Kader NU di Jerman Raih Penghargaan Peneliti Internasional

Kader NU di Jerman Raih Penghargaan Peneliti Internasional

Mungkin kita tidak kaget bila mendengar sebuah tim penelitian bernama Delphi. Delphi kepanjangan dari 3D Laser Lithography for Photonic Integration, yang berasal dari Karlsruhe Institute of Technology (KIT), Jerman, telah dianugerahi penghargaan terbaik kedua Berthold-Leibinger Innovation Prize.

Bisa saja hal ini disebabkan karena peristiwa ini terjadi sekitar 11.000 km jauhnya dari lokasi kita tinggal di Indonesia, sehingga tidak memberi banyak pengaruh. Namun, bagi Muhammad Rodlin Billah, seorang kader NU Jerman, malam penghargaan tersebut menjadi hal yang sulit dilupakannya.

Oding, sapaan akrabnya, adalah satu dari delapan orang peneliti yang tergabung dalam tim Delphi. Pemuda yang lahir 32 tahun lalu di Jombang ini merupakan satu-satunya peneliti asli Indonesia, sedangkan tujuh orang lainnya berasal dari Jerman.

Berthold Leibinger Innovation Prize merupakan sebuah penghargaan yang diberikan oleh yayasan nirlaba Berthold Lebinger kepada mereka yang berhasil membuat terobosan besar dalam bidang laser dan aplikasinya. Penghargaan berbentuk sayembara yang dianugerahkan setiap dua tahun sekali sejak tahun 2000 ini dibuka untuk peniliti-peneliti dari seluruh dunia.

Tim yang dipimpin oleh Christian Koos ini mendapatkan penghargaan terbaik kedua disebabkan keberhasilan mereka dalam memanfaatkan teknologi laser femtosecond untuk membuat struktur tiga dimensi berupa pandu gelombang (waveguide) dan komponen-komponen optik dalam skala nanometer hingga mikrometer.

Struktur-struktur yang diameternya jauh lebih kecil dari rambut manusia tersebut juga telah dibuktikan manfaatnya dalam berbagai macam aplikasi. Di antaranya yaitu mempercepat aliran transportasi data, baik di dalam sebuah pusat data maupun antar pusat data, sehingga internet dapat diakses dengan lebih cepat serta lebih murah. Tak hanya itu, mereka juga telah berhasil mengadopsi teknologi ini sedemikian rupa agar dapat digunakan dalam dunia industri.

Malam penghargaan, Jumat (21/9) waktu setempat, dihadiri sekitar 600 orang yang mayoritas adalah peneliti-peneliti dari berbagai bidang dan dari berbagai penjuru dunia beserta keluarganya, pejabat kota Ditzingen, hingga pemenang hadiah Nobel tahun 2014 dalam bidang kimia, Stefan W Hell.

Oding yang masih berstatus sebagai mahasiswa S3 di KIT bersama timnya didudukkan di deretan paling depan. Hal ini membuat alumni Teknik Fisika ITS itu sangat gugup mengingat ia menempati deretan yang sama dengan peneliti-peneliti besar seperti Karl Deisseroth dari Universitas Stanford.

Cicit KH Bisri Syansuri Denanyar ini menjelaskan kepada NU Online bahwa ia sangat terharu saat menerima penghargaan tersebut. Ia merasa bahwa pencapaian ini tidak mungkin diraihnya melalui usahanya semata, melainkan lantaran doa-doa dari para sesepuh, keluarga besar, guru-guru, sahabat-sahabat, dan tentu saja kedua orang tuanya.

Ketua PCINU Jerman ini berharap agar hal penghargaan yang diterimanya bisa menjadi indikasi bahwa ilmu yang dipelajarinya bermanfaat dunia dan akhirat, serta dapat mempermudahnya untuk meraih gelar Doktoringeniur (Dr.-Ing) untuk kemudian mengabdi di Indonesia. (Red: Kendi Setiawan/NU Online)

Baca juga:

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar