Pada Zaman Dulu,  Isu Larangan Adzan Memantik Pemberontakan di Banten

Pada Zaman Dulu, Isu Larangan Adzan Memantik Pemberontakan di Banten

MusliModerat.net - Aku tak tahu syariat Islam / Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok / Lebih merdu dari alunan azanmu.

Demikian penggalan puisi yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri dalam acara peragaan busana Anne Avantie, Kamis (29/3). Kontroversi pecah, dan sejumlah pihak melaporkan Sukmawati ke polisi lantaran dianggap melecehkan Islam.

Di Banten, lebih dari seabad silam, kumandang azan menjadi pemicu pemberontakan masyarakat terhadap pemerintah Belanda. Alkisah, sebuah langgar berdiri di kebun Haji Makid yang bersebelahan dengan kebun milik Asisten Residen Cilegon Johan Hendrik Hubert Gubbels. Langgar itu dilengkapi dengan menara bambu setinggi 10 meter. Azan penanda salat lima waktu selalu berkumandang dari menara itu.

Kegiatan zikir pun sering digelar Haji Makid bersama rekan dan warga sekitar. Istri Gubbels, Anna Elizabeth van Zutphen, yang tengah menderita sakit kepala kronis mengeluhkan kerasnya suara azan dan kegiatan zikir yang berlangsung hingga larut malam.



Tapi keluhan Anna disampaikan dengan cara tak elok. Patih Raden Penna mendatangi Haji Makid dengan kata-kata menghina untuk menyampaikan keluhan.

"Bahwa tidaklah perlu bersembahyang dengan suara keras, bukan hanya karena hal itu mengganggu tetangga mereka, tetapi juga karena Tuhan tidak tuli," tulis Sartono Kartidirdjo dalam bukunya, Pemberontakan Petani Banten 1888.

Keluhan tersebut kemudian merembet pada kegiatan-kegiatan lain. Muncul desas-desus seolah pemerintah Belanda melarang warga untuk merayakan perkawinan dan khitanan dengan arak-arakan mewah. Juga melarang takbiran, memainkan musik gamelan, dan menggelar pertunjukan tari-tarian. Warga di sekitar Cilegon pun resah.

Mayoritas warga yang sejak awal tak suka dengan pihak penguasa kian benci. Hingga kemudian meletus pemberontakan yang dikenal dengan Geger Cilegon pada 9 Juli 1888.

Ada 17 orang tewas yang menjadi korban para pemberontak, termasuk Gubbels, istrinya, dan dua anak perempuannya. Sedangkan tujuh orang mengalami luka-luka. Di pihak pemberontak, 30 orang tewas, 11 di antaranya digantung, dan 13 terluka.

"Memang tidak mudah memahami arti dari desas-desus ini, tetapi kiranya sudah cukup jelas bahwa kegelisahan di kalangan penduduk tersebut sangat membantu usaha mempersiapkan kondisi yang menguntungkan bagi pemberontakan di daerah itu," tulis Sartono di buku itu. 


Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Sultan Maulana Hasanuddin, Serang, Mufti Ali, menyebutkan desas-desus soal larangan mengumandangkan azan dan berbagai larangan lainnya merupakan fenomena gunung es.

Sejak awal, warga Cilegon, yang merupakan pindahan dari daerah lain di Banten yang menjadi korban Gunung Krakatau pada 1883, tak akur dengan orang-orang Belanda.

Isu tersebar begitu cepat karena kesalahpahaman. Orang Cilegon belum bisa hidup berdampingan dengan orang Belanda. Sebab, orientasi kebudayaan maupun agamanya sangat berbeda. "Salah satunya soal azan itu. Ini fenomena gunung es," jelasnya melalui telepon.

Sartono tak menjelaskan akhir persidangan penyebaran kabar angin oleh Haji Makid itu. Namun lampiran orang-orang terhukum dalam buku Pemberontakan Petani Banten 1888 yang ditulisnya, Haji Makid masuk dalam daftar orang yang dibuang ke Banda setelah Geger Cilegon dipadamkan oleh Belanda.

Pascapemberontakan, Haji Makid dihadapkan ke pengadilan. Dia didakwa telah menyebarkan desas-desus yang menebar kebencian terhadap Belanda. Bersama 94 orang pemberontak, dia dibuang ke Banda.

Source: detik.com

Baca juga:

Apa Komentar anda?