MCA: Munafiqun Cyber Army

MCA: Munafiqun Cyber Army

Muslimoderat.net - Dalam sejarah, Rasulullah Saw yang selalu dibimbing langsung oleh Allah SWT dalam setiap dakwah dan jihadnya itu tidak pernah mengalami kekalahan dalam setiap peperangan yang beliau lakukan kecuali pada perang Uhud. Hingga 313 orang muslim pun nyatanya bisa mengalahkan tiga ribuan orang kafir dalam perang Badar.

Kenapa perang Badar umat Islam bisa menang padahal jumlah mereka lebih sedikit daripada orang kafir? Jawabannya adalah karena kuatnya iman, kuatnya hati dan kuatnya kesabaran umat Islam dalam menghadapi para musuh-musuh Islam. Hingga tajamnya ribuan pedang orang kafir tak mampu menembus jasad ratusan umat Islam karena tajamnya hati dan kuatnya benteng keimanan umat Islam.

Namun, kenapa perang Uhud umat Islam bisa kalah, padahal umat Islam berimbang jumlah dengan orang-orang kafir? Jawabannya adalah karena banyaknya orang munafiq yang ikut serta dalam barisan Rasulullah Saw. Sehingga tajamnya pedang orang kafir begitu mudahnya menembus jasad umat Islam yang rapuh karena tumpulnya hati dan lemahnya benteng keimanan orang-orang Islam akibat banyak diantara mereka yang hanya diliputi kepentingan untuk mendapatkan kemenangan semu ala ‘tegaknya panji Islam’, karena dengan begitu mereka bisa menikmati jarahan perang dan berlimpahnya kekayaan.

Munafik adalah gambaran dari tidak sinkronnya fikiran dengan amal perbuatan. Karena fikiran mereka selalu ingin membela Islam, simbol-simbol Islam dan menegakkan panji Islam. Namun perbuatan mereka yang didasari kebodohan itu justru menjadikan Islam menjadi ternistakan.

Munafik adalah gambaran tentang kontradiksinya hati dengan ucapan. Hati mereka begitu kotor bahkan mengalami pembusukan akibat dendam dan kebencian. Namun ucapan mereka begitu manis dengan dalil-dalil suci Tuhan tersumpah serapahkan. Seakan merekalah manusia-manusia paling suci dan pemilik otoritas kebenaran. Sehingga tidak ada yang terucapkan dari mulut mereka kecuali fitnah hoax dan ujaran kebencian.

Munafik adalah gambaran dari hebatnya penampilan tapi tidak dibarengi baiknya kelakuan. Penampilan mereka begitu memukau dengan jilbab imamah kebesaran serta jubah kenabian. Wajah mereka sekilas nampak begitu Islami dengan jenggot dan jidat hitam. Namun kelakuan mereka begitu hina dan penuh kemunkaran karena tak ubahnya seperti perilaku setan.

Munafik adalah gambaran tentang amanah umat yang disampaikan dengan pengkhianatan. Mereka memonopoli segala atribut ke-Islam-an, namun nyatanya perilaku mereka jauh dari akhlak Islam. Mereka begitu mudah menggunakan atribut Syari’ah, namun diaktualisasikan dengan perilaku dosa yang menghinakan. Dan begitu mudah mereka menyandarkan perilaku yang penuh syahwah dengan label as-Sunnah, namun justru jauh dari uswah hasanah dan akhlak Rasulullah Saw.

Munafik adalah dosa-dosa besar yang ditumpuk diatas manisnya janji pertaubatan. Karena mereka menghalalkan kekejian fitnah dengan dalih dakwah Islamiyah. Mereka menularkan jiwa kebencian dengan alasan demi tegaknya khilafah Islam. Dan mereka begitu lantang memekikkan ‘Allahu akbar’ namun hati dan fikiran mereka tidak dipenuhi jiwa rahmah kecuali syahwat ingin meraih kekuasaan agar mereka segera bisa menikmati indah dunia dengan syahwat dan kekayaan.

Benar kata Imam Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin:
“Syariah tanpa hakikat hanya melahirkan kemunafikan”.

Dalam kontekstualisasi sekarang, kalam hikmah tersebut memiliki makna bahwa, orang yang memiliki semangat ber-Islam tapi tidak dibarengi dengan pemahaman terhadap hakikat Islam itu sendiri maka dia hanya akan tumbuh menjadi seorang muslim yang bodoh dan dipenuhi sikap kemunafikan.

Ujaran kebencian dianggap pahala, kejinya fitnah hoax dianggap surga, dan membunuh sesama dianggap mulia.

Maka, jika kemunafikan-kemunafikan para pemonopoli surga ini diteruskan dan penguasa sekaliber Polri membiarkan, jangan menyesal jika suatu saat umat Islam di bumi NKRI ini hanya akan menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan tak berdaya di ‘medan perang Uhud’ ala Indonesia.

Jika umat Islam yang tahu kemunkaran mereka ini mengabaikan mereka, jangan menyesal jika impian umat akan ‘kemenangan perang Badar’ umat Islam Nusantara itu hanya akan menjadi utopia dan cerita Indah dalam penyesalan sejarah belaka.

Karena musuh kita saat ini bukanlah sekedar dominasi Amerika dan Yahudi Israel yang berada di seberang lautan sana. Tapi musuh sesungguhnya umat Islam adalah kemunafikan dan kebodohan umat akan makna hakiki dari Islam sehingga begitu mudahnya mereka dikendalikan oleh proxy-proxy luar yang mengatas-namakan Islam dan agama.

Salam serang Islam Nusantara

*Penulis, H. Abu Yazid AM, Ketua RMI PCNU Kabupaten Malang.

Sumber: Nukita.id

Baca juga:

Apa Komentar anda?