakit hati terhadap NU. Tujuan utamanya adalah kebencian terhadap NU, karena NU merupakan pilar utama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagi NU, untuk mengumpulkan warganya dari seluruh Nusantara untuk demonstrasi tandingan, itu perkara gampang. Bukan satu juta, namun bisa puluhan juta dalam waktu yang sama. Warga NU sudah terbiasa menghadapi tuduhan syirik, bidah, sesat dari lawan-lawan politik. Terbukti, lawan-lawan itu akhirnya lenyap begitu saja.

Itu karena tujuan berdirinya NU untuk menyatukan visi dan misi para Kyai dan Habaib dalam masalah akidah, syariah dalam sebuah Negara yang aman. Di dalam Jamiyah NU, terdiri dari para Kyai, Habaib, mereka sepakat menjaga keutuhan NKRI dan ke Kebinekaan. Penyusupan HT pada acara Hari Santri Nasional menjadi momentum penting untuk menyatukan kekuatan NU. Organisasi yang didirikan para Habaib, Kyai akan semakin kuat, kokoh. 

Nah, tanggal 28 Oktober 2018, akan diadakan Istighosah Kubra di Sidoarjo. Ini akan menjadi bukti nyata bahwa NU tetap kuat, kokoh, kuat, eksis. Semua akan mengibarkan merah putih, bukan mengibarkan bendera Tauhid Ala Hizbu Tahrir. Walaupun tidak mengibarkan bendera Tauhid, namun jutaan warga NU akan menggemakan Kalimat Tauhid, Tahmid, Tasbih dan sholawatan  kepada Rosulullah SAW di Sidoarjo. Itulah bedanya HTI dan NU yang di dirikan para kekasih Allah SWT.

Bagi warga NU, ketika Kalimah Tauhid yang keluar dari lisan, akan membuat damai dan tenang jiwa, keteduhan, dan kedamaian, karena itu meng-agungkan Allah SWT. Sedangkan ketika bendera HTI diangkat dan dikibarkan, maka muncullah kegaduhan dan kadang juga cacian. Itulah bedanya Kalimah Tauhid yang keluar dari lisan dan hati, atas dasar iman dan cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, sementara bendera Hizbu Tahrir berkibar atas dasar politik dan haus kekuasaan. (*)



Abdul Adzim Irsyad adalah pengajar di Unisma Malang.

Sumber: timesindonesia.co.id

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar