[Bukan Puisi] Kopi Ibu Indonesia

[Bukan Puisi] Kopi Ibu Indonesia

Dishare dari A Khoirul Anam

MusliModerat.net - Ingin rasanya menyusun puisi tentang kopi bikinan ibu Indonesia. Tapi saya bukan anaknya Bung Karno, jadi saya tidak berpuisi, saya bercerita saja, dan tentang ibuku sendiri, bukan ibu Indonesia. Ibuku selalu memakai kerudung. Generasi muslimah zaman old banget belum akrab dg istilah jilbab, atau hijab, dan tidak mengkin berpikir akan memakai cadar. Satu lagi, ibuku dari keluarga santri di kawasan pesisiran sehingga tidak mungkin memakai konde. Ceritanya begini:

Kami biasa shalat berjamaah shubuh di masjid yang cukup luas, bisa menampung 300 jamaah. Tapi, setiap shubuh, hanya ada satu shaf jamaah laki-laki dan dua shaf jamaah perempuan. Meski begitu jumlah laki-laki perempuan kira-kira sama, karena ibu-ibu di shaf sebelah kiri yang hanya disekat kain semua membawa sajadah sendiri sehingga agak menyita tempat. Shaf ibu-ibu memang ada di samping kiri bukan belakang seperti anjuran fiqih, tapi tidak masalah dengan itu dan tidak ada yang mengatakan kami tidak mengerti syariat Islam.

Rata-rata jamaah adalah satu keluarga, ayah-ayah dan ibu-ibu yang berangkat bareng dari rumah yang berusia di atas 40 tahun. Memang (dulu) jamaah shubuh hanya orang-orang tua dan sedikit anak kecil yang ikut orang tuanya bangun. Para pemuda dan pemudi serta ayah-ibu muda masih terlelap. Karena lama tak ada yang nongol, kadang-kadang ayahku sendiri yang adzan. Tidak jadi soal apakah adzan itu merdu atau tidak, tapi dulu sebelum ada HP melantunkan adzan mekah setiap orang punya lagu adzan sendiri-sendiri yang khas.

Karena ini tentang kopi, maka ceritanya begini. Ibuku biasanya pulang jamaah shubuh lebih dulu. Sementara ayahku menyusul agak lama. Ada saja yang dibacanya setelah berdoa. Tapi dengan pola seperti itu, dipastikan ketika sampai rumah, kopi sudah siap. Ini bukan kopi asli tapi dicampur jagung. Aku tahu persis cara membuatnya. Pertama kopi mentah kering dimasukkan dulu ke dalam nanangan (panci dari tanah) sampai agak menghitam baru jagung kering yang sudah ditumbuk agak kecil dimasukkan.

Setelah campuran itu sudah sama menghitam, masih dalam keadaan panas dimasukkan ke dalam lumpang dari tembaga lalu ditumbuk dengan alu. Dug dug dug. Ehm baunya sudah enak, kadang kadang-kadang ibuku agak marah kalau aku yang menumbuk lalu biji kopinya mencar keluar. Ibuku pernah mengeluh ketika itu, aku belum terlalu mengerti tapi kira-kira begini, ayahmu minta kopi asli tapi kasih uang belanjanya sedikit sehingga kopi dicampur jagung dan tidak maslah dengan kepalsuan itu, rasa kopinya pun aduhai.

Sambil minum kopi-jagung itu, ayahku menghembuskan beberapa batang rokok, sambil melihat-lihat asapnya membumbung. Harga rokoknya dulu 450 rupiah. Aku sering menawarkan diri untuk membelikan rokok karena pasti ada sisa 50 rupiah, lumayan senilai separuh uang jajan sekolahku. Entah kapan ayahku berhenti merokok. Tapi yang kuingat saat berangkat ke pesantren ia masih merokok. Setelah beberapa tahun aku pulang, ayahku sudah tidak merokok. Kalau ada orang bertamu bawa rokok ke rumah, aku bilang Alhamdulillah ini buatku.

Saat aku berkeluarga, ayahku beranjak sepuh dan sudah tidak minum kopi, ganti teh. Tapi ibu masih selalu menyimpan kopi. Kalau aku pulang kampung, ibu selalu menawari aku kopi. Ehm.. nikmatnya tidak tergantikan, mungkin seperti itu dulu ayahku menikmati kopi bikinan ibuku. Sekarang ayahku sudah almarhum, dan aku pergi jauh ke kota. Nah inilah bagian bapernya: Entah kopi ibuku itu buat siapa sekarang.

Baca juga:

Bagaimana Menyikapi Habib Bahar?

Bagaimana Menyikapi Habib Bahar?

Apa Komentar anda?