Sabtu, 17 Maret 2018

Tidak Percaya Diri Secara Intelektual di Persidangan, HTI Membully di Media Sosial

MusliModerat.net - Tadi pagi, selepas badminton di kantor LIPI, sebuah nomer telepon yang tidak saya kenal masuk. Entah mengapa saya mengangkatnya. Keringat masih bercucuran deras.

"Assalamu'alaikum Mas Amin, apa kabar? Ini Ishom...", demikian lelaki di ujung sana menyapa.

Masih kaget dengan sapaan itu, saya segera mengenali suaranya. Tak salah lagi, itu suara KH Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriyah PBNU. Kami pernah bertemu beberapa bulan lalu.

"Ternyata HTI ini nggak ada apa-apanya secara intelektual. Saya kemarin bersaksi di persidangan. Ternyata Ismail Yusanto itu nggak menguasai khazanah keislaman secara mendalam. Pengetahuannya tampaknya didasarkan pada sumber yang sangat terbatas, malah mungkin sebagian adalah terjemahan ..."

Demikian Pak Ishom bercerita. Menurutnya, HTI jelas akan merongrong NKRI. Mereka ingin mengubah ideologi negara Pancasila dengan khilafah.

"Sesungguhnya khilafah adalah konsep yang penting dalam Islam. Allah mewajibkan kita menegakkannya. Tetapi pertanyaannya, khilafah seperti apa? Tentu bukan khilafah seperti dipercaya oleh HTI. Para ulama NU memaknai khilafah secara substantif. Pancasila adalah konsensus para pendiri bangsa yang merupakan perwujudan dari khilafah itu!"

Panjang lebar Pak Ishom menjelaskan. Ternyata beliau juga mengirim kepada saya via WA sebuah tulisan 14 halaman yang kemarin dibacakan di persidangan. Secara lengkap beliau membahas berbagai argumen yang menunjukan bahwa konsepsi khilafah HTI adalah ilusi. Menurut Pak Ishom, konsepsi mereka hanyalah satu penafsiran dari sekian banyak penafsiran mengenai khilafah yang sangat dipaksakan!

"Tapi mereka mem-bully saya habis-habisan di media sosial. Begitulah kelakuan kelompok yang tidak percaya diri secara intelektual. Saya tidak takut. Saya akan terus berbicara!"

Ah, untunglah ada ulama seperti Pak Ishom. Dan betapa senangnya saya karena beliau mau berdiskusi dengan pegawai negeri golongan rendahan ini meski cuma via telpon. Mungkin kapan-kapan kita juga bisa bersama-sama main badminton.

Status Facebook Amin Mudzakkir
Advertisement

Advertisement