Meneladani Keikhlasan Kiai Aqil Siroj, Ayahanda KH Said Aqil Siroj

Meneladani Keikhlasan Kiai Aqil Siroj, Ayahanda KH Said Aqil Siroj

MusliModerat.net - KH. Aqil Siroj adalah ayahanda dari Ketua Umum Pengurus Besar Nhdhatul Ulama (PBNU). Beliau wafat pada tahun 90-an. Beliau adalah putra dari Kiai Siroj bin Kiai Said, pendiri Pondok Pesantren Gedongan, Cirebon dan sekaligus menantu dari Kiai Harun, pendiri Pondok Pesantren Kempek, Cirebon.

Kiai Aqil dikaruniai 5 anak laki-laki yang kelak akan melnjutkan estafet perjuanganya.

Berkat kegigihannya dan ketekunan dalam mendidik dan merawat putra-putranya, semua nya berhasil menjadi panutan ditengah-tengah masyarakat. Mereka secara berurutan adalah:

1. KH. Ja’far Aqil Siroj (wafat 1 April 2014)
2. Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA. 
3. KH. Musthafa Aqil Siroj
4. KH. Ahsin Syifa Aqil Siroj (wafat 12 April 2015)
5. KH. Ni’amillah Aqil Siroj

Kiai Ja'far adalah putra pertama yang berhasil mengembangkn pesantren MTM Kempek (Madrasah Tahdzibul Mutsaqofien) menjadi salah satu pesantren terbaik di Pulau Jawa dengan Al-Qur'an dan Nahwu-Shorof sebagai ciri khasnya, dengn jumlah santri hampir mencapai 5000. Beliau juga secara berturut-turut dipercaya menjadi Ketua MUI Kab Cirebon selama dua periode.

KH Said Aqil adalah putra kedua, yang sekarang masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum LPOI (Lembaga Persahabatan Ormas Islam) dan sebagai anggota PKP PIP (Pembantu Kerja Presiden Penguatan Ideologi Pancasila)

KH Mustofa Aqil adalah putra ketiga, beliau adalah menantu dari Mbah Yai Maimoen Zubair, pengasuh Pondok Pesantren sarang. Beliau pun adalah Ketua Umum ASBIHU NU dan Ketua Umum Majlis Dzikir Hubbul Wathon.

KH Ahsin Syifa Aqil dan KH Niamillah Aqil adalah putra keempat dan kelima yang telah berhasil melahirkan kader-kader hebat level regional maupun nasional.

Kiai Said Aqil pernah bercerita tantang sosok Ayahandanya.

“Ayah saya jangankan punya sepeda ontel, beli rokok pun tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kacang hijau, pergilah ia ke pasar di Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu" Tutur Kiai Said menceritakan keadaan ayahandanya semasa hidupnya.

"Setelah kacang hijau hasil panenannya berhasil dijual dan mendapatkan sejumlah uang yang cukup, Kiai Aqil berniat untuk membeli emas yang akan diberikan untuk Nyai Afifah, Istrinya".

Setelah emas terbeli Kiai Said langsung menaiki becak untuk menuju tempat pemberhentian mobil. Begitu mobil melintas di depannya, langsung saja beliau segera turun dari becak dan menaiki mobil yang kebetulan lewat tepat didepanya ketika beliau datang, beliau tidak mau ketinggalan kesempatan, karena untuk bisa menaiki mobil angkot perlu berjam-jam lamanya menunggu. Sampailah akhirnya Kiai Aqil Siroj di Kempek.

Begitu masuk ke dalam rumah, istrinya yang sebelumnya sudah mengetahui akan dibelikan emas menunggu kedatangan Kiai Aqil.

“Bah, mana emas yang Abah beli dari pasar tadi?” Dengan tenang sang Kiai Aqil menjawab: “Lupa Mi. Tadi sewaktu Abah naik becak keburu mobil datang, Abah khawatir ketinggalan mobil. Emas itu ya tidak terpikirkan dan ketinggalan di becak. Ya sudah Mi memang belum rizki kita.”

Begitulah sosok Kiai Aqil, memberikan contoh kepada keluarganya akan keikhlasan atas sesuatu yang bukan rizqinya.

Baca juga:

Apa Komentar anda?