Selasa, 24 April 2018

Subhanallah! Mbah Maimoen Menjawab Semua yang akan Ditanyakan Oleh Wartawan

Dishare dari Sobih Adnan

MusliModerat.net - Saya menulis 15 pertanyaan, kemudian dipadatkan menjadi 5 saja. Sebelum sowan, saya hafalkan dan memaparkannya di hadapan teman-teman kameramen agar sama-sama mengingatkan jika di satu-dua segmen ada yang terlewat.

Turun jemaah Magrib, Mbah Maemoen Zubair, narasumber tunggal tentang tema Islam, Pesantren, dan Keindonesiaan itu sudah ditunggu puluhan tamu. Ketika mereka dipersilakan masuk ke 'ndalem, jatuhnya, seruangan penuh.

Kami berdesakan, deg-deg pyar, lantaran secara hitung-hitungan tak akan mendapatkan posisi tangkap gambar yang diinginkan.

Semenit- dua kemudian, Mbah Moen menanyakan asal tamu, satu-satu. Hingga jatuh giliran saya. Anehnya, pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang Jawa Tengah itu tak memberi sapaan serupa. Beliau malah meminta kami agar bersabar barang sebentar untuk mengatur posisi bisa lebih nyaman. Belum juga saya mengaturkan keluh kesah, Mbah Moen sudah mampu menebaknya.

Beliau mempersilakan kami memasang tripod dan kamera berjarak selangkah di depan tempat duduk. Tamu-tamu pun dipersilakan menepi sejenak. Proses wawancara dimulai.

Mbah Moen, menanyakan ihwal apa yang perlu ia jawab. Saya pancing pakai pertanyaan sederhana, santri ideal menurut Mbah Moen, seperti apa?

Mbah Moen langsung menjawabnya dengan runut. Dari penjelaskan tentang standar sikap orang-orang saleh zaman Nabi, hingga yang dibutuhkan pada hari ini.

Tak disangka, pemaparan yang teramat luas dan mendalam itu hingga menyita waktu lebih dari 10 menit, padahal, kami rencanakan separuhnya saja.

Hati saya kembali gusar. Baru sempat bergumam, bagaimana cara menyalip ke pertanyaan kedua, tentang pandangan pesantren terkait Pancasila.

Dan subhanallah. Ketika saya masih terlongo memikirkan bahasa dan cara, beliau langsung menyambut, bak sudah jelas didengar telinganya. Mbah Moen bilang, "Pancasila itu sudah selaras dengan nilai-nilai yang dibangun agama Islam. Sebab....."

Tentu terkejut bukan kepalang. Pertanyaan belum terlontar, sang narasumber sudah menyambutnya dengan jawaban yang dibutuhkan.

Sebagai jurnalis, yang wajib sedikit banyak menyimpan rasa skeptis, tetap tak gampang percaya. Kesinambungan semacam itu, saya anggap cuma kebetulan belaka.

Hingga kejadian pun berulang. Di poin ketiga yang sudah kami karang dan tiba waktunya untuk dipaparkan, saya coba cukup bunyikan di hati saja.

Dan wallahi, Mbah Moen menjawabnya lugas, terang, persis yang kami inginkan.

Tidak cuma saya yang tercengang, dua kawan kameramen pun, saling menatap heran. Akhirnya, saya lepaskan semua pertanyaan meski cuma di ruang dada. Dan Mbah Moen secara berurutan menjawabnya. Tidak cuma lima, tapi dikembangkan menjadi sembilan tema, nyaris sepenuh list pertanyaan yang dirancang sebelum bertatap muka.

Kami beruntung, mendapat jawaban seabrek hingga memakan waktu sejam. Mbah Moen menjawabnya dengan kalimat menakjubkan, "Jadi, maaf, kalau dalam wawancara ini saya tidak bisa menjawab pertanyaan sesuai dengan keinginan saudara." Jelas, kami mendengarnya serupa ledekan.

Selain wartawan, nuansa kesantrian di dada ini masih ada. Memotong pembicaraan Mbah Moen, nyaris pasti menjelma pekerjaan berat. Tapi saya berkesimpulan, siapapun presenternya, aura kharismatik yang dimiliki Mbah Moen tetap akan menghadirkan suasana yang sama.

Mbah Moen, tiap kali menatap mata ini selayak host televisi membaca naskah dari teleprompter di seberangnya. Semuanya seakan terang benderang, barangkali hingga perkara utang dan segunung persoalan yang kami punya secara personal. Ha.ha...

Matur nuwun sanget, Mbah Moen. Semoga kami bisa kembali dan menyaksikan lagi keajaiban ini.

Stasiun Tawang, Semarang, 23 April 2018
Advertisement

Advertisement