Kiai Afifuddin Muhajir: Ulama Itu Berilmu Luas Dan Bertakwa

Kiai Afifuddin Muhajir: Ulama Itu Berilmu Luas Dan Bertakwa

Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat Indonesia memperdebatkan mengenai makna dan kriteria sosok ulama. Timbul berbagai macam komentar, bahkan istilah baru pun bermunculan seperti santri post-islamisme atau ulama post-islamisme. Ironisnya, ada juga yang memberi label ulama kepada orang tertentu guna meraup kepentingan politik semata.

Menurut Kiai Afifuddin Muhajir, ada dua hal yang harus dimiliki seseorang agar bisa disebut sebagai ulama. Pertama memiliki kepakaran ilmu yang luas, dan kedua senantiasa bertakwa kepada Allah Swt. “Jadi, ada dua hal yang harus dimiliki seseorang agar dia berhak disebut ulama. Pertama, ia memiliki bidang keahlian, pakar di dalam bidang tertentu, dan di sisi lain ia memiliki ketakwaan yang luar biasa,” ujar Kiai Afif sebagaimana diwartakan reporeter Ma’had Aly, Situbondo.

Kiai yang dikenal ahli ushul fikih itu menambahkan, kedalaman ilmu seseorang belum cukup untuk menjadikannya sebagai ulama. Atau sebaliknya, ketakwaan saja juga belum cukup menjadikan seseorang disebut ulama. Makna seorang ulama adalah perpaduan antara kedalaman dan keluasan ilmu dengan ketakwaan yang luar biasa kepada Allah Swt.

“Kedalaman ilmu saja tanpa ketakwaan, tidak menjadikan seseorang sebagai ulama atau sebaliknya, ketakwaan saja tanpa kedalaman ilmu itu bukan ulama,” jelas Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah, Sukerejo, Situbondo itu.

Kiai Afif mengingatkan, ulama itu merupakan posisi yang amat terhormat, sehingga jangan sampai dijadikan label kepada seseorang hanya untuk meraup kepentingan politik semata. “Jangan beranjak dari posisi yang terhormat ini, berubah menempati posisi yang lain sebagai alat kekuasaan atau alat kepentingan politik,” pungkasnya.[islamramah.co]

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar