Buya Hamka dan KHR As'ad Syamsul Arifin Tidak Mau Disebut Ulama

Buya Hamka dan KHR As'ad Syamsul Arifin Tidak Mau Disebut Ulama

Siapakah imam besar umat Islam Indonesia? Jawabannya tidak ada. Karena sebutan imam besar diberikan berdasarkan ittifaq (kesepakatan) para ulama. Lalu siapakah yang disebut sebagai ulama? Jawabannya merujuk kepada dialog antara KHR. As'ad Sjamsoel Arifin, pendiri NU dengan Buya HAMKA.

Ketika mendirikan MUI, KHR As'ad menolak disebut sebagai ulama, karena sebutan itu menurut beliau terlalu berat. Beliau mengatakan bahwa yang pantas disebut ulama itu adalah Buya HAMKA. Merespon ucapan KH As'ad itu, Buya HAMKA menjawab, " jika sekelas KHR As'ad saja menolak disebut sebagai ulama, apalagi cuma saya!"

Dari dialog di atas, dapat disimpulkan bahwa penyebutan gelar ulama tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Padahal, kedua tokoh di atas tidak diragukan lagi kapasitas keilmuannya dan kualitas kepribadiannya sebagai ulama.

Lalu, apakah masih ada orang-orang sekelas beliau berdua hari ini yang layak disebut sebagai ulama?

Jika ada, apakah mereka bersepakat dalam pemberian gelar "imam besar umat Islam Indonesia" di atas?

Di samping itu, sebutan imam besar umat Islam amat berat tanggung jawabnya baik di dunia dan akhirat. Karena sikap, tindakan, serta fatwa-fatwanya wajib diikuti umat Islam. Demikian yang disebutkan di ayat Al-Qur'an:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا)

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

[Surat An-Nisa' 59]

Diriwayatkan dari Ali ibnu Abu Thalib radhiyallahu anhu:

روي عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه قال : حق على الإمام أن يحكم بالعدل ، ويؤدي الأمانة ؛ فإذا فعل ذلك وجب على المسلمين أن يطيعوه

Merupakan kewajiban bagi imam, untuk menetapkan hukum dengan adil, dan menunaikan amanah. Apabila ia telah melakukan itu, wajib atas seluruh muslim untuk taat kepadanya. (dikutip dari Tafsir al-Jami' li Ahkam il-Qur'an karya Imam al-Qurthuby)

Diriwayatkan dari al-Irbadl ibnu Sariyah radhiyyallah anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

اوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة ولو تأمر عليكم عبد حبشي

Aku berwasiat kepada kalian, takutlah kepada Allah, dan mendengar serta taat kepada pemimpin, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak hitam dari Habsyah...

Tentu, dengan konsekuensi seperti di atas, menunjuk seseorang sebagai imam bukanlah perkara main-main. Maka dari itu, para ulama masa lalu, hanya berani menyematkan gelar imam dalam konteks keilmuan. Penyebutan "Imam" kepada seorang alim seperti Imam Muhammad bin Idris As-Syafi'i semata-mata dikarenakan metode dan pendapat beliau dalam masalah hukum agama diikuti secara luas oleh para ulama dan generasi-generasi sesudahnya. Pun demikian dengan sebutan Imam kepada para ulama pendiri mazhab seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad.

Lalu, bagaimanakah dengan sebutan "imam" yang telah diberikan kepada seseorang? Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada beliau, kiranya status sebutan itu hampir tidak berbeda dengan status para imam mazhab fikih. Imam As-Syafi'i disebut sebagai imam oleh para murid dan pengikutnya. Sedangkan para murid dan pengikut Imam Ahmad, seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, hanya menyebut Imam As-Syafi'i cukup dengan As-Syafi'i saja. Begitu pun dengan yang lain.

Yang terpenting dari semua itu adalah bahwa imam besar umat Islam adalah Rasulullah Muhammad sholla Allahu alayhi wa sallam berdasarkan Surat 17:71

(يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ ۖ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَٰئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا)

(Ingatlah), pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya; dan barang siapa diberikan catatan amalnya di tangan kanannya mereka akan membaca catatannya (dengan baik), dan mereka tidak akan dirugikan sedikit pun.

Tulisan ini tetap memuliakan orang yang disebut sebagai imam besar umat Islam.

--
Dishare dari Tulisan KH Abdi Kurina Djohan

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar