Subhanallah, Syair Ya Lal Wathan Menggema di Gunung Fujiyama Jepang

Subhanallah, Syair Ya Lal Wathan Menggema di Gunung Fujiyama Jepang

MusliModerat.net - Diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu perjuangan Ya Lal Wathan,  sejumlah aktivis NU dari Indonesia dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang mengibarkan bendera NU di kawasan Gunung Fujiyama, Jepang, Senin (6/2).

Pengibaran bendera ini merupakan misi tadabur alam yang dipimpin oleh Pengurus Lembaga Dakwah PBNU KH Muhammad Nur Hayid pada kunjungan ke Negeri Sakura untuk menjadi pembicara pada acara Muslimpreneur 2018 yang dilaksanakan oleh PCINU Jepang.

"Hubbul wathan minal iman. Orang yang ngaku punya agama, ngaku punya iman pasti dia cinta kepada tanah airnya," kata Sekjen Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) ini didampingi tiga orang calon komandan Banser NU Jepang yang ikut misi tersebut.

Pria yang akrab disapa Gus Hayid ini menambahkan, walaupun saat ini berada di negeri orang, para aktifis dan pengurus NU di Jepang ini tetap mencintai Indonesia.

"Puluhan tahun mereka di Jepang namun Indonesia tetap dalam belahan jiwa mereka. Para aktivis ini adalah para pejuang Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah di Negeri Sakura yang siap menyiarkan Islam Rahmatan lil alamin ke seluruh penjuru Jepang," terang Gus Hayid.

Selain tadabur alam di pegunungan yang menjadi ikon kebanggaan bangsa Jepang ini, Gus Hayid dan para aktivis NU ini juga melakukan kegiatan dakwah dengan menggelar ngaji kitab kuning bersama di kawasan pegunungan Fujiyama. Pentingnya berdzikir kepada Allah melalui ayat-ayat Al Quran diangkat oleh Gus Hayid sebagai materi pembahasan.

"Kita juga melakukan kegiatan khataman Al Qur'an dan berdoa semoga ikhtiar perjuangan dan dakwah aktivis  PCINU Jepang akan diberikan kelancaran serta mendapat ridho dari Allah SWT," jelasnya.

Selain Muslimpreneur 2018, berbagai kegiatan ke-NU-an akan dihadiri oleh Gus Hayid dan rombongan sampai dengan 13 Maret 2018 mendatang. Di antaranya adalah Jepang Bershalawat, seminar interaktif, dan kajian-kajian shubuh di masjid-masjid di Jepang. (Red: Muhammad Faizin/NU Online)

Baca juga:

Apa Komentar anda?