Jumat, 16 Maret 2018

Rais Syuriah PBNU: Ide HTI Dirikan Khilafah Mengkhianati Konsensus Kebangsaan

MusliModerat.net - Organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sengaja mengutip ayat al-Qur’an yang menyebutkan kara khalifah. Kemudian, HTI mengutip penjelasan para mufassir terkait hukum nashb al-imam (pengangkatan pemimpin). 

Demikian disampaikan Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin dalam lanjutan sidang gugatan pembubaran HTI, di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta Timur, Kamis (15/3).

"Klaim tersebut pada hakikatnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan upaya penegakkan kembali khilafah sebagaimana yang dimaksudkan dan diperjuangkan HTI. Yakni, dalam makna sistem politik dan pemerintahan atau bentuk negara," tegasnya.

Pria kelahiran Bandar Lampung itu menyebut bahwa HTI telah mengkhianati konsensus atau kesepakatan kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pasalnya, NKRI merupakan hasil kesepakatan final bersama seluruh rakyat Indonesia dalam mendirikan negara.

"Ide dan tujuan HTI yang berjuang untuk mendirikan negara bebentuk Khilafah Islamiyyah adalah bentuk pengkhianatan atas konsensus kebangsaan (al-mu'ahadah al-wathaniyyah). Dan bukti nyata perlawanan terhadap kesepakatan final seluruh rakyat Indonesia tentang bentuk negara kita," ungkap Kiai Ishom, sapaan akrabnya.

Menurutnya, perilaku HTI jelas menentang sikap kebangsaan dan kenegaraan seluruh pendiri bangsa. Khususnya, perjuangan mendirikan NKRI yang tidak bisa dipisahkan dari perjuangan para ulama, kiai, santri, dan warga NU.

"Pernyataan tersebut bukanlah omong kosong karena dapat dibuktikan dengan banyaknya tokoh NU yang bergelar sebagai pahlawan nasional,” katanya sembari menyebut sejumlah ulama dan kiai. Di antaranya Hadlratussyeikh KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Zainul Mustofa Tasikmalaya, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Idham Chalid, dan KH As'ad Syamsul Arifin dari Situbondo. (Aru Elgete/Ibnu Nawawi/NU Online)
Advertisement

Advertisement