Kamis, 22 Maret 2018

Meluruskan Ajaran Aqidah Hizbut Tahrir dalam LKS Kelas 6 SD

Dishare dari Tulisan K Hafidz Ghozali

Penulis sungguh kaget ketika menelaah LKS Madrasah Ibtidaiyyah kelas 6 semester gasal. Dalam LKS tersebut pada halaaman 7-8 ketika membahas tentang makna iman kepada qadla dan qadar disebutkan:
1. Cara untuk merubah ketentuan Allah yang belum terjadi adalah dengan ikhtiyar atau kasab. Ikhtiyar atau kasab artinya usaha atau amal manusia
2. Cara kedua untuk merubah taqdir Allah adalah dengan do’a
3. Karena bila usaha dan do’a kita terkabul kita harus yakin hal itu karena ilmu dna klebijaksanaan Allah, dan bila tidak berhasil itu semata-mata karena kebodohan dan kelemahan kita.

Pernyataan-pernyataan di atas sungguh sangat miris dan membahayakan aklidah, sebab pernyataan-pernyataan di atas memberikan pemahaman bahwa sebagaian taqdir Allah itu dapat dirubah oleh manusia dengan usaha dan do’a. Dan bahwa manusia itu dapat menentukan taqdirnya sendiri. Sedangkan pernyataan nomor 3 memberikan pengertian bahwa keburukan itu berasal dari manusia sendiri.

Aqidah sebagaimana dituturkan di atas adalah aqidah qadariyyah yang sekarang dianut oleh Hizbut Tahrir (HT) Aqidah ini bertentangan dengan aqidah Aswaja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
القَدَرِيَّةُ مَجُوْسُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ
Qadariyyah adalah Majusinya ummat ini.

Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa segala seuatu yang terjadi di alam semesta ini adalah terjadi dengan qadla dan qadar Allah ta’aalaa. Ahlussunnah juga meyakini bahwa seluruh sifat Allah adalah azaliyah (tanpa permualaan) dan abadiyyah (tanpa akhiran), tidak berubah, termasuk sifat iradah (kehendak Allah) dan ilmu Allah ta’aalaa. Apapun yang telah Allah kehendaki pada azal maka pasti terjadi dan apapun yang tidak Allah kehendaki pada azal pasti tidak terjadi. Rasulullah bersabda:
مَاشَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ
“Apapun yang Allah kehendaki pada azal terjadi maka pasti terjadi dan apapun yang tidak Allah kehendaki pada azal maka pasti tidak terjadi”

Benar bahwa taqdir Allah terbagi menjadi dua bagian; mubram dan mu’allaq. Namun pengertiannya bukan berarti bahwa sebagian taqdir Allah dapat berubah.

Taqdir mubram adalah ketentuan yang azali yang tidak dapat berubah, tidak ada satupun yang bisa menolaknya, tidak doa, sedekah dan silaturrahim. Contohnya adalah sa’adah (mata husnul khatimah) dan syaqawah (mati su`ul khatimah) dan waktu datangnya hari kiamat.

Sedangkan taqdir mu’allaq adalah ketentuan yang dalam shuhuf (catatan) malaikat yang telah mereka kutip dari lauh al mahfudz digantungkan pada do’a, nadzar atau yang lainnya. Misalnya dalam shuhuf tersebut tertulis apabila si Fulan berdo’a maka keinginannya akan terwujud dan apabila tidak berdo’a maka keinginannya tidak terwujud. Para malaikat tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh si Fulan tersebut, apabila ia berdoa maka berarti perbuatannya menolak/merubah salah satu dari dua qadha` tersebut, dan tidak menolak qadha’ Allah ta’aalaa yang merupakan sifatnya. Karena Allah ta’alaa telah menentukan pada azal apa yang akan dilakukan oleh si fulan tersebut.

Qadha` inilah yang dimaksud oleh sebuah hadits yang diriwayatkan imam Hakim dan imam Tirmidzi:
لاَ يَرُدُّ اْلقَضَاءَ إلاَّ الدُّعَاءُ
Maknanya: “Tidak ada yang menolak qadha`(yakni qadha` mu’allaq) kecuali do’a”
Taqdir mu’allaq tidak berarti bahwa qadha` Allah bisa berubah. Namun dalam pengetahuan Malaikat dalam catatannya, Allah memberikan pilihan kepada manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu yang menjadi sebab terwujudnya sesuatu yang diinginkan oleh manusia seperti berdo’a, silaturrahim, sedekah, bekerja keras, rajin belajar dan seterusnya, sehingga apa yang diinginkan oleh manusia berupa umur panjang, kebahagian, bebas dari musibah, kaya, pandai dan seterusnya dapat terwujud. Meskipun dalam pengetahuan Allah, Allah telah mengetahui dan menentukan pilihan manusia tersebut dan sesuatu yang terjadi padanya.

Adapun firman Allah :
( إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ) 
Maknanya :“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu qoum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri,” (QS. al-Ra’d:11)

Ayat ini tidak menunjukkan bahwa taqdir Allah bisa berubah, tetapi ayat tersebut terkait dengan taqdir mu’allaq, bahwa apabila suatu kaum menginginkan sebuah perubahan pada diri mereka maka mereka harus melakukan sebab-sebab yang bisa menghantarkan pada perubahan tersebut, yaitu dengan beriman kepada Allah ta’aalaa. Allah telah mengetahui terhadap sesuatu yang akan dilakukan oleh kaum tersebut (melakukan perubahan dari kufur ke iman atau tidak), tetapi bagi Malaikat perubahan keadaan mereka masih mu’allaq (tergantung) pada apabila mereka mau melakuan perubahan yang dalam hal ini adalah beriman kepada Allah ta’aalaa. 

Jadi bukan Allah menunggu usaha manusia kemudian jika ia berkehendak maka ia merubahnya.
Advertisement

Advertisement